Banjir Bekasi Berangsur Surut, BNPB Catat 45 Desa Masih Terendam di 14 Kecamatan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terjadinya penurunan jumlah wilayah yang terendam banjir di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Meski demikian, BNPB menegaskan bahwa kondisi belum sepenuhnya aman dan masyarakat diminta tetap waspada mengingat potensi hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi.
Penurunan genangan ini menjadi sinyal positif setelah banjir melanda puluhan desa selama beberapa hari terakhir akibat hujan deras berdurasi panjang.
Namun, dampak bencana masih dirasakan oleh puluhan ribu warga yang terdampak langsung, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun keselamatan.
Apa yang Disampaikan BNPB soal Kondisi Terkini Banjir di Bekasi?
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, hingga Senin (2/2/2026), banjir masih melanda 45 desa yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Bekasi.
Meski masih luas, angka tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan kondisi beberapa hari sebelumnya.
BNPB mencatat, pada Jumat (30/1/2026), jumlah wilayah terdampak banjir mencapai 64 desa di 18 kecamatan. Dengan demikian, terjadi penurunan wilayah terdampak yang cukup signifikan.
“Jika dipersentasekan, desa terdampak menurun 29,7 persen dan kecamatan yang terdampak menurun 22 persen,” ujar Abdul Muhari dalam laporan yang dikonfirmasi di Jakarta.
Selain itu, jumlah titik pengungsian juga mengalami penurunan seiring dengan mulai surutnya genangan air di sejumlah permukiman warga.
“Penurunan jumlah titik pengungsian sebesar 14,3 persen, seiring dengan surutnya genangan air di beberapa wilayah permukiman,” kata Abdul.
Berapa Warga yang Masih Terdampak dan Mengungsi?
Meski kondisi berangsur membaik, BNPB mencatat dampak banjir masih cukup besar. Sebanyak 51.796 Kepala Keluarga (KK) dilaporkan terdampak banjir, sementara jumlah warga yang masih mengungsi tercatat sebanyak 1.388 KK.
Para pengungsi tersebut berada di bawah pendampingan tim petugas gabungan. Mereka menempati pengungsian terpusat yang disiapkan pemerintah daerah maupun mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat dan lokasi yang dianggap lebih aman.
Di tengah upaya penanganan, banjir di Kabupaten Bekasi juga menelan korban jiwa. BNPB mencatat dua orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
“Dua korban jiwa meninggal dunia dalam peristiwa banjir, masing-masing disebabkan oleh epilepsi setelah berenang dan tergelincir di sungai saat banjir berlangsung,” ucap Abdul Muhari.
Apakah Dampak Bencana Hanya Banjir?
BNPB menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas sangat deras dan durasi yang panjang tidak hanya memicu banjir, tetapi juga menyebabkan bencana lain berupa tanah longsor. Berdasarkan data yang diterima BNPB, longsor terjadi di delapan titik di Kabupaten Bekasi.
Lokasi longsor tersebut tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Kecamatan Babelan, Tambun Utara, Serang Baru, dan Bojongmangu.
Kondisi ini menambah kompleksitas penanganan bencana karena berpotensi menghambat akses logistik dan mobilitas warga.
Untuk memastikan keselamatan masyarakat, tim reaksi cepat BPBD Kabupaten Bekasi bersama instansi teknis terkait telah dikerahkan ke seluruh lokasi terdampak. Hingga kini, petugas masih bersiaga untuk memastikan kebutuhan dasar korban, seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan tempat tinggal sementara, tetap terpenuhi.
Dalam upaya mempercepat pemulihan sekaligus mengurangi risiko bencana lanjutan, BNPB melakukan pendampingan melekat kepada pemerintah daerah. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Selain itu, BNPB juga berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk mengendalikan debit air sungai dan memperkuat infrastruktur pengendalian banjir.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang