Selebgram Sherly Annavita Alami Teror, Ini Isi Surat Intimidasinya
Kasus Sherly Annavita diteror mencuat ke publik setelah kreator konten asal Aceh itu mengungkap serangkaian intimidasi terhadap dirinya.
Ia mengalami tindakan intimidasi usai menyuarakan pandangan kritis terkait bencana di Sumatera.
Teror yang diterima tidak hanya berlangsung di ruang digital, tetapi juga menjurus pada tindakan fisik berupa perusakan kendaraan dan pengiriman surat ancaman.
Lantas, bagaimana teror yang dialami Sherly dan apa isi surat ancamannya?
Dapat teror usai soroti bencana di Sumatera
Sherly Annavita mengaku mulai menerima teror setelah aktif membahas bencana di Sumatera melalui media sosial dan sejumlah acara televisi.
Teror itu datang secara bertubi-tubi, baik melalui pesan pribadi di media sosial maupun tindakan langsung.
Melalui akun Instagram pribadinya, Sherly bercerita tentang pengalamannya menerima teror.
"SAYA DITEROR!!! Yuk bagikan agar jadi kesadaran bersama. DM Instagram dan nomor pribadi sudah berhari-hari tidak luput dari makian dan ancaman. Semoga cara-cara seperti ini tidak lagi dilanjutkan, karena merugikan kita semua sebagai sebuah bangsa," tulisnya, dikutip dari , Kamis (1/1/2026).
Ia berharap praktik intimidasi tidak terus berulang.
"Semoga cara-cara seperti ini tidak lagi dilanjutkan, karena merugikan kita semua sebagai sebuah bangsa. NB lokasi di Jakarta," tambahnya.
Isi surat ancaman dan intimidasi fisik
Selain teror digital, Sherly juga menerima intimidasi fisik. Sejumlah asetnya mengalami perusakan.
Mobil pribadinya dicoret menggunakan cat semprot merah, sedangkan rumahnya dilempari telur busuk oleh orang tak dikenal.
Bersamaan dengan itu, ia menerima surat fisik berisi peringatan.
"Jangan kau manfaatkan bencana di Aceh untuk mencari popularitas murahan dan menambah cuan buat kamu pribadi. Jangan kamu menggiring opini sesat," bunyi surat tersebut, dikutip dari , Kamis.
Terkait perusakan kendaraan, Sherly menuliskan, “Saya diteror. Malam tadi teror jadi semakin jelas ditunjukkan.
Kendaraan Sherly diberi tanda oleh pihak-pihak tertentu.” Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk tekanan psikologis.
Tegaskan sikap kritis bukan serangan politik
Sherly menyebut teror yang dialaminya semakin terasa setelah ia, sebagai warga asal Aceh, menyampaikan pandangan dalam sejumlah program televisi terkait bencana di Sumatera.
Ia juga menyebut bahwa beberapa influencer lain mengalami perlakuan serupa.
Meski demikian, Sherly menegaskan bahwa sikap kritisnya tidak dilandasi kebencian politik atau permusuhan terhadap pemerintah maupun tokoh negara.
"Sherly dan teman influencer lain bukan musuh negara, juga sama sekali bukan musuh Pak Prabowo," tulisnya.
Di akhir unggahannya, Sherly menyerukan agar segala bentuk intimidasi terhadap warga yang menyampaikan pendapat dihentikan. Ia menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak yang dilindungi konstitusi.
"Hentikan teror-teror seperti ini terhadap anak-anak bangsa. Yuk, share agar jadi kewaspadaan bersama," tutupnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang