Marinir hingga Brimob Nekat Jadi Tentara Bayaran Rusia, Berapa Gajinya?

Rusia, Brimob, tentara bayaran Rusia, Marinir hingga Brimob Nekat Jadi Tentara Bayaran Rusia, Berapa Gajinya?

Kasus tentara bayaran Rusia sempat menghebohkan publik pada pertengahan 2025 setelah Satria Arta Kumbara, eks Marinir TNI AL, nekat bergabung. 

Satria bahkan sempat membuat unggahan di TikTok yang menampilkan potret dirinya sebelum dan sesudah menjadi tentara bayaran Rusia.

Kini, giliran seorang personel Brimob Polda Aceh, Bripda Muhammad Rio, yang terungkap ikut menjadi tentara bayaran di wilayah Donbass, kawasan konflik antara Rusia dan Ukraina.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Joko Krisdiyanto, mengatakan bahwa Bripda Rio berstatus desersi karena meninggalkan tugas tanpa izin resmi. 

"Bripda Muhammad Rio dikenakan Pasal 13 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri juncto Pasal 4 huruf a dan e serta Pasal 5 Ayat (1) huruf a, b, dan c, serta Pasal 8 huruf c angka 1 Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi Polri dan Komisi Kode Etik Polri, dengan putusan sidang berupa sanksi administratif Pemberhentian Tidak Dengan Hormat atau PTDH," ujar Joko dikutip dari Tribunnews, Sabtu (17/1/2026).

Berkaca dari kasus Satria dan Rio, berapa gaji tentara bayaran Rusia?

Berapa Gaji Tentara Bayaran Rusia?

Merujuk laporan media asal Jerman, DW, Kamis (2/8/2024), gaji warga negara asing yang direkrut sebagai tentara bayaran Rusia untuk bertempur melawan Ukraina bisa mencapai 2.100 euro atau sekitar Rp 41 juta per bulan.

Hal ini terungkap setelah DW mewawancarai seorang pemuda berusia 21 tahun dari Walasmulla (21), Sri Lanka, yang identitasnya dirahasiakan.

Ia sempat menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia untuk bergabung sebagai tentara bayaran. 

Pemuda tersebut mendaftar pada Februari 2024 dan langsung menerima pembayaran awal sebesar 1.800 euro, sekitar Rp 35 juta. Jumlah tersebut belum termasuk bonus yang dijanjikan.

Saat bertempur ketika musim semi, ia terluka dan ditangkap di Ukraina. Pemuda ini lalu dibawa ke rumah sakit di dekat garis depan sebelum diwawancarai oleh DW di bawah pengawasan otoritas setempat.

Sementara itu, seorang pria berusia 35 tahun asal Nepal yang dirahasiakan namanya, juga sempat memutuskan menjadi tentara bayaran Rusia. 

Ia dijanjikan gaji sebesar 1.790 euro per bulan (sekitar Rp 35 juta) dan datang ke Moskow pada Februari 2023 untuk menjalani pemeriksaan fisik sebelum bertugas.

Namun, nasib pria asal Nepal ini berakhir tragis. Ia terluka dalam sebuah pertempuran melawan Ukraina pada April 2024 dan kemudian menjadi tawanan perang (POW) di wilayah barat Ukraina.

Rusia Aktif Rekrut Warga Asing Jadi Tentara Bayaran

Sementara itu, laporan kantor berita nasional Ukraina, UNN, menunjukkan bahwa Rusia secara aktif mencari orang-orang dari luar negeri untuk ikut serta dalam konflik terhadap Ukraina. 

Hal ini dianggap lebih menguntungkan dan lebih murah dibandingkan melanjutkan mobilisasi di dalam negeri.

Perwakilan Direktorat Intelijen Utama Kementerian Pertahanan Ukraina, Andriy Yusov, mengatakan bahwa Rusia melatih warga negara asing menjadi tentara bayaran dari nol. 

"Jika menyangkut pelatihan dari nol, kemungkinan besar mereka adalah spesialis yang tidak terampil dan nasib mereka adalah untuk berpartisipasi dalam serangan brutal," ujarnya dikutip dari UNN, Rabu (14/2/2024).

Yusov menambahkan, warga asing yang direkrut berasal dari berbagai negara, termasuk Somalia, Sierra Leone, Kuba, dan Nepal. 

Menurut Yusov, merekrut tentara bayaran dari luar negeri tidak hanya lebih murah, tetapi juga membantu Rusia menghindari risiko destabilisasi dalam negeri.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang