Suhu di Sekitar Erupsi Gunung Lewotobi Capai 40 Derajat, Status Awas Level IV!

Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan suhu udara di sekitar pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tembus 40 derajat Celsius pada periode pemantauan September 2025.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menyebutkan pengamatan visual memperlihatkan suhu udara bervariasi 17–40 derajat Celsius dengan asap kawah putih hingga kelabu, tipis hingga tebal.
“Pengamatan visual menunjukkan suhu udara berkisar antara 17 hingga 40 derajat Celsius, sementara asap kawah utama teramati putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal,” kata Wafid, Selasa (23/9/2025).
Radius bahaya diperluas, aktivitas dilarang total
Dengan kondisi ekstrem ini, Badan Geologi menetapkan zona larangan total dalam radius enam kilometer dari pusat erupsi, serta tujuh kilometer sektoral ke arah barat laut–timur laut.
Wafid menegaskan, aktivitas apapun termasuk pendakian dilarang keras.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar dingin di sungai berhulu Lewotobi jika hujan deras mengguyur.
Desa yang paling berisiko antara lain Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, hingga Nawakote.
Erupsi tercatat 19 kali dalam 6 jam
Analisis instrumental Badan Geologi mengungkap, Gunung Lewotobi Laki-Laki masih sangat aktif.
Dalam periode 21 September 2025 pukul 12.00–18.00 Wita saja, tercatat 19 kali erupsi.
Kolom abu letusan mencapai ketinggian 800 hingga 6.000 meter dari puncak dengan warna kelabu pekat.
Sejumlah guguran juga terdeteksi, meski arah dan jarak luncurannya tidak teramati jelas.
Karakter letusan: eksplosif dan berulang
Gunung Lewotobi Laki-laki meletus pada Senin (22/9/2025)
Sejarah mencatat, Lewotobi Laki-Laki dikenal punya pola letusan eksplosif yang menghasilkan lontaran material pijar, endapan abu, aliran lava, hingga awan panas.Siklus erupsinya bervariasi dari satu hingga 29 tahun.
Kini, status gunung ini berada di level Awas (Level IV) sejak 19 September 2025 menyusul peningkatan kegempaan dan aktivitas permukaan.
Potensi erupsi besar masih rendah
Meski aktivitas meningkat, Badan Geologi menilai energi kumulatif gempa vulkanik menunjukkan potensi erupsi kecil hingga menengah, bukan letusan besar.
“Energi kumulatif gempa vulkanik memang meningkat, namun cenderung menunjukkan potensi erupsi kecil hingga menengah, bukan letusan berskala besar,” ujar Wafid.
Data satelit juga memperlihatkan pola deflasi atau pengempisan tubuh gunung, yang menandakan tidak ada suplai magma dalam jumlah besar.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.