India Pasang Target Gila: Tarik Rp13.000 Triliun Investasi Pusat Data

Data center.
Data center.

Namun, pembebasan tersebut tidak berlaku untuk layanan yang diberikan kepada klien di India, yang tetap akan dikenakan pajak.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Langkah ini merupakan bagian dari upaya India untuk menarik investor ke sektor infrastruktur digitalnya yang berkembang pesat dan menjadikannya pusat global untuk kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan.

Pemerintahan Perdana Menteri India Narendra Modi sebelumnya telah meluncurkan berbagai insentif, seperti memberikan status infrastruktur bagi pusat data untuk mempercepat pengembangannya. Beberapa pemerintah negara bagian juga telah melonggarkan aturan penggunaan lahan.

Bulan lalu, New Delhi menjadi tuan rumah sebuah KTT AI global, yang mempertemukan tokoh-tokoh yang membentuk masa depan teknologi tersebut, seperti Sam Altman dari OpenAI, Sundar Pichai dari Google, dan Dario Amodei dari Anthropic.

Acara ini menunjukkan bahwa India ingin suaranya didengar terkait dampak AI terhadap negara berkembang dan mengenai siapa yang menentukan bagaimana AI dibangun dan digunakan.

Kawasan Asia Pasifik diproyeksikan akan menarik sekitar US$800 miliar (Rp13.591 triliun) investasi pusat data pada 2030, menurut firma konsultan Deloitte. New Delhi ingin menarik porsi besar dari aliran modal tersebut.

Konglomerat India seperti Reliance Industries Ltd., yang dipimpin orang terkaya Asia Mukesh Ambani, serta Adani Enterprises dan Tata Group, juga telah membuat komitmen investasi miliaran dolar untuk membangun infrastruktur AI nasional—sebagian bekerja sama dengan raksasa teknologi Amerika Serikat (AS).

Investasi tersebut diharapkan dapat memposisikan India sebagai pemimpin global dalam AI dan komputasi awan serta menciptakan ribuan lapangan kerja baru. Namun, Direktur Internet Freedom Foundation, Apar Gupta, mengatakan bahwa pusat data tidak sama dengan kepemimpinan AI.

"Mereka menambah server dan penyimpanan, bukan kemampuan untuk membangun dan mengendalikan AI tingkat lanjut,” katanya, seperti dikutip dari situs DW, Senin, 9 Maret 2026. Gupta khawatir India terlalu fokus membangun infrastruktur sambil mengabaikan area penting lainnya.

Tanpa investasi dalam riset, sumber daya manusia, dan dataset lokal India, ia memperingatkan negara itu berisiko hanya "menjadi tuan rumah infrastruktur bagi perusahaan global, bukan membentuk teknologinya atau menetapkan aturannya”.

Peneliti di lembaga think tank Overseas Development Institute di London, Divij Joshi menyampaikan pandangan serupa: "Menjadi tuan rumah server tidak berarti mengendalikan apa yang berjalan di atasnya,” ungkap dia.

"Untuk memperoleh pengaruh nyata, India perlu memiliki infrastruktur dalam skala yang membuat rantai pasokan AI global benar-benar bergantung padanya. Mengingat AS dan China sudah jauh di depan, hal itu sulit dicapai”.

Untuk bersaing dalam perlombaan AI global, kata Joshi, "India terlebih dahulu membutuhkan jaringan listrik yang efisien, regulasi yang jelas, transfer teknologi, dan investasi dalam riset serta pengembangan”.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Beberapa pengamat juga menyoroti dampak lingkungan dari pusat data AI yang sangat boros energi. Fasilitas ini biasanya menampung puluhan ribu server yang beroperasi secara bersamaan serta chip canggih yang bekerja pada suhu sangat tinggi.

Chip paling canggih, yaitu GPU (graphics processing units) yang digunakan untuk AI, dapat mencapai suhu lebih dari 90 derajat Celcius. Agar dapat beroperasi optimal, pusat data membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar dan stabil serta air dalam jumlah besar untuk mendinginkan server dan peralatan lainnya.