Iran Pilih Oman Jadi Tuan Rumah Perundingan Nuklir, AS Belum Konfirmasi
Iran memastikan pembicaraan dengan Amerika Serikat tetap berjalan sesuai rencana akhir pekan ini, di tengah meningkatnya tekanan dari Presiden AS Donald Trump yang memperingatkan pemimpin tertinggi Iran agar "sangat khawatir".
Sebelumnya sempat muncul keraguan terkait kelanjutan negosiasi setelah laporan pada Rabu menyebut pembicaraan gagal, yang memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan spekulasi mengenai kemungkinan aksi militer AS.
Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa dialog terkait program nuklir tetap dijadwalkan berlangsung pada Jumat di Oman. Para diplomat sebelumnya menyebut pertemuan itu kemungkinan digelar di Turki.
"Pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat dijadwalkan akan diadakan di Muscat," kata Araghchi dalam unggahan di platform X, sembari berterima kasih kepada Oman "karena telah membuat semua pengaturan yang diperlukan".
Hingga kini belum ada konfirmasi langsung dari pihak Amerika Serikat terkait lokasi maupun jadwal tersebut.
Di sisi lain, Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Dalam wawancara dengan NBC News pada Rabu, ia mengatakan bahwa Ayatollah Ali Khamenei seharusnya merasa cemas.
"Saya akan mengatakan dia seharusnya sangat khawatir, ya, dia seharusnya khawatir," kata Trump. "Seperti yang Anda ketahui, mereka sedang bernegosiasi dengan kami."
Trump juga mengklaim Iran tengah mempertimbangkan pembangunan fasilitas nuklir baru setelah serangan AS terhadap situs nuklir Iran selama konflik dengan Israel pada Juni lalu.
"Mereka berpikir untuk memulai situs baru di bagian lain negara itu," kata Trump kepada NBC. "Kami mengetahuinya, saya berkata, jika Anda melakukan itu, kami akan melakukan hal-hal yang sangat buruk kepada Anda."
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama setelah pemerintah Iran menindak keras gelombang protes domestik yang disebut sebagai salah satu yang paling serius sejak revolusi Islam 1979.
Laporan Berbeda soal Negosiasi
Trump sebelumnya juga mengirim kelompok kapal induk AS—yang ia sebut sebagai “armada”—ke kawasan tersebut. Pada Selasa, salah satu pesawat AS dilaporkan menembak jatuh drone Iran.
Harapan akan terobosan sempat muncul ketika pejabat kedua negara dikabarkan akan bertemu pekan ini. Namun, negosiasi itu dibayangi ketidakpastian terkait waktu dan lokasi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington siap melakukan pertemuan, tetapi menekankan bahwa pembahasan harus mencakup program rudal serta nuklir Iran.
"Jika Iran ingin bertemu, kami siap," kata Rubio kepada wartawan tanpa memastikan jadwal Jumat. "Jika mereka berubah pikiran, kami juga tidak masalah dengan itu."
Rubio menyebut utusan AS Steve Witkoff sebelumnya bersiap bertemu Iran di Turki, tetapi kemudian menerima "laporan yang bertentangan" mengenai persetujuan Teheran. "Itu masih sedang diupayakan," katanya mengenai lokasi pembicaraan, sebelum pernyataan terbaru dari menteri luar negeri Iran.
Dalam perundingan sebelumnya, Iran menolak memasukkan program rudalnya ke dalam agenda negosiasi. Teheran menilai senjata tersebut—yang mampu menjangkau Israel—sebagai bagian dari pertahanan diri yang sah bagi setiap negara.
Tekanan terhadap Iran juga meningkat akibat protes internal serta dampak konflik regional, termasuk melemahnya Hizbullah di Lebanon dan jatuhnya pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang selama ini menjadi sekutu penting Teheran. (CNA)