Waspada Kejahatan Love Scamming, Kenali Modus dan Polanya
Love scamming (penipuan cinta) menjadi salah satu bentuk kejahatan yang perlu diwaspadai di era digital seperti sekarang ini.
Love scamming adalah penipuan berkedok asmara secara online di mana pelaku membangun hubungan asmara palsu untuk memanipulasi perasaan korban demi keuntungan finansial atau materiil.
Kejahatan love scamming bisa dilakukan melalui media sosial, aplikasi kencan, atau aplikasi pesan online.
Agar tidak menjadi korban, penting bagi masyarakat untuk mengenali modus dan pola love scamming yang umum digunakan oleh pelaku, terutama melalui media sosial.
Berikut adalah beberapa pola dan modus love scamming yang perlu diwaspadai:
1. Muncul tiba-tiba dan memberikan perhatian
Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya, menjelaskan salah satu modus yang digunakan para pelaku love scamming adalah memberikan perhatian kepada korban.
Menurut dia, para pelaku mencari korban-korban yang mengalami masalah komunikasi, yang sulit mendapatkan jodoh, atau masalah percintaan lain.
“Sehingga mereka memanfaatkan kelemahan itu untuk mendekati korbannya, dan menjalankan aksinya untuk pura-pura memberikan perhatian”, kata Alfons kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2026).
“Bisa dari Facebook, dari Instagram, atau dari WhatsApp, tau-tau menghubungi, lalu biasanya dengan profil yang sudah direkayasa,” sambung dia.
2. Basa-basi dengan profil menarik
Alfons juga menyebutkan bahwa, untuk melancarkan aksi tersebut korbannya ditipu dengan foto profil yang keren.
“Ada profil artis, profil pejabat ASN, polisi, atau apa. Lalu nanti korbannya akan diminta transfer duit atau (dengan alasan) mau nabung bareng atau apa. Ya, intinya seperti itu,” jelas dia.
Sejalan dengan itu, Psikolog Mira Damayanti Amir juga mengatakan banyak kasus love scamming bermula dari hal sederhana seperti komentar di media sosial atau pesan pribadi (DM).
Dia mengatakan, pelaku biasanya menggunakan foto profil menarik, misalnya tampil profesional untuk membangun kesan kredibel. Namun, bukan berarti semua yang demikian adalah love scamming.
"Awalnya seperti bercanda atau basa-basi. Tapi itu cara pelaku masuk dan mengukur respons korban,” kata Mira.
3. Menghindari ketemu atau permintaan video call
Setelah mendapat respons, Mira mengatakan pelaku biasanya akan berusaha membangun kedekatan emosional dengan cerita personal, pujian, dan perhatian intens.
“Modusnya selalu dimulai dari pujian atau validasi. Mereka tahu betul celah emosi korban,” ujar Mira.
Namun, pelaku love scamming biasanya cenderung menghindari video call atau pertemuan langsung. Mereka akan mengaku kamera rusak, sedang di luar negeri, atau alasan teknis lain.
Namun di sisi lain, mereka menghubungi korban setiap hari, memberi kabar, dan memperkuat ikatan secara virtual.
4. Mulai meminta uang dengan alasan meyakinkan
Setelah kedekatan terbentuk, pelaku akan mulai menyisipkan permintaan, baik pinjaman uang, data pribadi, maupun akses finansial.
Alasannya pun beragam, antara lain untuk biaya administrasi kerja, keluarga sakit, atau tertahan di bandara. Jumlahnya bertahap, dari kecil hingga besar.
“Begitu korban percaya, pelaku mulai bermain di level finansial. Ini puncak dari love scamming,” pungkas Mira.
Dalam beberapa kasus, ada pelaku yang bahkan meminta permintaan tidak biasa seperti meminta kiriman foto yang tidak senonoh.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul:
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang