Bonnie Triyana: Soekarno dan Multatuli, Dua Sisi Perlawanan atas Kolonialitas
Kepala Badan Sejarah PDI Perjuangan (PDIP) Bonnie Triyana mengajak publik menelusuri benang merah kolonialisme yang masih membelenggu Indonesia, dengan merentangkannya dari gagasan Soekarno tentang manusia Indonesia hingga kisah kelam Desa Badur yang diabadikan dalam novel Max Havelaar karya Multatuli.
Hal ini disampaikannya dalam Seminar Guru Besar ITB yang bertajuk 'Sejarah Sebagai Sebuah Gerakan Kebangsaan di Era Pasca-Modernisme' yang diselenggarakan di Balai Pertemuan Ilmiah (BPI) ITB, Bandung, Jumat 27 Februari 2026.
Mengawali paparannya, Bonnie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu secara khusus memilih Soekarno sebagai representasi nasionalisme anti-kolonial. Bonnie merujuk pada buku Jason Stanley yang membagi nasionalisme menjadi dua, yakni anti-kolonial dan supremasi.
"Saya sengaja memilih sosok Soekarno sebagai bagian dari kelompok nasionalis yang anti-kolonial," ujar Bonnie di hadapan para guru besar ITB.
Bonnie kemudian mengupas imajinasi Soekarno tentang manusia Indonesia yang merdeka seutuhnya. Dalam pidato 10 April 1962, Soekarno bermimpi tentang manusia Indonesia yang baru, yang tidak lagi tertindas secara fisik maupun mental.
"Bung Karno bilang, manusia Indonesia itu bukan yang badannya krempeng-krempeng, kecil-kecil. Ini maksudnya stunting kali ya. Yang gagah, berjiwa, tegap. Yang orang Jawa itu nggak cuma nyunggi, sumungku, kata orang Sunda sumuhun, yang tegap, potongan badannya bagus-bagus, membentuk satu jenis Indonesia, manusia Indonesia yang baru, dengan jiwa Indonesia yang baru pula," tutur Bonnie menirukan pidato Bung Karno.
Menurut pendiri Historia.id ini, pidato Soekarno tersebut lahir dari konteks perdebatan sengit mengenai posisi warga Tionghoa di Indonesia pada era 1950-an. Saat itu, kelompok Baperki pimpinan Siauw Giok Tjhan mengusung konsep integrasi wajar, sementara kelompok lain menginginkan asimilasi total.
Bonnie mengutip pernyataan Soekarno yang menengahi perdebatan itu dengan pandangan yang visioner. Kata Bung Karno, bagaimanapun juga ciri fisik tak bisa dihilangkan, yang terpenting adalah mengikis rasialisme.
"Yang terpenting, mereka harus kita pahami sebagai satu kesatuan dialektis. Yang terpenting adalah mengikis habis sisa-sisa rasialisme. Nah, balik lagi nih, rasialisme sebagai invensi, sebagai temuan dari kolonialisme itu sendiri. Jadi Bung Karno, kalau kita tafsirkan di sini, ngomong ciri-ciri fisik, sebenarnya dia ngomong DNA juga nih," jelas Bonnie.
Dari gagasan Soekarno, Bonnie beralih ke kisah kelam yang abadi dalam karya sastra. Bonnie membawa audiens ke Desa Badur, Lebak, Banten, yang menjadi latar novel Max Havelaar karya Multatuli atau Douwes Dekker, seorang asisten residen yang bertugas di Rangkasbitung hanya tiga bulan pada 1856.
Pendiri Museum Multatuli Rangkasbitung ini menceritakan pengalamannya membuat film bersama wartawan Belanda, Arjan Onderdenwijngaard, yang sejak 1987 merekam kehidupan warga Badur. Mereka menelusuri jejak Saijah dan Adinda, dua tokoh fiksi dalam novel yang menggambarkan penderitaan rakyat akibat penjajahan.
Tiga puluh tahun kemudian, Bonnie kembali ke Badur dan mencari anak-anak yang dulu terekam dalam footage tahun 1987. Ia menemukan Rasti dan Jumar, dua orang yang dulu masih bocah, kini hidup dengan nasib yang tak banyak berubah.
"Rasti lulus SD, umur 12 tahun, pergi ke Jakarta, jadi pembantu di sebuah keluarga Angkatan Udara di Halim. Dan bekerja di sana selama 18 tahun. Jumar, lulus SD juga, tidak diteruskan sekolahnya. Dan bekerja serabutan sebagai buruh, segala macam-macam. Kami ketemu 2019, di abad 21. Dan bisa dibayangkan apa yang terjadi di dalam lintasan sejarah selama tiga abad itu," kisah Bonnie.
Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Lebak-Pandeglang ini menyebut rata-rata lama sekolah di wilayah itu hanya 6,5 tahun, setara lulus SD. Bonnie menegaskan bahwa cerita Saijah Adinda tentang kemiskinan dan ketidakberdayaan masih berulang di era modern.
"Inilah yang disebut oleh Anibal Quijano, seorang sosiolog dari Peru, sebagai kolonialitas. Kolonialisme itu bersifat fisik dan administrasi, sudah selesai. Tapi kolonialitas yang prosesnya dibangun sejak zaman kolonialisme itu masih berlangsung sampai hari ini," paparnya.
Bonnie menjelaskan bahwa kolonialitas bekerja melalui kontrol pengetahuan, ekonomi, gender, dan otoritas yang semuanya masih berpola kolonial. Bahkan, ia melihat praktik pejabat yang diiringi patwal sebagai warisan feodal yang terekam dalam novel Multatuli.
"Bahkan saya punya keyakinan, kebiasaan pejabat kita diiring-iring pakai patwal itu datangnya dari zaman feodal. Kalau baca di Max Havelaar disebutkan, keluarga Bupati Cianjur ketika mau berkunjung ke Bupati Lebak diiringi oleh kereta kuda. Banyak banget. Ada pengawalnya, ada tukang ini, tukang bawa itu. Dan saya agak curiga, kebiasaan yang sama sampai sekarang. Sama," ungkapnya.
Menurut Bonnie, baik Soekarno dengan gagasan manusia Indonesia merdeka, maupun Multatuli dengan kritik sosialnya, sama-sama berhadapan dengan musuh yang sama, yaitu kolonialisme dan warisannya. Namun perjuangan melawan kolonialitas ternyata belum usai.
"Jadi, intinya, kita tanpa sadar masih meniru cara-cara yang terjadi di era kolonial. Tugas yang paling berat adalah melakukan dekolonialitas itu. Dan itu tentu harus dilakukan dengan kesadaran sejarah. Kadang-kadang kita lupa gitu," pungkas Bonnie.