Harga Emas Meroket Awal 2026, Ini Faktor Global yang Jadi Pemicunya

harga emas, Harga Emas Meroket Awal 2026, Ini Faktor Global yang Jadi Pemicunya

Pergerakan harga emas dalam beberapa hari terakhir cenderung menguat tajam, meskipun sempat mengalami penurunan.

Lonjakan terlihat pada harga emas Antam yang meningkat sebesar Rp 167.000 menjadi Rp 3.027.000 per gram pada Senin (2/2/2026).

Di Pegadaian, emas Galeri24 juga mencatat kenaikan besar. Pada Jumat (30/1/2026), harganya melesat dari Rp 3.068.000 menjadi Rp 3.260.000 per gram. 

Pada hari yang sama, emas UBS ikut menguat dari Rp 3.136.000 menjadi Rp 3.275.000 per gram.

Sebelumnya, pada Kamis (29/1/2026), harga emas Antam bahkan menyentuh Rp 3.168.000 per gram setelah mengalami kenaikan Rp 165.000.

Lalu, kenapa harga emas terus melonjak cukup signifikan pada awal 2026?

Faktor yang Membuat Harga Emas Meroket

Menurut ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D, kenaikan harga emas pada awal 2026 sejalan dengan meningkatnya permintaan investor terhadap aset yang aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global. 

Ia menilai, kenaikan harga emas dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta pergerakan nilai tukar dolar AS. 

“Pasar memperkirakan penurunan suku bunga AS, yang melemahkan dolar dan sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven," jelas Wisnu dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

Selain itu, menurut Wisnu, situasi geopolitik global yang masih bergejolak turut mendorong permintaan emas. 

Ketegangan militer, konflik regional, hingga penerapan sanksi ekonomi membuat emas kembali dipandang sebagai instrumen perlindungan terhadap risiko geopolitik.

Permintaan dari bank sentral dan Exchange Traded Fund (ETF) juga menjadi faktor pendorong. 

Bank sentral di sejumlah negara berkembang tercatat aktif menambah cadangan emas, sementara investor institusi meningkatkan pembelian melalui ETF. 

Wisnu menambahkan, inflasi dan ketidakpastian pasar saham turut membuat emas menjadi pilihan utama sebagai pelindung nilai jangka panjang.

Tren Kenaikan Emas Akan Terus Berlanjut

Wisnu memperkirakan, tren penguatan harga emas masih berpeluang berlanjut selama kondisi ekonomi dan politik global belum sepenuhnya stabil. 

Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan dollar AS atau kenaikan suku bunga acuan AS secara signifikan dapat memberikan tekanan terhadap harga emas.

Wisnu menjelaskan, emas tetap diminati masyarakat sebagai instrumen investasi karena beberapa faktor. 

Emas dinilai memiliki kestabilan nilai, mampu melindungi dari inflasi, serta memiliki likuiditas tinggi karena mudah diperjualbelikan. 

Selain itu, emas fisik juga tidak memiliki risiko pihak ketiga, berbeda dengan obligasi maupun aset digital yang berpotensi menghadapi risiko gagal bayar.

Harga Emas Cenderung Stabil dan Meningkat

Lebih lanjut, Wisnu menyampaikan bahwa harga emas cenderung stabil dan meningkat dalam jangka panjang.

Emas juga terbukti terlindung dari inflasi, deflasi, dan krisis ekonomi.

Namun dalam jangka pendek, seperti instrumen investasi lainnya akan ada perubahan yang biasanya merespons terhadap kebijakan suku bunga dan nilai mata uang asing lain, seperti USD, EUR, GBP.

Wisnu menambahkan, meningkatnya ketegangan politik dan ekonomi global mendorong masyarakat untuk memperkuat portofolio melalui aset yang relatif aman. 

Menurutnya, banyak orang yang membeli emas juga salah satu bentuk respons dari kebijakan moneter yang terjadi. 

"Investor mencari aset yang aman dari volatilitas,” pungkas Wisnu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang