Cara Perempuan Melepas Ketegangan di Awal Tahun melalui Healing Circle

Ada kalanya tubuh terasa tegang tanpa kita benar-benar tahu sebabnya. Di tengah ramainya notifikasi dan tuntutan yang datang silih berganti, banyak perempuan terbiasa tetap tampak baik-baik saja. Tak jarang di balik itu, ada lelah yang belum sempat diberi ruang untuk diakui.
Di awal tahun 2026, puluhan perempuan duduk melingkar di kawasan Asram Edupark, Yogyakarta. Mereka datang usai menyaksikan pertunjukan URUP 2026 oleh Kunto Aji.
Kehadiran mereka bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan mengikuti aktivasi bertajuk “Nyala Dalam Dirimu” yang diinisiasi oleh Kushandari Arfanidewi, atau yang dikenal sebagai Kelinci Tertidur.
Kegiatan ini dirancang sebagai ruang aman bagi perempuan untuk melepas ketegangan, berbagi cerita, dan memulai tahun dengan kesadaran yang lebih utuh.
“Sebagai perempuan terkadang kita menemui banyak sekali distraksi yang menimbulkan ketegangan, yuk kita mulai awal tahun ini dengan berkesadaran penuh,” ujar Kelinci Tertidur membuka sesi, Kamis (1/1/2026)
Sesi ini diawali dengan mengumpulkan gawai kepada panitia.
Yoga Beksan: Tubuh yang Bergerak, Energi yang Mengalir
Rangkaian dibuka dengan Yoga Beksan, perpaduan yoga dan tarian Jawa yang diiringi gamelan serta lantunan sinden.
Para peserta mengenakan selendang, bergerak perlahan mengikuti arahan koreografer Kinanti Sekar.
“Kita akan memulai sesi Yoga Beksan dengan menggunakan selendang ini dan diiringi dengan gamelan Jawa,” ujar Kinanti saat memandu sesi tersebut.
Gerakan yang awalnya canggung perlahan berubah menjadi aliran yang lebih cair. Di antara ayunan tangan dan langkah kaki, tubuh seolah diberi izin untuk berbicara, tentang lelah yang tertahan, tentang emosi yang belum sempat diproses.
Yoga Beksan bukan sekadar gerak estetis, melainkan medium untuk mengendurkan ketegangan yang selama ini tersimpan di tubuh.
Yoga Beksan memadukan gerak tari Jawa, napas, dan kesadaran batin. Bukan soal performa, tapi harmoni tubuh dan rasa dalam tradisi.
Meditasi Rahim dan Keberanian untuk Rentan
Setelah tubuh bergerak, peserta diajak masuk ke sesi meditasi bersama Fatimah Amira, seorang Holistic Healing Coach. Fokus diarahkan pada area rahim, simbol penciptaan, intuisi, dan pengelolaan emosi.
“Kami semua hadir utuh, menyelaraskan niat dan energi secara bersama. Merangkul luka dan suka, serta memancarkan doa terbaik untuk semesta,” ujar Amira.
Di lingkaran healing itu, rasa percaya diri, kerentanan, sekaligus keberanian muncul bersamaan.
Banyak perempuan yang selama ini terlihat kuat di luar, mengizinkan dirinya untuk jujur terhadap rasa takut, marah, atau sedih yang tersimpan.
Di sana, keberanian tidak lagi dimaknai sebagai tindakan heroik atau pencapaian besar. Keberanian hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: berani menjadi vulnerable, berani mengakui perasaan, paling tidak kepada diri sendiri.
Merangkai Harapan, Menyalakan Diri
Sesi ditutup dengan merangkai bunga bersama Kushandari Arfanidewi. Setiap rangkaian bunga kemudian disertai surat untuk diri sendiri, berisi harapan, niat, dan doa untuk tahun 2026.
Dalam keseharian, perempuan kerap dihadapkan pada tuntutan sosial, ekspektasi keluarga, pekerjaan, hingga standar kecantikan dan pencapaian.
Ketegangan itu sering tak disadari, karena tubuh dan pikiran terus dipaksa berlari.
“Awalnya aku datang cuma ingin cari suasana baru di awal tahun. Tapi ternyata yang aku temukan justru ruang untuk jujur sama diri sendiri. Waktu sesi meditasi, aku sadar selama ini aku terlalu keras sama diriku. Di lingkaran itu, aku merasa aman untuk rapuh tanpa takut dihakimi,” ujar Lintang, salah satu peserta.
Dua Bulan Setelah Tahun Baru, Apa yang Masih Menyala?
Healing circle seperti “Nyala Dalam Dirimu” mengajak untuk berhenti sejenak, mengakui luka, dan menerima diri apa adanya.
Dua bulan setelah tahun baru berlalu, mungkin euforia resolusi telah mereda. Namun, nyala yang sesungguhnya bukan tentang tanggal di kalender.
Ia hadir ketika seseorang berani menatap dirinya sendiri tanpa distraksi, dan menemukan bahwa “tangan” yang paling siap menerima adalah tangannya sendiri.
Karena menjadi berani, terkadang, sesederhana berani untuk jujur pada diri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang