Catat! 5 Kebiasaan yang Menyebabkan Anak GTM
Masalah Gerakan Tutup Mulut (GTM) kerap menjadi momok bagi orang tua, terutama saat anak mulai memasuki fase MPASI. Tidak banyak yang sadar, ternyata GTM bisa dipicu kebiasaan sepele lho.
Anak yang sebelumnya lahap, mendadak menolak makan, memilih-milih menu, bahkan tantrum di jam makan. Kondisi ini tidak hanya menguras emosi, tetapi juga memicu kekhawatiran soal asupan gizi dan tumbuh kembang.
Padahal, berbagai studi menunjukkan GTM tidak selalu terjadi karena anak sulit makan secara alami. Banyak kebiasaan sehari-hari orang tua yang tanpa disadari justru memicu penolakan makan.
Oleh sebab itu, pentingnya pola makan yang konsisten dan responsif sejak dini. Berikut lima kebiasaan yang terbukti dapat menyebabkan anak GTM.
1. Memaksa Anak Menghabiskan Makanan
Memaksa anak makan sering dianggap solusi cepat agar porsi terpenuhi. Dikutip dari American Academy of Pediatrics menegaskan tekanan saat makan justru membuat anak kehilangan kontrol atas rasa lapar dan kenyang. Anak bisa mengasosiasikan waktu makan sebagai pengalaman tidak menyenangkan, sehingga menolak makan di kemudian hari.
2. Terlalu Sering Memberi Camilan
Camilan memang membantu mengganjal perut, tetapi jika diberikan terlalu sering, anak kehilangan nafsu makan utama. Mayo Clinic menyebut kebiasaan ngemil berlebihan dapat membuat anak datang ke meja makan dalam kondisi sudah kenyang. Akibatnya, anak menolak makanan utama dan GTM pun muncul.
3. Distraksi Gadget Saat Makan
Memberi gawai agar anak mau membuka mulut masih sering dilakukan. Padahal, World Health Organization (WHO) mengingatkan bahwa distraksi saat makan mengganggu kesadaran anak terhadap proses makan. Anak tidak belajar mengenali tekstur dan rasa makanan, sehingga ketertarikan terhadap makan menurun.
4. Menu Tidak Variatif dan Kurang Tekstur
Mengulang menu yang sama demi alasan praktis bisa berdampak buruk. NHS UK menyarankan orang tua memperkenalkan variasi rasa dan tekstur secara bertahap. Anak yang terbiasa dengan makanan terlalu halus atau monoton berisiko menolak makanan baru saat fase tumbuh kembang berikutnya.
5. Jadwal Makan yang Tidak Konsisten
Jam makan yang berubah-ubah membuat ritme biologis anak kacau. Menurut Cleveland Clinic, tubuh anak membutuhkan pola yang teratur agar sinyal lapar muncul secara alami. Tanpa jadwal yang konsisten, anak cenderung menolak makan karena belum merasa lapar.
GTM bukan sekadar soal anak yang bandel, melainkan sinyal bahwa pola makan perlu dievaluasi. Dengan menghindari kebiasaan yang salah dan membangun pengalaman makan yang positif, orang tua dapat membantu anak kembali menikmati proses makan.
Konsistensi, kesabaran, dan pendekatan yang responsif menjadi kunci agar GTM tidak berlarut dan kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi.