Suka Duka WFH Jumat, ASN Cemas Dianggap Mangkir Kerja

Suka Duka WFH Jumat, ASN Cemas Dianggap Mangkir Kerja, Tuntutan harus selalu siaga memantau gawai, Kesadaran diri sebagai pengganti kehadiran fisik, Matangkan perencanaan kerja sejak H-1, Pahami karakter atasan untuk bekerja lebih tenang

 Pemerintah secara bertahap menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) pada hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak April 2026.

Langkah ini dirancang untuk menekan polusi udara, serta mengendalikan kemacetan lalu lintas, dengan mengizinkan operasional jarak jauh bagi 25-50 persen pegawai di setiap instansi.

Bagi ASN perempuan yang juga mengemban peran sebagai ibu di rumah, aturan ini sekilas menjanjikan kelonggaran yang sangat didambakan untuk menyeimbangkan rutinitas.

Namun, kenyataan ruang kerja visual ini sering kali tidak seindah bayangan kebebasan tanpa pantauan.

Bayang-bayang anggapan "mangkir" justru kerap menghantui para pegawai apabila mereka tak lekas membalas instruksi instan dari kantor.

Tuntutan tak tertulis untuk selalu siaga secara digital ini pada akhirnya memunculkan bentuk kehati-hatian ekstra ketika memindahkan pusat kegiatan dari meja kantor yang formal menuju hunian masing-masing.

Realita WFH ASN

Tuntutan harus selalu siaga memantau gawai

Bagi Ika Meilani Untari (42), pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Timur, WFH bermakna bahwa dirinya sama sekali tidak bisa lepas dari pengawasan layar perangkat komunikasi.

Ibu dari anak berusia remaja ini merasa beban pekerjaan tidak lantas berkurang, melainkan hanya berpindah tempat operasional, sehingga gawai harus selalu melekat padanya.

"Kalau di rumah itu handphone standby, kemudian laptop standby . Jadi ada WhatsApp Web juga di situ," kata Ika saat dihubungi pada Minggu (3/5/2026).

Lantaran menghuni kediaman berdesain dua lantai, ia harus merancang pergerakannya dengan cermat agar lalu lintas komunikasi kedinasan tetap bisa terjangkau tanpa hambatan fisik saat harus berpindah lantai.

"Jadi, kalau misalkan aku naik, harus bawa handphone gitu. Jadi tuh handphone-nya nempel terus gitu loh kalau di rumah," ujar dia.

Suka Duka WFH Jumat, ASN Cemas Dianggap Mangkir Kerja, Tuntutan harus selalu siaga memantau gawai, Kesadaran diri sebagai pengganti kehadiran fisik, Matangkan perencanaan kerja sejak H-1, Pahami karakter atasan untuk bekerja lebih tenang

Ika Meilani Untari (42), pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Timur.

Kekhawatiran dituding sedang bersantai menikmati waktu rupanya membuat Ika memodifikasi kebiasaan pengaturan gawainya.

Guna mencegah keterlambatan merespons akibat gawai yang tergeletak jauh dari genggaman, penyesuaian khusus pada tingkat volume dering menjadi langkah antisipasi mutlak.

"Nah kalau ini handphone-nya harus lebih gede suaranya, karena khawatir enggak kedengaran ada notifikasi kalau ketinggalan di satu spot di rumah," tutur Ika.

Kesadaran diri sebagai pengganti kehadiran fisik

Menyelami realita dari sudut yang berbeda, Shinta Kurniaputri (34) menanggapi situasi pertukaran jam kerja jarak jauh ini dengan sikap yang jauh lebih rileks.

Ibu dari dua buah hati, Anan (7) dan Shaka (1), tersebut memandang dorongan membalas teks secepat mungkin bukanlah sebuah bentuk intervensi berlebih, melainkan murni konsekuensi logis dari sebuah kesepakatan jarak jauh.

"Karena kan mungkin kalau di kantor aku enggak respons, aku bisa langsung disamperin ke meja atau ke manapun. Cuma kalau di rumah kan satu-satunya cara harus standby handphone sih," kata Shinta saat dihubungi pada Minggu.

Shinta melewati WFH berdampingan dengan balita yang terkadang membutuhkan perhatian seketika, seperti menyusui langsung atau direct breastfeeding (DBF).

Jadi, ia sangat mengerti betapa pentingnya untuk meyakinkan atasan bahwa keperluan yang penting seperti itu perlu dilakukan terlebih dulu.

Suka Duka WFH Jumat, ASN Cemas Dianggap Mangkir Kerja, Tuntutan harus selalu siaga memantau gawai, Kesadaran diri sebagai pengganti kehadiran fisik, Matangkan perencanaan kerja sejak H-1, Pahami karakter atasan untuk bekerja lebih tenang

Shinta Kurniaputri (34), pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Timur.

Usaha untuk tak berjarak dari gawainya, menurut dia, adalah wujud tanggung jawab profesional atas hilangnya visibilitas fisik di area perkantoran.

Ia melanjutkan, kecemasan dinilai abai sebenarnya bisa ditekan jika ASN selalu berkoordinasi dengan rekan setim tentang apa yang sedang atau akan dilakukan, baik yang memengaruhi pekerjaan secara langsung maupun tidak langsung.

Keterbukaan informasi semacam ini ampuh menepis praduga tak berdasar dari rekan setim.

Strategi meredam kecemasan saat WFH

Matangkan perencanaan kerja sejak H-1

Selain ketersediaan jaringan, kelihaian mengelola waktu sebelum hari eksekusi tiba menjadi "perisai" pertahanan agar tidak kelabakan di tengah deadline.

Diskusi matang dan koordinasi terbukti sukses menghalau kepanikan akan tereksekusinya rapat secara dadakan.

Dengan struktur kerja yang rapi, Ika merasa bahwa setiap elemen kelompok tak lagi menanggung stres akibat perasaan diawasi terus-menerus.

Pahami karakter atasan untuk bekerja lebih tenang

Shinta menambahkan, ketakutan akan teguran perihal keterlambatan reaksi sering kali sangat terpengaruh oleh kebiasaan pemimpin divisi.

Jika menghadapi anak buah yang lamban membalas teks, atasan yang pengertian seringnya memilih menelepon untuk memastikan semua hal dapat diselesaikan.

Dengan memami karakter atasan, perasaan cemas atau kena tegur karena terlambat membalas pesan tidak perlu dibawa pusing.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang