Pesan Tegas Paus Leo: Pemerintah Harus Layani Rakyat, Bukan Menguasai
Paus Leo XIV diketahui tengah melakukan kunjungan bersejarah selama 11 hari ke Afrika termasuk Aljazair pekan ini. Kunjungan ini dilakukan untuk mempromosikan perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.
Di hari pertama kunjungannya ke Aljazair Senin kemarin, Paus Leo memadukan pesan spiritual dan politik. Dalam pesan yang disampaian Paus mendesak pemerintah setempat untuk membuka ruang kehidupan politik yang lebih bebas sekaligus menyerukan para pemimpin dunia agar meninggalkan praktik neokolonial dan bekerja demi perdamaian.
Namun, kunjungan ini tak lepas dari sorotan. Ketegangan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut membayangi, terutama karena sikap Paus yang menolak perang terhadap Iran. Selain itu, insiden percobaan bom bunuh diri di dekat Aljir juga menambah situasi menjadi lebih sensitif.
Sementara itu, tiba di ibu kota, Paus disambut dengan upacara kenegaraan. Ia kemudian berdoa di Monumen Martir, yang didedikasikan bagi korban perang kemerdekaan melawan Prancis pada 1954–1962.
Di sana, merujuk pada ketegangan diplomatik yang masih membayangi hubungan Prancis-Aljazair, ia menegaskan bahwa perdamaian hanya bisa terwujud melalui pengampunan.
“Perjuangan sejati untuk kemerdekaan hanya akan benar-benar selesai ketika kedamaian hadir di dalam hati,” ujarnya dikutip dari laman Middle East Eye, Rabu 15 April 2026.
Dalam pidato berikutnya di hadapan para pejabat Aljazair, termasuk Presiden Abdelmadjid Tebboune dan korps diplomatik, Paus mendorong pemerintah untuk memperluas demokratisasi di negara tersebut.
“Kekuatan sejati sebuah negara terletak pada kerja sama semua pihak demi kebaikan bersama. Pemerintah tidak dipanggil untuk menguasai, tetapi untuk melayani rakyat dan pembangunan mereka,” katanya.
Ia juga menambahkan,“Saya mengajak para pemegang kekuasaan di negara ini untuk tidak takut terhadap perubahan, dan mendorong lahirnya masyarakat sipil yang hidup, dinamis, dan bebas di mana kaum muda diakui mampu membuka harapan baru bagi semua.”
Sejak gerakan Hirak yang menggulingkan presiden lama Abdelaziz Bouteflika pada 2019, pemerintah Aljazair kerap dituding oleh kelompok pembela HAM menekan oposisi melalui penangkapan dan penahanan aktivis, jurnalis, serta para pengkritik.
Beberapa hari sebelum kunjungan Paus, tiga LSM internasional, termasuk Human Rights Watch, meminta agar isu hak asasi manusia dan kebebasan beragama turut dibahas dengan pemerintah Aljazair.
Dalam pidatonya di Aljir, Paus juga mengecam pelanggaran hukum internasional yang terus terjadi serta kecenderungan neo-kolonial, yang secara tidak langsung diarahkan kepada Amerika Serikat.
Paus yang berasal dari AS ini belakangan menjadi sasaran kritik tajam dari Donald Trump karena sikapnya yang semakin vokal menentang perang AS-Israel terhadap Iran.
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan ia bukan penggemar Paus Leo dan tidak menyukai Paus yang membenarkan kepemilikan senjata nuklir. Pada Senin, ia kembali menegaskan sikapnya dan bahkan menyebut Paus sebagai lemah.
Dalam perjalanan dari Roma menuju Aljir, Paus mengatakan kepada wartawan bahwa ia tidak berniat berdebat dengan Trump dan tidak merasa takut terhadap pemerintahannya.
“Gereja punya tanggung jawab moral untuk bersuara tegas menentang perang. Saya tidak ingin pesan Injil disalahartikan seperti yang dilakukan sebagian pihak,” ujarnya.