Tragis! Usai Makan Sushi, Wanita Ini Masuk ICU dan Mengalami Kelumpuhan

Ilustrasi sushi
Ilustrasi sushi

Seorang wanita muda harus menghadapi kondisi mengerikan setelah menyantap sushi. Bukan hanya mengalami infeksi serius, ia bahkan sempat lumpuh hingga harus berjuang antara hidup dan mati di ruang perawatan intensif.

Kejadian tersebut bermula saat ia makan sushi bersama teman-temannya. Apa yang awalnya terlihat seperti aktivitas biasa berubah menjadi mimpi buruk panjang yang penuh rasa sakit, ketakutan, dan perjuangan untuk bertahan hidup. Scroll untuk info lebih lanjut...

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Wanita itu bernama Yuli Vargas. Ia mengalami infeksi salmonella dan demam tifoid setelah mengonsumsi makanan laut mentah. Kondisinya dengan cepat memburuk dan memicu berbagai komplikasi serius yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia mengungkapkan bahwa gejala awal hanya berupa gangguan pencernaan yang tampak seperti infeksi biasa. Namun dalam waktu singkat, kondisinya semakin parah hingga harus dirawat di rumah sakit selama 23 hari, dengan 16 hari di antaranya tidak diperbolehkan makan dan minum secara normal.

“Bulan ini menjadi perjalanan kesehatan yang tidak pernah saya bayangkan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Need To Know, Selasa, 14 April 2026.

“Semuanya dimulai ketika saya makan sushi yang membuat saya terkena salmonella dan demam tifoid, yang memicu serangkaian komplikasi dan diagnosis,” kisahnya. 

Selama masa perawatan, Yuli harus menjalani berbagai pemeriksaan dan prosedur medis. Hingga akhirnya, ia dihadapkan pada operasi berisiko tinggi yang bahkan membuatnya harus menerima kemungkinan terburuk.

“Saya menjalani banyak tes, prosedur, dan akhirnya operasi yang sangat berisiko di mana saya harus menghadapi kenyataan, peluang saya untuk keluar dari ruang operasi dalam keadaan hidup sangat kecil,” katanya.

Operasi yang dilakukan berkaitan dengan kantung empedu, dengan kondisi enzim pankreas yang sangat tinggi sehingga meningkatkan risiko komplikasi. Bahkan, tim medis sempat ragu untuk melakukan tindakan tersebut karena risikonya yang besar.

Selain itu, dalam waktu yang berdekatan ia juga menjalani endoskopi dan kolonoskopi. Rasa sakit yang ia alami selama dirawat disebutnya sangat luar biasa.

“Saya mengalami malam-malam dengan rasa sakit yang tidak berhenti, di mana tidak ada obat yang bekerja; bahkan sedasi berat pun tidak bisa menenangkan saya,” ungkapnya.

Yuli sempat dirawat di unit perawatan intensif (ICU). Dua jam setelah menjalani operasi, ia mengalami kelumpuhan yang menyerang sisi kanan tubuh dan wajahnya.

“Dalam momen itu, antara rasa sakit dan keputusasaan, saya tidak bisa tidur atau minum air, tidak bisa bernapas dengan baik karena rasa sakit, dan saya tidak makan selama 16 hari karena diberi nutrisi melalui alat bantu,” jelasnya.

Ia juga menceritakan pengalaman menyakitkan saat proses pemasangan selang makanan. “Mereka pertama kali memasang selang di lengan saya dan itu sangat menyakitkan.”

Karena kondisinya terus memburuk, dokter akhirnya memasang jalur infus di vena leher untuk membantu pemberian nutrisi. Namun prosedur tersebut justru memicu infeksi baru sehingga harus segera dilepas dalam kondisi darurat.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan mendalam, dokter akhirnya menemukan penyebab dari kondisi kompleks yang dialami Yuli. Ia didiagnosis menderita lupus eritematosus sistemik, penyakit kronis di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat.

“Para dokter sempat kebingungan harus melakukan apa,” katanya. “Setelah berbagai tes dan pemeriksaan, mereka menemukan diagnosis, pangastritis, kolitis ulseratif sedang hingga berat, dan lupus eritematosus sistemik yang memengaruhi sistem saraf dan pankreas.”

Setelah diagnosis ditegakkan, pengobatan yang tepat mulai diberikan. Kondisinya kini berangsur membaik, meski proses pemulihan masih panjang dan penuh tantangan.

Yuli terus menjalani pemulihan bertahap dari operasi dan kelumpuhan yang dialaminya. Ia harus belajar kembali berjalan dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Ia juga mulai beradaptasi dengan penyakit lupus yang kini menjadi bagian dari hidupnya. “Saya belajar lebih banyak tentang lupus dan berusaha menjalani hidup sepenuhnya, karena saat sakit, rasanya benar-benar menyakitkan.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Yuli diketahui menjalani pengobatan dengan berbagai jenis obat, termasuk yang membantu mengurangi rasa sakit. Di tengah kondisi tersebut, ia tetap berusaha kuat dan menemukan makna dari apa yang dialaminya.

“Saya percaya kepada Tuhan, yang memiliki tujuan untuk saya,” ucapnya.