Penyebab Meninggalnya Yaya Moektio eks God Bless: Dikira Maag hingga Usus Buntu Pecah
Kabar duka kembali menyelimuti dunia musik Indonesia. Drummer senior yang pernah memperkuat sejumlah band legendaris seperti God Bless, Gong 2000, dan Cockpit, Yaya Moektio, wafat pada Senin, 8 Desember 2025.
Musisi berusia 68 tahun itu mengembuskan napas terakhir di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, sekitar pukul 04.00 WIB, hanya beberapa menit sebelum azan Subuh berkumandang. Scroll lebih lanjut yuk!
Pada hari yang sama, jenazahnya dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, diiringi keluarga dan kerabat terdekat.
Di balik kepergiannya, terungkap bahwa penyakit yang selama ini diduga hanya gangguan lambung ternyata merupakan masalah kesehatan serius yang telah berkembang selama bertahun-tahun.
Putra almarhum, Rama Moektio, menjelaskan bahwa gejala yang dialami sang ayah selama tiga tahun terakhir selalu dianggap sebagai sakit maag atau asam lambung.
"Kronologisnya, jadi papa sudah punya penyakit, ternyata penyakit ini usus buntu dasarnya. Tapi enggak dirasa sama papa. Tiga tahun inilah, setiap tahun itu ada tiga kali masuk rumah sakit. Yang dikasih dokter dan apa yang dirasain papa itu kayak asam lambung, kayak maag," ungkap Rama Moektio, mengutip tayangan YouTube, Senin 8 Desember 2025.
Menurut Rama, kondisi itu ternyata menjadi bom waktu. Usus buntu yang tidak tertangani ternyata mengalami peradangan kronis hingga akhirnya pecah dan menimbulkan infeksi luas pada organ-organ vital.
"Akhirnya itu selama tiga tahun ternyata dia (usus buntu) pecah dan sudah meradang. Dokter bilang itu usus buntunya sudah meradang kronis akut. Nah setelah pecah nanahnya itu, dia menyebar, ternyata menjadi bakteri dan infeksi di mana-mana," sambungnya.
Infeksi tersebut menyerang paru-paru, ginjal, hingga sistem tubuh lainnya. Yaya sempat menjalani dua kali operasi. Operasi pertama memberi harapan, namun kondisinya kembali menurun sehingga tindakan bedah kedua terpaksa dilakukan. Sayangnya, infeksi yang telah menyebar membuat peluang pemulihan semakin kecil.
Komplikasi lain pun muncul. Rama mengungkapkan bahwa Tuberkulosis (TB) mendadak menyerang organ-organ yang sebelumnya sehat.
"Untuk selanjutnya ternyata papa tuh di penyakit yang belum ada tuh kayak parunya yang tadinya enggak ada jadi kena TB (Tuberkulosis), terus ususnya yang enggak kenapa-napa jadi kena TB, ginjalnya juga jadi kena. Nah itu yang bikin papa enggak bisa membaik itu karena TB-nya," jelas Rama.
Selama total 17 hari perawatan intensif, Yaya sempat dirawat di RS Mayapada sebelum akhirnya dirujuk ke RS Fatmawati. Kondisinya terus naik turun. Pada hari kelima, komunikasi verbal sudah tidak bisa dilakukan.
"Stabil paling cuma satu hari dia sempat sadar tapi masih bisa 'ngoh-ngoh' (merintih) gitu, karena kan alat mesin masuk," tuturnya.
Kepergian Yaya Moektio menjadi kehilangan besar bagi industri musik Indonesia. Sang drummer dikenang sebagai musisi berdedikasi tinggi yang telah memberi warna penting dalam perjalanan rock Tanah Air. Semoga karya-karyanya tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.