Apakah Kanker Serviks Bisa Dicegah?
Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak dialami wanita Indonesia. Berdasarkan data Globocan tahun 2022 tercatat ada 662. 662.301 kasus baru kanker serviks di seluruh dunia, dengan 348.874 kematian akibat penyakit ini.
Statistik ini menunjukkan bahwa kanker serviks tetap menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang signifikan. Meski demikian, kanker serviks dapat dicegah melalui berberapa cara. Pertama dengan cara vaksinasi HPV.
Vaksinasi HPV adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah infeksi virus HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut vaksin HPV ini dianjurkan diberikan kepada anak berusia 9-14 tahun sebanyak satu atau dua dosis dalam selang waktu 6-12 bulan, dan remaja usia 15-20 tahun sebanyak satu atau dua dosis dalam selang waktu 6 bulan.
Sementara itu untuk perempuan yang berusia 21 tahun pemberikan dua dosis dalam selang waktu 6 bulan. Vaksin HPV juga bisa diberikan untuk wanita hingga usia 26 tahun atau belum aktif secara seksual.
Selain pemberian vaksin HPV, pencegahan kanker serviks juga bisa dilakukan dengan pemeriksaan pap smear. Pap smear adalah prosedur medis yang dilakukan untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan secara berkala oleh wanita yang telah aktif berhubungan seksual. Sejak usia 21 tahun, kamu sudah perlu melakukan pap smear setidaknya 3 tahun sekali hingga usia 65 tahun.
Berkaitan dengan kanker, baru-baru ini Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) menggelar program bertajuk "Pemberdayaan Sivitas Akademik UI untuk Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker pada Perempuan" dengan mengangkat tema Hadapi Kanker Payudara dan Serviks dengan CINTA (Cegah, IdeNtifikasi, Tanggap dan Atasi) yang digelar dua sesi yakni pada Rabu 29 Oktober dan 6 November 2025. Program ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga tindakan skrining nyata untuk mencegah keterlambatan diagnosis.
”Komitmen kami adalah memberikan manfaat langsung dan berkelanjutan. Sinergi antara akademisi, mitra industri seperti Kimia Farma, dan fasilitas kesehatan primer seperti Puskesmas Mampang Depok, memungkinkan kami memberikan layanan yang lebih luas dan komprehensif kepada masyarakat," ujar Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Dr. Dewi Gayatri, S.Kp., M.Kes.
Acara Gerakan deteksi dini kanker oleh FIK UI
Berbeda dari penyuluhan standar, FIK UI mengerahkan jajaran pakar dan pengajar senior keperawatan onkologi dalam format panel interaktif. Peserta, yang terdiri dari dosen, staf, mahasiswa, dan warga mendapat kesempatan langka untuk mengupas tuntas mitos dan fakta seputar dua kanker pembunuh utama perempuan.
Panel pakar di kedua sesi ini diisi oleh para ahli di bidangnya seperti Prof Yati, Dr. Tri Budi, Dr. Riri Maria, S.Kp., MANP, dan Dr. Hanny Handiyani yang mengupas tuntas urgensi vaksinasi, faktor risiko, dan skrining terkait kanker serviks. Serta pemaparan dari dari Dr. Dewi, Dr. Allenidekania, Prof. Agung Waluyo, S.Kp., M.Sc., Ph.D, dan Dr. Ns. Chiyar Edison, S.Kep., M.Sc, Dr. Tuti Nuraini yang membahas soal kanker payudara.
Tak hanya itu saja, terdapat juga layanan skrining yang dirancang bertahap dan semakin lengkap di sesi kedua. Beberapa layanan tersebut antara lain:
- Pemeriksaan Kesehatan Dasar: Meliputi pengecekan Tensi Darah (TD), Berat Badan (BB), Tinggi Badan (TB) , serta tes darah sederhana untuk Gula Darah, Asam Urat, Kolesterol, dan Hemoglobin (Hb).
- Praktik Langsung: Peserta diminta praktik langsung metode SADARI (Periksa Payudara Sendiri) menggunakan phantom (alat peraga) yang telah disediakan.
- Skrining Kanker Serviks Lanjutan: Pada sesi pertama, panitia menyediakan layanan Pap Smear profesional bekerja sama dengan Kimia Farma. Layanan ini ditingkatkan secara masif pada sesi kedua, yang mencakup tiga metode deteksi sekaligus: Pap Smear, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA Test), dan tes HPV DNA, yang didukung penuh oleh tim medis Kimia Farma dan Puskesmas Mampang.