Pemudik Sebut Macet Gilimanuk Tahun Ini Paling Parah, Belasan Jam Antre Belum Masuk Kapal
Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Gilimanuk saat arus mudik 2026 dikeluhkan para pemudik.
Kemacetan ini juga berdekatan dengan cuti bersama 18 Maret dan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada 19 Maret 2026.
Berdasarkan pantauan TribunBali, Senin (16/3/2026), antrean kendaraan sudah mencapai Kecamatan Negara yang berjarak sekitar 35 kilometer dari pelabuhan.
Berangkat Minggu, Pemudik Belum Masuk Kapal
Seorang sopir travel bernama Ipung (50) mengaku menempuh perjalanan sangat lama akibat kepadatan tersebut.
"Saya berangkat jam 12 malam kemarin. Tiba di sini (Terminal Kargo Gilimanuk) jam 17.00 Wita," ucap seorang sopir travel, Ipung (50).
Menurutnya, kemacetan tahun ini menjadi yang paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menyebut pada periode mudik sebelumnya antrean kendaraan biasanya hanya sampai kawasan Hutan Cekik atau sekitar 5–7 kilometer dari pelabuhan.
"Kami harap ke depannya tak seperti ini lagi," imbuh Ipung.
Keluhan serupa juga disampaikan pemudik lain, Dewi (56). Ia mengatakan berangkat dari rumahnya di Jembrana sekitar pukul 09.00 Wita.
Namun perjalanan menuju pelabuhan memakan waktu sangat lama akibat antrean kendaraan yang tidak bergerak.
Ia baru dapat masuk ke kawasan Terminal Manuver Pelabuhan Gilimanuk pada sekitar pukul 05.00 Wita.
"Dari pagi ketemu dini hari baru masuk pelabuhan. Macetnya parah," ungkap Dewi.
Dewi menyebut kondisi arus mudik tahun ini benar-benar menguji kesabaran para pemudik karena harus menunggu belasan jam di dalam kendaraan.
Ia bahkan menilai antrean kendaraan menuju pelabuhan tahun ini menjadi salah satu yang terpanjang selama arus mudik berlangsung.
"Semoga ini jadi pelajaran bersama dan pihak berwenang bisa mencari solusi agar di tahun ke depan tidak seperti ini lagi," harapnya.
Pemudik Luka dan Jatuh Pingsan
Selain menimbulkan antrean panjang, kepadatan kendaraan juga berdampak pada kondisi kesehatan sejumlah pemudik.
Sebanyak 16 orang dilaporkan pingsan akibat kelelahan saat mengantre di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Minggu (15/3/2026).
Data yang dihimpun menyebut total 17 pemudik mendapat penanganan medis dari tim kesehatan dalam Operasi Ketupat 2026.
Sebanyak 16 orang mengalami heat syncope atau pingsan akibat kelelahan dan paparan cuaca panas.
Setelah mendapatkan penanganan medis, mereka dapat kembali melanjutkan perjalanan.
Sementara satu orang lainnya mengalami vulnus laceratum atau luka robek setelah terlindas ban kendaraan lain.
Korban telah mendapatkan perawatan berupa tindakan jahit luka, perawatan medis, serta pemberian obat sesuai indikasi.
Di sisi lain, kepadatan lalu lintas pada arus mudik tahun ini tercatat cukup tinggi.
Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk bahkan telah mencapai wilayah Banjar Tengah, Kecamatan Negara, atau sekitar 35 kilometer dari pelabuhan.
Antrean diperkirakan dapat terus bertambah apabila proses penyeberangan kendaraan belum sepenuhnya terurai.
Langkah ASDP soal Kemacetan Horor di Pelabuhan Gilimanuk
Untuk mempercepat penguraian antrean, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melakukan sejumlah langkah optimalisasi operasional kapal.
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, mengatakan percepatan layanan menjadi fokus utama dalam penanganan kepadatan kendaraan.
“Sejak akhir pekan kami melakukan berbagai langkah percepatan, mulai dari penambahan operasi kapal hingga penerapan pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB)," kata Windy dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Senin.
"Upaya ini mulai memberikan dampak positif, di mana antrean kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk mulai berangsur terurai dan arus kendaraan terus bergerak,” sambungnya.
Berdasarkan laporan operasional ASDP Cabang Ketapang dari Posko Pelabuhan Gilimanuk pada Minggu (15/3) pukul 19.00 Wita, sebanyak 33 kapal beroperasi di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Armada tersebut terdiri dari 19 kapal tipe Moveable Bridge (MB), 11 kapal Landing Craft Machine (LCM), serta tiga kapal LCM tambahan yang dioperasikan untuk mempercepat layanan penyeberangan.
Pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB) juga masih diterapkan pada Dermaga LCM untuk tiga kapal.
Dengan pola tersebut, kapal yang tiba langsung menurunkan muatan dan kembali berlayar tanpa melakukan proses pemuatan kendaraan sehingga siklus pelayaran dapat berlangsung lebih cepat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang