Jangan Diabaikan, Ini Faktor Risiko Bayi Lahir Prematur

Ilustrasi kehamilan.
Ilustrasi kehamilan.

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu. Angka kelahiran bayi prematur di Indonesia sendiri cukup tinggi. Berdasarkan data nasional angka  kelahiran prematur di Indonesia mencapai 10 persen dari jumlah kelahiran bayi.

Kelahiran prematur diketahui dapat membuat bayi mengalami berbagai masalah kesehatan bahkan tidak jarang juga menyebabkan kematian bayi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, setiap calon ibu perlu mengetahui faktor risiko kelahiran premature serta langkah pencegahannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Spesialis anak, dr.  I Gusti Ayu Nyoman Pratiwi, Sp.A, MARS menyebut bahwa beberapa risiko kelahiran prematur salah satunya adalah hamil di usia muda. Hal ini terjadi karena tubuh remaja terutama Rahim dan panggul sering kali belum berkembang sempurna untuk menopang kehamilan yang dapat memicu komplikasi kesehatan serius.

“Kehamilan yang berisiko untuk prematur itu seperti perkawinan remaja itu masih banyak. Saya dengar di daerah-daerah itu 14-15 tahun (sudah hamil), kalau saya dengar dari teman yang bertugas di daerah Labuan Bajo. Jadi kecil usianya belum cukup itu yang membuat jadi tinggi. Jadi kelahiran prematur berisiko terhadap perkawinan, itu berisiko,” kata dia saat ditemui awak media di Jakarta Pusat, Sabtu 9 Mei 2026.

Selain itu beberapa kondisi kesehatan seperti infeksi keputuhan dan infeksi saluran kemih (ISK) saat kehamilan juga berisiko menyebabkan kelahiran premaatur. Ibu hamil yang kekurangan protein hewani juga kata Tiwi berisiko membuat bayi lahir premature.

“Belum lagi infeksi keputihan, infeksi kencing saat dia hamil itu kan juga menyebabkan melahirkan premature. Belum lagi kesehatan si ibu secara keseluruhan, kualitas makan. Ibu hamil yang tidak makan protein hewani bisa sebabkan risiko prematur,” jelas dia.

Lantas bisakah kelahiran premature dicegah? Terkait dengan hal ini, dr. Tiwi menjelaskan bahwa jika seorang ibu memiliki faktor risiko kelahiran prematur maka hal tersebut tidak bisa dicegah. Namun pihak akan melakukan persiapan agar bayi bisa lahir dengan baik.

“12 tahun menunggu anak, dia hamil anak kembar dengan miom. Kita tau dia berisiko lahirnya prematur. Kita edukasi, ‘kamu kemungkinan lahirnya prematur’. Kita benahi kondisi si ibunya, nutrisinya diperhatikan, segala diperhatikan. Dia lahir 32 minggu yang satu 1,2 kg dan 2,1kg sekarang anaknya tumbuh tidak kekurangan apapun karena dari awal kita sudah intervensi. Jadi waktu hamil dibenari jangan sampai diabetes, hopertensi, nutrisinya jangan sampai kopong supaya janinnya tumbuh,” jelas dia.

Neonatal Intensive Care Unit (NICU)

Bayi yang lahir prematur umumnya memerlukan perawatan khusus di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Ruangan ini dirancang untuk menangani bayi dengan kondisi kesehatan yang masih rentan karena organ tubuhnya belum berkembang sempurna.

Jika sebelumnya NICU identik sebagai ruang intensif dengan akses terbatas bagi keluaarga, kini sejumlah rumah sakit mulai menerapkan pendekatan yang lebih terintegrasi dengan melibatkan orang tua secara aktif dalam proses perawatan bayi sejak hari pertama kehidupan.

Dikenal dengan Family Integrated Care (FICare), orang tua dilibatkan sejak dini, diberikan edukasi, serta didampingi secara intensif agar mampu berperan aktif dalam merawat bayinya. Pendekatan ini diterapkan oleh RSIA Bunda Jakarta.

"Bagi kami, NICU bukan hanya tentang menyelamatkan kehidupan, tetapi juga mempersiapkan kehidupan setelahnya," ujar spesialis anak, dari RSIA Bunda Jakarta, dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A, Subsp. Neo (K).

NICU di rumah sakit ini juga  dilengkapi sejumlah fasilitas dan pendekatan pendukung, mulai dari optimalisasi pemberian ASI ibu kandung, metode Kangaroo Mother Care, sistem pengendalian infeksi ketat, hingga layanan lanjutan tumbuh kembang anak melalui Neuro Development Center.

Salah satu fokus Utama layanan adalah memastikan  bayi prematur tetap mendapatkan ASI langsung dari ibu kandung. Hal ini dinilai penting karena pada bayi prematur, komposisi ASI ibu secara alami paling sesuai dengan kebutuhan spesifik bayi, baik dari sisi nutrisi maupun faktor protektif. Keberhasilan pemberian ASI dari ibu kandung ini menjadikan kebutuhan terhadap ASI donor di NICU RSIA Bunda sangat rendah.

"ASI dari ibu kandung  pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah yang secara umum sulit dicapai akibat praktik rawat pisah bayi dari ibu setelah persalinan. Melalui sistem yang terintegrasi, hampir seluruh bayi kecil di NICU kami berhasil mendapatkan ASI langsung dari ibu mereka. Keberhasilan ini didukung oleh penerapan metode Kangaroo Mother Care (KMC) sedini mungkin, yang melibatkan tidak hanya ibu, tetapi juga ayah dan keluarga. Selain membantu stabilitas fisiologis dan perkembangan bayi, KMC juga terbukti meningkatkan produksi ASI," kata dia lebih lanjut.

Selain itu pihak rumah sakit juga menekankan pentingnya edukasi keluarga secara intensif, detail dan berkelanjutan sejak awal. Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh proses perawatan berjalan aman bagi bayi yang memiliki kerentanan tinggi terhadap infeksi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Hasilnya angka kejadian di NICU dapat ditekan hingga sangat rendah bahkan mendekati no. Dalam 10-15 tahun terakhir NICU di rumah sakit kami dilaporkan tidak menangani kasus sepsis pada bayi, sebuah capaian yang menjadi indicator penting kualitas layanan NICU," sambung Adhi.

Sebagai lanjutan dari perawatan intensif di NICU pihaknya juga mengembangkan Neuro Development Center sebagai layanan terpadu untuk menangani tumbuh kembang bayi dan anak. Konsep utama yang diusung adalah integrasi layanan sejak masa kehamilan hingga pascakelahiran. Program seperti maternity akademia serta praktik Kangaroo Mother Care (KMC) diposisikan sebagai bagian dari stimulasi perkembangan sensorik bayi yang selaras dengan pendekatan neurodevelopment.