Puti Guntur Soekarno Sebut Masyarakat Jepang Telah Menjalankan Nilai-Nilai Pancasila
Sebagai representasi politik rakyat Indonesia, DPR memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi politik dengan negara lain, salah satunya Jepang.
Dalam rangka mempererat hubungan diplomatik dan menjajaki potensi kerja sama, anggota DPR RI Komisi X, Puti Guntur Soekarno Putri, melakukan kunjungan kerja ke Kediaman Duta Besar Jepang di Jakarta.
Kunjungan tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh nasional, termasuk Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
Pada kesempatan itu, Puti Guntur Soekarno menerima penghargaan dari Menteri Luar Negeri periode 2025, sebagai bentuk apresiasi atas prestasinya saat menjabat Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI dengan Parlemen Jepang.
“Perlu saya sampaikan disini, bahwa hubungan saya dengan Jepang sudah terjalin sejak tahun 2015. Saat itu, Kokushikan University sangat ingin mengenal nilai-nilai yang dimiliki Bung Karno. Singkat cerita pembicaraan terus berlanjut, hingga akhirnya saya meng-inisiasi Soekarno Research Centre hadir di Jepang,” ujar Puti dikutip Jumat, 16 Januari 2026.
Ia menjelaskan, dalam rangkaian kerja sama tersebut dirinya juga mendapatkan kesempatan memberikan ceramah untuk menggaungkan pemikiran Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
“Pada kesempatan itu, saya diberikan kesempatan untuk memberikan ceramah dalam rangka menggaungkan pemikiran Ir. Soekarno dengan judul ‘Pancasila Bintang Penuntun’ dan ‘Pancasila Menuju Tata Dunia Baru’,” kata dia.
Menurut cucu Bung Karno itu, pemikiran Pancasila memiliki relevansi kuat sebagai solusi atas tantangan global saat ini.
“Pemikiran Presiden pertama Indonesia, Bung Karno, tentang kekuatan Pancasila sebagai alternatif solusi untuk dunia, bahwa kemajuan global harus berakar pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebersamaan. Saya percaya, implementasi Pancasila harus sesuai perkembangan zaman agar menjadi arus menuju tata dunia baru. Ini saya angkat, untuk menjawab pertanyaan bagaimana Indonesia yang heterogen bisa bersatu dan berkontribusi bagi perdamaian global. Jawabannya ada di Pancasila,” katanya.
Puti menilai, sejarah interaksi Indonesia dan Jepang telah membuka ruang dialog yang sangat berharga. Dialog tersebut tidak hanya berhenti pada tataran teori, tetapi juga pada praktik nilai-nilai kehidupan yang nyata.
“Dalam tataran praksis, saya kira masyarakat Jepang, langsung atau tidak, telah menjadikan nilai-nilai Pancasila menjadi filosofi dan standar moral masyarakat Jepang terlihat dari rasa kebersamaan, disiplin sosial, pernghormatan terhadap harmoni, serta tanggung jawab kolektif. Dan saya lebih hormat lagi sebab nilai-nilai luhur itu tidak diajarkan secara abstrak, melainkan nyata dalam praktek hidup keseharian masyarakatnya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti nilai gotong royong sebagai prinsip penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Menurut Puti, gotong royong sebagai salah satu nilai Pancasila tentu bukan konsep statis, bukan sekedar tindakan, tetapi sebuah prinsip yang menggerakkan, mengorganisir dan memberi arah terhadap kehidupan bersama. Gotong royong hakikatnya adalah pandangan hidup bangsa yang mencerminkan bahwa Indonesia dibangun atas asas ‘semua untuk semua’, bukan ‘yang kuat untuk yang kuat’," kata dia.
Komitmen terhadap nilai kerja sama tersebut, kata Puti, ia jalankan melalui perannya sebagai Ketua GKSB DPR RI periode 2019–2024.
“Oleh sebab itu, komitmen terhadap nilai kerja sama masyarakat Indonesia dan Jepang juga saya jalankan melalui peran saya sebagai Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI periode 2019-2024, khususnya dalam hubungan dengan Parlemen Jepang. Melalui forum ini, kami berupaya memperkuat hubungan diplomasi Indonesia–Jepang yang bercorak people-to-people diplomacy—diplomasi yang berangkat dari perjumpaan manusia, bukan semata kepentingan negara,” tuturnya.
Ketua DPP PDI Perjuangan itu juga mengaku kagum terhadap nilai masyarakat Jepang yang hidup selaras dengan alam. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan pemikiran Megawati Soekarnoputri tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Dalam konteks tersebut, Puti menyampaikan pentingnya transfer pengetahuan, khususnya di bidang mitigasi bencana, mengingat Indonesia dan Jepang sama-sama berada di kawasan rawan bencana.
“Itu semua tak lepas dari pemikiran geopolitik Bung Karno menempatkan kerja sama ekonomi bukan sebagai alat dominasi, melainkan sebagai sarana kesetaraan antar bangsa. Di sinilah saya melihat keunggulan Jepang, berkaitan dengan penguasaan riset dan teknologi, serta industri, tanpa meninggalkan ke-arifan lokal yang dipercaya turun-temurun. Nilai lain masyarakat Jepang yang juga saya kagumi, berkaitan dengan tradisi hidup selaras dengan alam,” tuturnya.
Kunjungan kerja tersebut tidak hanya menjadi momentum penerimaan penghargaan, tetapi juga mempertegas komitmen mempererat hubungan Indonesia–Jepang. Acara ini turut dihadiri keluarga besar Kedutaan Besar Jepang, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, mantan Duta Besar RI untuk Jepang Heri Ahmadi, serta sejumlah tokoh lainnya.