Sumpah Pemuda 4.0: Dari Dunia Digital ke Aksi Hijau

Transformasi digital.
Transformasi digital.

Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda — momentum bersejarah ketika para pemuda pada 1928 menyatakan tekad untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu.

Namun, sembilan puluh tujuh tahun kemudian, tantangan yang dihadapi para pemuda Indonesia berbeda.

Jika dahulu perjuangan dilakukan melawan penjajahan fisik, kini perjuangan terletak pada bagaimana generasi muda berperan dalam menghadapi era transformasi digital dan krisis lingkungan global.

Seperti diketahui, transformasi digital telah mengubah cara kita bekerja, belajar, dan berinteraksi.

Teknologi informasi kini menjadi senjata utama dalam memperjuangkan kemajuan bangsa. Semangat persatuan dan inovasi ala Sumpah Pemuda perlu diterjemahkan dalam bentuk baru — yakni kolaborasi digital yang membangun.

Transformasi digital tidak hanya soal kemajuan teknologi, tetapi juga tentang tanggung jawab ekologis.

Dunia digital dapat menjadi sarana efektif untuk mendorong gerakan penghijauan dan pelestarian lingkungan.

Hari Sumpah Pemuda bukan hanya peringatan sejarah, tetapi juga panggilan moral bagi generasi muda untuk terus beradaptasi dan berkontribusi.

Di era digital dan tantangan krisis iklim, pemuda Indonesia harus menjadi pelopor — bukan penonton.

Mengambil momentum Hari Sumpah Pemuda, PTPN I Regional 2 menggelar aksi sosial lingkungan sekaligus konsolidasi dengan 33 mitra Kerja Sama Operasional (KSO) di wilayah Megamendung (Puncak), Bogor, Jawa Barat.

Sebanyak 11 ribu pohon berbagai jenis dibagikan kepada masyarakat sekitar dan ditanam di beberapa Lokasi.

Aksi dilanjutkan dengan pencabutan papan pengumuman penutupan sementara kepada delapan wahana wisata milik mitra KSO yang sempat disegel pemerintah dan sekarang telah diizinkan kembali.

Tujuh wahana tersebut mendapat izin Kembali setelah melakukan perbaikan secara menyeluruh sehingga memenuhi kriteria yang disyaratkan.

Menurut Region Head PTPN I Regional 2, Desmanto, aksi ini memiliki dimensi ganda, yaitu penghijauan sekaligus menjadi wadah diskusi terkait perizinan lingkungan baru untuk kawasan wisata.

Ia menyebut muncul kesadaran dan komitmen bersama tentang krusialnya masalah lingkungan hidup dalam setiap izin yang diterbitkan.

"Dari 33 mitra KSO, 13 di antaranya sempat dikenai sanksi lingkungan dan 8 di antaranya telah dicabut sanksinya. Penanaman pohon bukan hanya seremoni, tetapi simbol komitmen PTPN I dalam menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab dan patuh hukum. Kami tidak akan berkompromi dengan pelanggaran lingkungan. Kami juga ingin memastikan kawasan Puncak Bogor yang dikelola PTPN I menjadi contoh pengelolaan aset BUMN yang lestari dan berkelanjutan,” tegas Desmanto.