CIA Akui Berbulan-bulan Buntuti Khamenei Sebelum Serangan Mematikan AS-Israel di Teheran
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat senior Iran lainnya.
Presiden AS Donald Trump menyebut serangan yang menargetkan kediaman Khamenei terlacak dalam sistem intelijen dan pelacakan canggih AS. Pihaknya telah menargetkan serangan secara presisi terhadap Khamenei dan para pengikutnya
"Dia [Khamenei] tidak dapat menghindari Sistem Intelijen dan Pelacakan Canggih kami dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang telah tewas bersamanya, lakukan," kata tulis Trump di platform Truth Social miliknya, Sabtu.
Keterlibatan intelijen dalam serangan-serangan mematikan duet Israel dan AS yang menyasar para petinggi Iran tidak dapat dinafikan. Pun ketika pada Sabtu pagi, operasi Epic Fury yang digulirkan Trump menarget sejumlah petinggi Iran di tengah kebuntuan proses negosiasi nuklir Iran-AS di Jenewa.
Intelijen CIA mengakui keterlibatan mereka dalam serangan yang menewaskan Khamenei di Iran. Data intelijen telah dikumpulkan selama berbulan-bulan oleh CIA dan dibagikan ke militer Israel yang menyebabkan serangan rudal yang menewaskan Khamenei dan pejabat senior Iran lainnya pada hari Sabtu, kata seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut mengkonfirmasi kepada CBS News.
Badan intelijen tersebut telah melacak lokasi Khamenei selama beberapa bulan sebelum serangan gabungan AS-Israel pada hari Sabtu, dan memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang keberadaannya saat ia bergerak.
Badan tersebut kemudian mengetahui tentang pertemuan para pejabat senior Iran pada Sabtu pagi, di sebuah kompleks di Teheran yang diperkirakan akan dihadiri Khamenei.
Wawasan itu, yang disampaikan kepada militer Israel dan mempercepat jadwal serangan untuk memanfaatkan peluang tersebut, kata sumber yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah intelijen yang sensitif kepada CBS News.
Presiden Trump mengatakan kepada Joe Kernen dari CNBC pada hari Minggu, bahwa operasi AS di Iran "berjalan sangat baik, sangat baik — lebih cepat dari jadwal."
"Ini adalah rezim yang sangat kejam, salah satu rezim paling kejam dalam sejarah," kata Trump dalam percakapan telepon dengan Kernen. "Kami melakukan pekerjaan kami bukan hanya untuk kami, tetapi untuk dunia. Dan semuanya lebih cepat dari jadwal."
Presiden telah mengawasi serangan tersebut dari kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida.
Trump dalam pidato video baru yang diposting di Truth Social mengatakan bahwa ratusan target telah dihantam dalam Operasi Epic Fury dan ia memberikan pembenaran untuk operasi tersebut. Ia juga mengakui kematian tiga anggota militer AS dan memperingatkan bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak lagi yang tewas.
Dalam video pembaruan berdurasi enam menit, Trump mengatakan operasi tersebut telah "menghantam ratusan target di Iran, termasuk fasilitas Garda Revolusi," sembilan kapal, dan sistem pertahanan udara Iran.
Ia mengatakan Ayatollah Khamenei, yang tewas dalam serangan itu, "telah menumpahkan darah ratusan, bahkan ribuan, warga Amerika dan bertanggung jawab atas pembantaian ribuan orang tak berdosa di berbagai negara." Presiden mengatakan "seluruh komando militer juga telah tiada."
Presiden memuji tiga anggota militer AS yang tewas dalam pertempuran dan mengatakan bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak korban militer.
"Sebagai satu bangsa, kita berduka atas para patriot Amerika sejati yang telah melakukan pengorbanan tertinggi untuk bangsa kita, bahkan saat kita melanjutkan misi yang benar yang untuknya mereka mengorbankan nyawa mereka," kata Trump. "Kita berdoa untuk kesembuhan penuh para korban luka dan mengirimkan cinta dan rasa terima kasih abadi kita kepada keluarga para korban yang gugur, dan sayangnya, kemungkinan akan ada lebih banyak lagi."
Trump mengatakan operasi tempur terus berlanjut "dengan kekuatan penuh" dan akan terus berlanjut "sampai semua tujuan kita tercapai." Dalam wawancara terpisah, ia mengatakan kepada Daily Mail bahwa ia memperkirakan operasi tersebut akan berlangsung sekitar empat minggu.
Ia berpendapat bahwa Iran, "yang dipersenjatai dengan rudal jarak jauh dan senjata nuklir, akan menjadi ancaman serius bagi setiap warga Amerika," dan AS tidak dapat membiarkan rezim "yang membentuk pasukan teroris memiliki senjata semacam itu yang memungkinkan mereka untuk memeras dunia."
Operasi militer tersebut, katanya, "diperlukan untuk memastikan bahwa warga Amerika tidak akan pernah harus menghadapi rezim teroris radikal dan haus darah yang dipersenjatai dengan senjata nuklir dan banyak ancaman."
Ia menyebutkan kemungkinan jalan keluar untuk mengakhiri konflik. Ia mengatakan itu bergantung pada banyak variabel tetapi menyatakan optimisme.
"Situasinya berkembang dengan sangat positif saat ini, sangat positif," kata Trump.