HKBP Kawal Surat Rekomendasi Penutupan PT TPL di Sumatera Utara
Pimpinan tertinggi Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Ephorus Pdt. Victor Tinambunan, menegaskan pihaknya terus mengawal surat rekomendasi penutupan PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) di Desa Pangombusan, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.
Surat ini akhirnya dikeluarkan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, setelah rapat selama dua jam dengan Sekretariat Bersama (Sekber) Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis dan perwakilan Masyarakat Adat di Kantor Gubernur Sumut.
Rekomendasi Penutupan Jadi Pilihan Terakhir
"Dasar pertimbangan untuk rekomendasi ini, kalau PT TPL tidak ditutup, Sumatera Utara ini tidak akan pernah tenang. Kami tidak akan pernah hidup tenang," ujar Victor seusai pertemuan.
Menurutnya, pemerintah pun tidak akan bisa menjalankan tugasnya dengan tenang karena perusahaan bubur kertas itu telah beroperasi lebih dari 30 tahun.
"Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, ya kami kawal rekomendasi sampai tutup," tegas Victor.
Victor menambahkan soal tahapan penutupan dapat dibahas lebih lanjut, apakah bulan Juni tahun depan atau setengah tahun ke depan, dengan fokus pada kesejahteraan pekerja perusahaan.
"Sesudah ini tutup, satu yang mungkin pasti akan kerja keras untuk mengatasi hal-hal yang lain. Tetapi, dalam perjalanan jangka panjangnya, Sumatera Utara akan lebih sejahtera tanpa TPL. Ekonomi, Danau Toba akan lebih baik, sungai-sungai akan hidup kembali, kehidupan di Sumatera Utara akan jauh lebih baik," jelasnya.
Victor menegaskan bahwa surat rekomendasi harus memuat diktum penutupan PT TPL.
Tim Gubernur dan Sekber akan menyusun rekomendasi ini secara bersama. Victor berharap masyarakat, khususnya petani, dapat mengolah lahannya tanpa gangguan dari pihak TPL.
Gubernur Sumut Siap Teken Surat Rekomendasi
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyatakan akan menandatangani surat rekomendasi penutupan PT TPL pada Senin pekan depan.
"Satu minggu ini. Tadi kita sepakat, jadi minggu depan biar bisa saya teken," ujar Bobby setelah rapat dengan Sekber, Ephorus HKBP, dan Masyarakat Adat.
Durasi satu pekan tersebut digunakan untuk merampungkan sejumlah poin yang akan dilampirkan dalam surat rekomendasi, termasuk pandangan jangka pendek, menengah, dan panjang terkait tenaga kerja.
Bobby menekankan, langkah ini penting agar tidak ada keputusan yang asal mencabut izin, dan pemerintah pusat memperoleh data yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Hal-hal seperti ini nanti akan kita diskusikan sehingga menjadi satu rekomendasi yang baik dari Pemerintah Provinsi ke pusat," kata Bobby.
Masyarakat Adat dan Sekber Dukung Penutupan
Ketua Sekber Gerakan Oikumenis untuk Ekologis Sumatera Utara, Pastor Walden Sitanggang, mengatakan rapat membahas keprihatinan masyarakat di Tapanuli Raya dan wilayah Danau Toba akibat operasional PT TPL.
Masyarakat Adat juga menceritakan pengalaman mereka sebagai korban kriminalisasi, perampasan, dan kerusakan ekologis.
"Kami melihat apresiasi dari Gubernur, dan tadi beliau juga setuju bahwa PT TPL ditutup atau dicabut izin operasionalnya," ujar Pastor Walden.
Ia menambahkan, meski proses penyusunan rekomendasi masih berlangsung, langkah ini menjadi kabar baik bagi masyarakat di kawasan Danau Toba.
Aksi Massa Sebelumnya Tekan Penutupan
Pertemuan ini berlangsung dua pekan setelah ribuan warga terdampak konflik dengan PT TPL menggelar demonstrasi di Kantor Gubernur Sumut pada 10 November 2025.
Massa membawa gondang Batak, ulos, dan spanduk tuntutan, seperti "Selamatkan Tanah Batak. Tutup TPL".
Direktur Program Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Rocky Pasaribu ingin memastikan gubernur menutup TPL dan datang menjumpai warga terdampak.
"Kita ingin memastikan Gubernur menutup TPL. Sampai gubernur datang menjumpai kita," terang Rocky.
Ia menambahkan, gerakan ini merupakan upaya kolektif warga yang telah menderita akibat tindakan perusahaan.
Sebagian artikel telah tayang di Kompas.com dengan judul: dan Bobby Akhirnya Setuju PT Toba Pulp Lestari Ditutup, Surat Rekomendasi Diteken Pekan Depan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang