Satu dari 800 Bayi Lahir dengan Kaki Pengkor, Apa Penyebabnya?

Ilustrasi kelainan kaki pada bayi
Ilustrasi kelainan kaki pada bayi

Kesehatan anak menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian sejak masa awal kehidupan. Berbagai kondisi bawaan lahir dapat memengaruhi tumbuh kembang anak apabila tidak terdeteksi dan ditangani dengan baik. 

Salah satunya adalah kaki pengkor atau clubfoot, kelainan bawaan yang masih ditemukan pada bayi baru lahir di berbagai negara, termasuk Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Peringatan Hari Kaki Pengkor Sedunia (World Clubfoot Day) yang diperingati setiap 3 Juni menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dan penanganan dini terhadap kondisi ini. Dengan penanganan yang tepat sejak awal, anak dengan kaki pengkor memiliki peluang besar untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Kaki pengkor atau Congenital Talipes Equinovarus (CTEV), yang dikenal juga sebagai clubfoot, merupakan kelainan bawaan lahir yang menyebabkan posisi kaki bayi berputar ke arah dalam dan bawah. 

Secara global, diperkirakan satu dari 800 bayi lahir dengan kondisi ini. Meski tidak termasuk penyakit yang mengancam jiwa, keterlambatan penanganan dapat menimbulkan berbagai masalah pada kemampuan bergerak anak hingga usia dewasa.

Dr. Monica Gloria, menjelaskan bahwa kondisi kaki pengkor terjadi akibat pemendekan otot dan jaringan pada kaki sehingga kaki tertarik ke arah dalam. Kelainan ini dapat terjadi pada satu kaki maupun kedua kaki sekaligus.

"Kaki pengkor umumnya sudah dapat dikenali sejak bayi lahir melalui bentuk telapak kaki dan posisi pergelangan kaki yang tampak tidak normal. Jika tidak ditangani sejak dini, anak dapat mengalami kesulitan berdiri, berjalan, maupun berlari ketika bertumbuh," jelas dr. Monica, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Rabu, 3 Juni 2026.

Secara umum, tanda-tanda kaki pengkor dapat terlihat dari posisi kaki yang mengarah ke dalam atau ke bawah secara tidak normal. Pada beberapa kasus, ukuran kaki yang mengalami kelainan juga tampak lebih kecil dibandingkan kaki normal. Karena gejalanya sudah bisa dikenali sejak lahir, pemeriksaan dini menjadi langkah penting untuk memastikan bayi mendapatkan penanganan yang sesuai.

Selain memengaruhi kemampuan bergerak, kondisi yang tidak ditangani dengan baik juga berpotensi berdampak pada aspek lain dalam kehidupan anak. Gangguan keseimbangan, perubahan postur tubuh, hingga tantangan sosial dan emosional dapat muncul seiring pertumbuhan anak.

"Penanganan sejak dini dapat membantu mencegah gangguan postur tubuh, gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, hingga dampak sosial dan emosional yang mungkin dialami anak akibat keterbatasan fisik," kata program manager CTEV doctorSHARE itu. 

Peran orang tua menjadi faktor penting dalam proses deteksi dan penanganan. Orang tua diharapkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan bentuk kaki yang tidak normal pada bayi baru lahir. Semakin cepat kondisi ini diketahui, semakin besar peluang keberhasilan terapi yang diberikan.

Di Indonesia, akses terhadap layanan ortopedi masih menjadi tantangan di sejumlah daerah. Karena itu, berbagai pihak berupaya meningkatkan jangkauan layanan kesehatan bagi anak-anak yang membutuhkan penanganan kaki pengkor.

Sejak tahun 2022, doctorSHARE mengembangkan Program CTEV sebagai respons terhadap masih rendahnya perhatian terhadap kasus kaki pengkor serta terbatasnya akses layanan ortopedi di berbagai wilayah Indonesia.

Managing Director doctorSHARE, Tutuk Utomo Nurhady, menjelaskan bahwa hingga saat ini Program CTEV doctorSHARE telah menjangkau 502 anak dengan kondisi kaki pengkor di berbagai wilayah, antara lain Aceh, Nias, Balikpapan, Jakarta, dan Bogor.

"Penanganan yang kami lakukan tidak hanya berfokus pada intervensi medis, tetapi juga mencakup pendampingan pasien dan keluarga, serta edukasi untuk memastikan keberlanjutan proses pemulihan anak," ujar Tutuk.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Untuk mendukung pelaksanaan program, berbagai bentuk kolaborasi dilakukan bersama pemerintah daerah, rumah sakit yang memiliki layanan ortopedi, serta fasilitas pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah. Kerja sama tersebut mencakup proses skrining, penjangkauan pasien, rujukan, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya deteksi dan penanganan dini kaki pengkor.

Melalui peringatan World Clubfoot Day 2026, masyarakat diajak untuk lebih mengenali tanda-tanda kaki pengkor dan tidak menunda pemeriksaan apabila menemukan gejala pada bayi. Meningkatnya kesadaran mengenai kondisi ini diharapkan dapat membantu lebih banyak anak memperoleh akses penanganan yang tepat sehingga mereka memiliki kesempatan untuk tumbuh, bergerak, dan menjalani kehidupan secara optimal.