WFH Jumat: Peluang Slow Living atau Beban Baru bagi ASN? Ini Kata Mereka yang Menjalani

WFH Jumat, WFH Jumat: Peluang Slow Living atau Beban Baru bagi ASN? Ini Kata Mereka yang Menjalani, Rumah yang tidak selalu jadi ruang kerja ideal, Antara pekerjaan dan peran sebagai ibu, Multitasking di tengah WFH, Antara efisiensi waktu dan beban energi

Kebijakan Work From Home (WFH) setiap Jumat bagi aparatur sipil negara (ASN) yang mulai berlaku sejak April 2026 digadang-gadang sebagai upaya efisiensi anggaran, termasuk penghematan energi.

Namun di balik tujuan tersebut, kebijakan ini turut memunculkan beragam respons di ruang publik. Tak sedikit yang kemudian mengaitkannya dengan tren slow living, yakni gaya hidup yang lebih pelan, seimbang, dan minim tekanan mobilitas.

Lalu, apakah WFH Jumat benar menjadi peluang menuju slow living bagi ASN, atau justru menghadirkan beban baru, terutama bagi para ibu bekerja?

Kompas.com berbincang dengan dua ibu bekerja ASN yang kini menjalani skema tersebut dalam keseharian mereka. Walaupun realitasnya berbeda-beda.

WFH Jumat, WFH Jumat: Peluang Slow Living atau Beban Baru bagi ASN? Ini Kata Mereka yang Menjalani, Rumah yang tidak selalu jadi ruang kerja ideal, Antara pekerjaan dan peran sebagai ibu, Multitasking di tengah WFH, Antara efisiensi waktu dan beban energi

WFH Jumat digadang efisiensi, tapi realitanya tak selalu ringan. Dua ibu ASN ini bercerita soal kerja, rumah, dan beban multitasking.

Rumah yang tidak selalu jadi ruang kerja ideal

Farika Maula (31), dosen di perguruan tinggi Islam negeri di Yogyakarta, mengaku tidak merasakan WFH sebagai perubahan signifikan dalam ritme kerjanya.

"Jumat saya ada dua kelas, kadang sampai ke lapangan. Jadi apa itu WFH? Tidak (selalu) ada dalam kamus saya," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (5/5/2026).

Tapi di sisi lain, menurutnya, bekerja dari rumah justru menghadirkan tantangan tersendiri.

Rumah tidak selalu menjadi ruang kerja yang kondusif karena berbagai distraksi yang hadir bersamaan.

"Niatnya kerja, tapi ternyata bekerja di rumah itu tidak selalu kondusif. Distraksinya bukan hanya pengasuhan anak, tapi juga pekerjaan domestik seperti mencuci, bersih-bersih sampai hasrat ingin rebahan," katanya.

Antara pekerjaan dan peran sebagai ibu

Sebagai ibu dengan dua anak, ia mengakui sulitnya menjaga fokus ketika peran sebagai pekerja dan orangtua berjalan bersamaan.

Rapat daring kerap diselingi kebutuhan anak yang datang tiba-tiba, mulai dari makan hingga meminta perhatian.

"Jelas menganggu pekerjaan ya. Tapi kita sebagai ibu terlalu jahat juga untuk tidak memberikan perhatian ke anak. Makanya sambil momong sambil menyelam minum air," ungkapnya.

Meski demikian, ia merasakan perbedaan ketika bekerja di kantor.

“WFO bagi saya justru seperti healing. Bisa fokus, bertemu orang, mengembangkan diri, dan punya batas yang jelas antara kerja dan rumah,” ujarnya.

WFH Jumat, WFH Jumat: Peluang Slow Living atau Beban Baru bagi ASN? Ini Kata Mereka yang Menjalani, Rumah yang tidak selalu jadi ruang kerja ideal, Antara pekerjaan dan peran sebagai ibu, Multitasking di tengah WFH, Antara efisiensi waktu dan beban energi

WFH Jumat digadang efisiensi, tapi realitanya tak selalu ringan. Dua ibu ASN ini bercerita soal kerja, rumah, dan beban multitasking.

Multitasking di tengah WFH

Cerita serupa datang dari Arisha (31), ASN di instansi kementerian pusat dengan dua anak yang masih kecil.

Baginya, WFH bukan berarti pekerjaan menjadi lebih ringan, melainkan berubah bentuk.

“Harus multitasking antara pekerjaan kantor dan urusan anak,” katanya.

Ia menggambarkan situasi yang kerap terjadi: rapat daring sambil menjaga anak bermain, atau menyelesaikan pekerjaan di sela aktivitas domestik seperti memasak dan mengurus rumah.

Antara efisiensi waktu dan beban energi

Meski demikian, ia tidak menampik adanya sisi positif WFH, terutama dalam mengurangi kelelahan perjalanan di kota besar.

“Kalau WFO di Jakarta, energi banyak habis di jalan. Harus dihadapkan dengan kemacetan bahkan banjir saat musim hujan. WFH mengurangi kelelahan itu,” ujarnya.

WFH Jumat, realitas yang tidak seragam

Dari pengalaman para ASN ini, WFH Jumat tidak hadir sebagai konsep yang seragam.

Di satu sisi, ia membuka peluang ritme kerja yang lebih fleksibel.

Namun di sisi lain, ia juga memperlihatkan batas yang kabur antara pekerjaan dan rumah.

Pada akhirnya, WFH Jumat bukan hanya soal lokasi bekerja, tetapi juga tantangan seseorang dalam menavigasi peran, fokus, dan energi di ruang yang sama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang