Sebelum Meninggal, Epy Kusnandar Sempat Cerita Soal Kematian

Epy Kusnandar
Epy Kusnandar

 Kepergian Epy Kusnandar meninggalkan duka mendalam, terutama setelah terungkap bahwa sang aktor sudah pernah membahas soal kematian sebelum meninggal dunia. Ceritanya tentang detik-detik sakaratul maut yang dialami ibunda, ketakutannya sendiri ketika sakit, hingga wasiat terakhir yang disampaikannya pada sang istri, kini menjadi potongan perjalanan emosional yang membuat publik tersentuh.

Epy Kusnandar mengenang momen ketika ibunya berada di ambang kematian. Ia merasa ada pesan yang belum sempat diucapkan sang ibunda. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya. 

Epy Kusnandar

“Calon jenazah yang susah meninggal itu kayak kayak ibu saya gitu. Jadi kayak ibu saya yang mewariskan sampai sekarang… Ada kata-kata, ada wasiat yang belum selesai diungkapkan oleh Ibu. Karena sama adik-adik saya itu dia enggak bisa ngobrol,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Pengalaman itu begitu membekas hingga memengaruhi cara Epy memandang kematian. Ketakutan itu kian terasa ketika ia jatuh sakit akibat salah makan dan mengalami diare yang cukup parah. Kondisi tersebut membuat pikirannya melayang pada hal-hal buruk. Bahkan, menurut istrinya, ia kerap mengigau saat tidur. 

“Ini sesuatu yang aduh jangan di jangan diucapkan takut takut takut takut pengaruhnya enggak baik. Tahan tahan jang… Nah selalu itu ada bayangan-bayangan yang enggak enak dari mulai sore…” cerita Epy. 

Karina juga mengaku pada saat itu semakin cemas ketika melihat kondisi suaminya makin melemah dan menolak dibawa ke rumah sakit. Namun, Epy menolak karena berasalan biaya yang mahal. 

“Terus aku lihat lemas badannya udah pucet. Ayo ke rumah sakit nih sekarang yuk… Mahal katanya namanya gitu,” kenangnya.

Di tengah rasa takut menghadapi kemungkinan terburuk, Epy sempat menyampaikan wasiat mengenai tempat pemakaman yang ia inginkan. Ia berharap bisa dimakamkan di Garut, berdampingan dengan ibunda tercinta.

“Ini permintaan terakhir saya… cukup kalau kamu merasa repot kalau saya dimakamin di kampung halaman saya… berdampingan dengan ibu saya. Itu permintaan terakhir saya,” tuturnya.

Namun Karina sebenarnya keberatan dengan keinginan itu karena jarak yang jauh.

“Ngapain ke Garut? Jauh-jauh banget nyusahin orang. Udah di Jakarta aja. Bisa enggak…” ujarnya sambil mencoba menawar, meski akhirnya menyerah karena itu adalah permintaan terakhir sang suami.

Perjalanan hidup Epy sebelumnya juga pernah diuji berat. Pada 2011, ia divonis kanker otak stadium akhir dan hanya diberi waktu empat bulan hidup. Namun ia berhasil melewati masa kritis itu, sebuah momen yang dianggapnya sebagai kesempatan kedua dalam hidup. Kini setelah Epy berpulang, cerita-cerita terakhirnya tentang kematian terasa semakin dalam maknanya.