Ujian Terberat Rasulullah SAW setelah Perjalanan Isra Miraj: Diragukan, Diejek hingga Ditinggalkan

Puluhan Ribu Warga Palestina Laksanakan Shalat Idul Adha di Masjid Al-Aqsa (Doc: Middle East Monitor)
Puluhan Ribu Warga Palestina Laksanakan Shalat Idul Adha di Masjid Al-Aqsa (Doc: Middle East Monitor)

 Peristiwa Isra dan Miraj tidak hanya menjadi tonggak spiritual dalam sejarah Islam, tetapi juga ujian besar bagi keimanan umat pada masa awal dakwah. Alih-alih langsung diterima, kabar perjalanan Rasulullah SAW dalam satu malam justru memicu keguncangan, bahkan membuat sebagian orang yang sebelumnya beriman memilih keluar dari Islam (murtad).

Momentum itu dimanfaatkan Abu Jahal untuk menyerang kredibilitas Rasulullah SAW. Ia melihat Isra Miraj sebagai celah untuk mempermalukan Nabi di hadapan publik Mekah sekaligus menggoyahkan keyakinan kaum Muslimin.

Khalid Muhammad Khalid, dalam buku Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah, mengisahkan bahwa sehari setelah peristiwa Isra dan Miraj, Rasulullah SAW duduk sendiri di Masjidil Haram, merenungi pengalaman yang baru saja dialaminya. Abu Jahal yang melintas lalu mendekat dengan niat mengejek.

Pemandangan Kota Mekah dari puncak Jabal Nur, Gua Hira

“Tak adakah lagi hal (wahyu) yang datang kepadamu tadi malam?” tanya Abu Jahal dengan nada sinis. 

Rasulullah SAW menjawab dengan tenang bahwa beliau telah diperjalankan ke Baitul Maqdis di Syam (Palestina) pada malam sebelumnya. Ketika Abu Jahal menegaskan bahwa Rasulullah kini sudah kembali berada di Mekah, Nabi membenarkannya.

Jawaban itu menjadi pemicu. Abu Jahal segera memanggil orang-orang Quraisy agar berkumpul. Dengan penuh semangat, ia menyebarkan kisah tersebut bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mengolok-olok dan berharap orang-orang yang telah beriman akan meninggalkan Muhammad SAW.

Di tengah kerumunan, seorang Muslim bertanya langsung kepada Rasulullah, “Benarkah engkau di-isra-kan tadi malam?” Rasulullah SAW menjawab tegas bahwa beliau memang diperjalankan dan bahkan melaksanakan salat bersama para nabi. Pernyataan ini membuat suasana semakin riuh. Kaum musyrik menertawakan, sementara sebagian Muslim diliputi keraguan.

Logika perjalanan menjadi senjata ejekan. Orang-orang mempertanyakan bagaimana mungkin perjalanan Mekah–Syam yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan bisa ditempuh hanya dalam satu malam. 

Keraguan itu tidak berhenti di situ. Muhammad Husain Haekal dalam Abu Bakar As-Shiddiq: Sebuah Biografi, mencatat bahwa sebagian orang yang telah memeluk Islam benar-benar murtad.

Sebagian pengikut yang imannya belum kokoh,  tak kuasa menahan tekanan sosial dan logika. Mereka tak sanggup diejek hingga akhirnya melepaskan ISlam, kembali pada kekafiran, karena menganggap nabi telah kehilangan kewarasannya.

Suasana Jabal Uhud di Madinah

Suasana Jabal Uhud di Madinah

Dalam kondisi itulah nama Abu Bakar muncul. Kaum musyrikin mendatangi Abu Bakar karena mereka mengetahui kedekatan dan keimanan sahabat Nabi tersebut.

Mengetahui kabar Isra Miraj Nabi, respons Abu Bakar justru menjadi penegas iman. Setelah memastikan bahwa Rasulullah memang mengatakan hal tersebut, Abu Bakar menyatakan keyakinannya. 

“Siapa yang berbicara? Apakah Muhammad benar mengatakan itu?” tanya Abu Bakar.

“Ya,” jawab kaum musyrikin.

Ia berkata bahwa dirinya telah membenarkan Rasulullah dalam perkara yang jauh lebih besar, yakni turunnya wahyu dari langit setiap pagi dan petang.

“Jika dia yang mengatakannya, maka itu pasti benar. Sungguh aku mempercayainya pada hal yang lebih mustahil dari itu, berita dari langit (wahyu) yang datang padanya tiap sahat,” jawab Abu Bakar.

Jalal ad-Din as-Suyuti dalam Tarikh al-Khulafa menyebut, dari peristiwa inilah Abu Bakar mendapat gelar ash-Shiddiq, sosok yang membenarkan tanpa ragu. Abu Bakar kemudian menemui Rasulullah SAW di masjid dan mendengarkan langsung penjelasan Nabi tentang keadaan Baitul Maqdis. Karena pernah mengunjungi kota itu, Abu Bakar memahami deskripsi yang disampaikan dan menyatakan kepercayaannya secara terbuka.

Ulama Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pada hari berikutnya Rasulullah SAW juga diminta menyebutkan ciri-ciri Baitul Maqdis. Allah menampakkannya kepada beliau sehingga Rasulullah dapat menjelaskannya secara rinci. Selain itu, Nabi juga mengabarkan perihal kafilah dagang Quraisy, termasuk seekor unta yang terlepas dari rombongan, yang kemudian terbukti sesuai kenyataan.

Namun, rangkaian bukti tersebut tidak melunakkan hati kaum penentang. Sebagaimana dicatat Ibnul Qayyim, penjelasan dan tanda-tanda kekuasaan Allah justru membuat mereka semakin menjauh, karena orang-orang zalim tidak menghendaki selain kekufuran.

Peristiwa Isra Miraj dengan demikian bukan hanya kisah perjalanan luar biasa, tetapi momen pemisah yang menyingkap siapa yang beriman karena keyakinan dan siapa yang goyah oleh logika semata. Isra Miraj mengajarkan bahwa akal memiliki batasan, tetapi iman menembus batas.