DPR Jadi Target Teror, Habiburokhman: Standar Pengamanan Sudah Ketat

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 18 Juni 2025
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 18 Juni 2025

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman merespons pernyataan Densus 88 Anti-teror yang menyebut Gedung DPR RI menjadi target teror tersangka perekrut anak-anak jaringan terorisme.

Habiburokhman menyebut penjagaan untuk masuk ke lingkungan DPR RI sudah ketat.

"Kalau aspek keamanan menurut saya sudah cukup maksimal standar pengamanan di DPR ini. Kayak saya juga kadang-kadang masuk ke sini kan saya lihat ada yang jaga, dicek mobil kita, itu kan termasuk mobil anggota kan dicek," ucap Habiburokhman kepada wartawan, dikutip Kamis, 20 November 2025.

"Menurut saya sudah cukup ketat masuk ke DPR, ada deteksi apa namanya, buat logam, ada detektor seperti itu. Menurut saya sudah baik," sambungnya.

Habiburokhman bahkan menilai penjagaan di DPR RI terlalu ketat. Kata dia, ada beberapa tamunya di daerah pemilihan (dapil) sulit masuk ke kawasan DPR.

"Kadang-kadang nih terlalu ketat juga agak repot. Kayak saya itu kadang-kadang agak kesulitan terima tamu ya kan, dari Dapil, Jakarta Timur ke sini nyangkut di depan lama banget gitu kan ya. Padahal sudah apa namanya menunjukkan identitas segala macam," tutur Habiburokhman.

Sebelumnya diberitakan, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri berhasil mengungkap jaringan teroris yang menyasar anak-anak dengan menyebarkan paham radikalisme.

Konpers soal terorisme

Sedikitnya ada lima tersangka yang merupakan orang dewasa berhasil ditangkap dalam operasi gabungan yang berlangsung sejak Desember 2024 hingga Senin, 17 November 2025. Hal itu diungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Polisi Trunoyudo Wisnu Andiko.

Mereka memakai media digital sebagai sarana rekrutmen anak dan pelajar. Kelimanya memanfaatkan platform terbuka seperti Facebook, Instagram, dan game online guna menjaring target, sebelum menghubungi secara pribadi melalui WhatsApp atau Telegram.

“Dalam penangkapan sebelumnya telah ditangkap 3 orang dengan perkara yang berbeda. Dan di grup media sosial tersebut, 5 orang dewasa telah ditangkap,” kata dia, Selasa, 18 November 2025.

Kelima tersangka itu masing-masing berinisial FW alias JT asal Medan; LM (23) asal Banggai, Sulawesi Tengah; PP (37) alias BBMS asal Sleman, Yogyakarta; MSVO (18) asal Tegal, Jawa Tengah; dan JJS alias BS (19) asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Dari penyelidikan Densus 88, tercatat sekitar 110 anak-anak berusia 10 hingga 18 tahun, tersebar di 23 provinsi, diduga telah terpapar paham radikalisme oleh jaringan ini.

“Hingga saat ini, Densus 88 AT Polri mencatat ada sekitar 110 anak-anak yang memiliki usia antara 10 hingga 18 tahun, tersebar di 23 provinsi yang diduga terekrut oleh jaringan terorisme," kata dia.

Sementara itu, Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana menuturkan salah satu pelaku disebut sudah memiliki keinginan untuk melakukan aksi teror di Gedung DPR RI. 

“Dan yang terakhir kemarin kami temukan, salah satu dari pelaku ini juga berkeinginan untuk melakukan aksi di Gedung DPR RI. Nah, ini yang membuat harus segera dilakukan penegakan hukum,” ujar Mayndra.