Top 9+ Cara yang Dilakukan Pasangan Sehat dalam Mengatasi Beda Pendapat

pasangan sehat, 9 Cara yang Dilakukan Pasangan Sehat dalam Mengatasi Beda Pendapat, 1. Tetap menjaga rasa hormat, 2. Tidak saling memotong pembicaraan, 3. Menggunakan kalimat “saya”, 4. Berusaha memahami sudut pandang pasangan, 5. Mendengarkan dengan bahasa tubuh, 6. Mau mengakui kesalahan, 7. Merespons emosi, bukan hanya argumen, 8. Mencari solusi bersama, 9. Mengambil tindakan nyata setelah konflik

Perbedaan pendapat adalah hal yang pasti ada di dalam hubungan. Namun, bukan seberapa sering pasangan bertengkar yang menentukan kualitas hubungan, melainkan bagaimana cara mereka menyelesaikannya. 

Para terapis sepakat, cara pasangan berkonflik bisa memprediksi kesehatan hubungan dan keberhasilannya dalam jangka panjang.

“Bagaimana pasangan menangani konflik adalah salah satu prediktor terbesar apakah hubungan akan bertahan atau justru runtuh,” ujar terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Angela Caiazza, MS, LMFT, seperti dikutip Parade, Jumat (30/1/2026).

Lalu, apa saja kebiasaan yang membedakan pasangan sehat saat menghadapi selisih pendapat?

9 Cara pasangan sehat mengatasi selisih pendapat

1. Tetap menjaga rasa hormat

Pasangan sehat berusaha tetap menghormati satu sama lain, bahkan ketika emosi sedang tinggi. Tidak ada umpatan, sindiran, atau menyerang titik sensitif pasangan. 

Menurut terapis pernikahan dan kelaurga, Dr. Jenni Skyler, PhD, LMFT, konflik yang sehat adalah konflik yang tetap menjaga martabat kedua belah pihak agar diskusi tetap produktif, bukan destruktif.

2. Tidak saling memotong pembicaraan

Dalam hubungan yang sehat, masing-masing pasangan diberi ruang untuk berbicara. 

“Mereka bergiliran berbicara dan memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk berdialog,” tutur Caizza.

Caiazza menjelaskan, pasangan yang sehat bergantian menyampaikan pendapat, sehingga diskusi berjalan lebih tenang dan memungkinkan empati tumbuh.

3. Menggunakan kalimat “saya”

Alih-alih menyalahkan, pasangan sehat menggunakan I statements seperti “Saya merasa…” atau “Saya terganggu ketika…”. 

Menurut Skyler, cara ini membantu seseorang bertanggung jawab atas perasaannya sendiri dan mencegah konflik berkembang menjadi serangan pribadi.

4. Berusaha memahami sudut pandang pasangan

Meski tidak selalu setuju, pasangan sehat mau mendengarkan dan memahami perspektif pasangannya. 

“Pasangan fungsional bisa tidak sepakat, tapi tetap berusaha memahami sudut pandang satu sama lain,” kata Skyler.

Memahami sudut pandang pasangan menjadi cara kamu untuk benar-benar memahami apa yang dia rasakan dan tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari.

5. Mendengarkan dengan bahasa tubuh

Komunikasi tidak hanya lewat kata-kata. Kontak mata, posisi tubuh yang terbuka, dan gestur penuh perhatian menunjukkan kesiapan untuk mendengarkan. 

Caiazza menilai, bahasa tubuh ini memberi sinyal keterbukaan dan rasa ingin memahami pasangan.

6. Mau mengakui kesalahan

Pasangan sehat berani mengakui peran mereka dalam konflik. Skyler menekankan pentingnya tanggung jawab pribadi, bukan hanya atas tindakan, tetapi juga dampak emosional yang dirasakan pasangan.

“Mereka merasa bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri dan bagaimana perilaku tersebut dapat memengaruhi pasangan mereka,” tambah Caiazza.

7. Merespons emosi, bukan hanya argumen

Respons emosional seperti sentuhan ringan, permintaan maaf, atau ucapan empati membantu meredakan ketegangan. 

Caiazza menyebutkan, pasangan sehat peka terhadap emosi pasangannya, bukan sekadar fokus memenangkan argumen.

8. Mencari solusi bersama

Alih-alih mengutamakan siapa yang menang dan kalah, pasangan sehat mencari jalan tengah. 

Skyler mengatakan, tujuan konflik sehat adalah menemukan solusi kolaboratif agar kebutuhan kedua pihak tetap terpenuhi tanpa menyisakan dendam.

“Berusahalah untuk menemukan titik temu agar kebutuhan kedua belah pihak terpenuhi,” tutur Skyler.

9. Mengambil tindakan nyata setelah konflik

Konflik tidak berhenti di kata sepakat. Pasangan sehat berusaha melakukan perubahan nyata agar masalah serupa tidak terulang. 

“Mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan benar-benar ingin memenuhi kebutuhan pasangannya,” imbuh Caiazza.

Konflik bukan tanda hubungan bermasalah. Justru, cara pasangan menyikapi perbedaan pendapatlah yang menjadi cerminan kedewasaan emosional dan kekuatan hubungan itu sendiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang