Cuaca Panas Ekstrem Bikin Gampang Sakit?
Cuaca panas tengah melanda di berbagai kota di Indonesia. Terkait dengan cuaca panas ini, Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Guswanto, mengungkap alasan mengapa temperatur atau suhu terasa lebih panas di sejumlah wilayah di Indonesia. Menurut penjelasannya, bahwa suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia ini terjadi akibat posisi matahari sekarang sudah bergeser di selatan tanah air.
"Saat ini kenapa terlihat panas? Karena di sisi selatan matahari sekarang itu udah bergeser di selatan wilayah Indonesia. Ini juga menyebabkan pertumbuhan awan hujan itu juga sudah jarang di wilayah selatan,” jelasnya saat ditemui awak media usai ditemui dalam acara exspose Pengendalian Karhutla Tahun 2025 di Kantor Kemenhut, Senin 13 Oktober 2025.
Cuaca yang terasa panas disebut-sebut bisa berdampak pada penurunan imunitas tubuh. Benarkah demikian? Epidemiolog dan Ahli Kesehatan Lingkungan dari Griffith University, Dr. Dicky Budiman menjelaskan bahwa cuaca panas memang bisa menurunkan kekebalan tubuh atau imunitas. Tetapi mekanismenya tidak serta-merta secara langsung.
”Melalui beberapa mekanisme fisiologis dan perilaku. Penurunan daya tahan tubuhnya biasanya karena stress fisiologis dan perubahan gaya hidup akibat panas. Kedua kalau bicara mekanisme ilmiah hubungan cuaca panas dengan daya tahan tubuh, itu ada setidaknya 4 mekanisme yang bisa menjelaskan,” kata dia saat dihubungi VIVA.co.id, Selasa 14 Oktober 2025.
Dicky menjelaskan empat mekanisme cuaca panas menurunkan daya tahan tubuh. Pertama akibat adanya dehidrasi dan gangguan kesimbangan elektrolit. Kedua adanya stress panas atau heat stress dan peningkatan kortisol. Lalu ketigam gangguan tidur dan pola makan, yang ini akhirnya juga menurunkan daya tahan tubuh, dan terakhir peningkatan risiko infeksi dan peradangan.
”Berbicara dehidrasi yang pertama tadi dan gangguan kesimbangan elektrolit, tentu manusia saat panas kehilangan banyak cairan melalui keringat. Terutama kalau cakupan airnya kurang, ini akan dehidrasi ringan hingga sedang yang akhirnya bisa menurunkan volume plasma darah, memperbarat kerja jantung, menurunkan sirkulasi ke organ dan jaringan, juga menghambat fungsi sel imun seperti limfosit dan notropil. Akibatnya sistem imun jadi kurang efisien melawan infeksi,” jelas dia.
Terkait dengan stress panas serta peningkatan kortisol, dijelaskan Dicky paparan panas berlebih itu menyebabkan tubuh mengalami heat stress. Kondisi ini yang memicu pelepasan hormon stress seperti kortisol dan adrenalin.
”Nah ini yang akan bisa terus meningkat. Kalau keduanya terus meningkat karena panas itu, maka ini yang akan melakukan efektivitas sistem antibody, imun. Juga menurunkan produksi antibody, juga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus atau bakteri,” kata dia.
Terkait dengan gangguan tidur dan pola makan. Dijelaskan Dicky cuaca panas sering membuat tidur tidak nyenyak dan menurunkan nafsu makan. Padahal tidur berkualitas itu sangat berperan penting dalam pembentukan sel imun baru. Sedangkan nutrisi seimbang diperlukan untuk sintesis immunoglobulin dan sitokin.
”Jadi kalau keduanya terganggu ya otomatis imunitas ikut terganggu. Keempat terkait peningkatan risiko infeksi dan peredangan ini terutama misalnya di kulit ataupun saluran nafas. Ingat kondisi tubuh yang lemah dan dehidrasi itu mempermudah patogen masuk dan berkembang,” kata dia.