Sejarah Hari Santri Nasional Tanggal 22 Oktober, Dimulai dari Perjuangan Pasca Proklamasi
Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang perjuangan panjang santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ribuan santri di seluruh Indonesia berkumpul, melantunkan doa, dan mengibarkan bendera merah putih.
Namun, Hari Santri bukan hanya sekadar seremoni keagamaan; di baliknya terdapat kisah heroik tentang semangat, keikhlasan, dan perjuangan bangsa.
Sejarah Hari Santri Nasional
Asal mula peringatan Hari Santri terkait erat dengan perjuangan pasca-Proklamasi.
Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, pasukan Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) berusaha kembali menguasai Indonesia.
Situasi semakin tegang, terutama di Surabaya, setelah insiden penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945, yang menandai ancaman kolonial yang nyata.
Dalam suasana genting ini, KH Hasyim Asy’ari mengumpulkan para kiai dari berbagai daerah di Jawa dan Madura.
Pertemuan tersebut berlangsung pada 21-22 Oktober 1945 di Surabaya dan melahirkan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU), yang menyatakan bahwa membela kemerdekaan Indonesia adalah kewajiban agama bagi setiap Muslim.
Seruan tersebut tidak hanya mengobarkan semangat santri dan umat Islam, tetapi juga menjadi panggilan kebangsaan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Peran Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan
Semangat yang tercipta melalui Resolusi Jihad ini melanjutkan perjuangan dalam pertempuran besar 10 November 1945 di Surabaya, yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Dari sinilah, peran santri dan ulama dalam menjaga kedaulatan bangsa tercatat dalam sejarah sebagai kekuatan moral dan spiritual dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Penetapan Hari Santri Nasional
Puluhan tahun setelah peristiwa tersebut, semangat 22 Oktober kembali dihidupkan oleh generasi muda pesantren.
Pada tahun 2014, sekelompok santri dari Pondok Pesantren Babussalam di Malang mengusulkan kepada pemerintah untuk menetapkan satu hari khusus untuk mengenang peran santri dalam perjuangan bangsa.
Usulan ini mendapat sambutan positif dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang mengajukan tanggal 22 Oktober sebagai hari yang memiliki makna historis mendalam.
Tanggal tersebut merujuk pada seruan jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari untuk melawan penjajahan.
Setelah melalui berbagai diskusi dan pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional.
Penetapan ini dilakukan pada 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal, sebagai penghormatan terhadap dedikasi santri terhadap bangsa dan negara.
Makna Hari Santri Nasional
Hari Santri kini menjadi momen untuk memperkuat nilai-nilai nasionalisme, keikhlasan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Santri masa kini diharapkan melanjutkan perjuangan para pendahulu dengan cara-cara baru, melalui pendidikan, moralitas, dan pengabdian kepada masyarakat.
Mereka diharapkan dapat menjadi penjaga nilai kebangsaan di tengah tantangan zaman, melawan kebodohan, intoleransi, dan kemiskinan pengetahuan.
Tema Hari Santri 2025
Hari Santri 2025 mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia”.
Tema ini menegaskan bahwa santri tidak hanya berperan dalam sejarah kemerdekaan, tetapi juga memainkan peran penting dalam menjaga nilai moral, budaya, dan intelektual bangsa di tengah tantangan globalisasi.
Dengan tema ini, diharapkan santri dapat terus berkontribusi dalam membangun bangsa, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun kebudayaan, serta menghadapi tantangan global dengan menjaga identitas bangsa yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Sebagian artikel telah tayang di Kompas.com dengan judul: dan sejarah-hari-santri-nasional-22-oktober-dari-resolusi-jihad-hingga-penetapan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.