Keris Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro yang Hilang, Diperdebatkan, dan Akan Pulang Lagi ke Tanah Air
Nama Keris Nogo Siluman selalu melekat dalam kisah Pangeran Diponegoro.
Senjata ini bukan sekadar pusaka, melainkan saksi bisu perlawanan selama Perang Jawa (1825–1830).
Namun, sejak sang pangeran ditangkap, keris tersebut raib dan kisahnya terpecah dalam misteri.
Kini, pemerintah Indonesia kembali membuka jalan untuk memulangkan pusaka itu dari Belanda.
Jejak Hilang Sejak 1830
Keris Nogo Siluman terakhir berada di tangan Pangeran Diponegoro pada masa perang melawan Belanda.
Seusai penangkapan di Magelang pada 28 Maret 1830, pusaka itu menghilang.
Seiring waktu, muncul catatan penting. Salah satunya adalah surat Sentot Prawirodirjo, panglima Diponegoro, yang menyebut keris itu diserahkan kepada Kolonel Jan-Baptist Cleerens.
Dari Cleerens, keris ini kemudian dihadiahkan kepada Raja Willem I.
Di sisi lain, maestro lukis Raden Saleh turut memberikan kesaksian.
Ia pernah melihat langsung keris tersebut di Belanda, dengan ciri ukiran naga berlapis emas pada bilahnya.
Simbol Naga dalam Pusaka
Menurut Dr. Kuntadi Wasi Darmojo, Dosen Prodi Keris ISI Surakarta, penamaan Nogo Siluman merujuk pada ukiran naga yang tersembunyi di bagian bawah keris.
Sosok naga ini hanya terlihat dari sudut tertentu. Dalam budaya Jawa, naga adalah simbol kekuatan, penghubung antara dunia manusia dan alam gaib.
Keris Nogo Siluman diyakini memiliki luk 11. Ukiran naga pada bilahnya dipadu dengan motif flora yang dilapisi emas.
Namun, tidak semua catatan sepakat. Ada yang menggambarkannya sebagai ukiran naga penuh, ada pula yang menyebut hiasan hanya di bagian bawah bilah.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon bersama pejabat terkait dalam Taklimat Media di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025).
Perjalanan Keris Nogo Siluman ke Belanda
Setelah berada di tangan Raja Willem I, keris ini sempat disimpan di Koninklijke Kabinet van Zaldzaamheden (KKZ) atau Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik di Den Haag.
Setelah KKZ dibubarkan pada 1833, keris dipindahkan ke Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda, yang kini menjadi bagian dari National Museum of World Cultures (NMVW).
Selama hampir dua abad, keris ini hanya bisa disaksikan lewat dokumentasi dan kesaksian, hingga akhirnya muncul momentum pemulangannya.
Pemulangan 2020 dan Perdebatan Panjang
Pada 5 Maret 2020, pemerintah Belanda resmi menyerahkan Keris Nogo Siluman kepada Indonesia.
Serah terima dilakukan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Ingrid van Engelshoven, kepada Duta Besar RI I Gusti Agung Wesaka Puja.
Keris tersebut kemudian dipajang di Museum Nasional dan kini disimpan di Museum Keris Solo.
Namun, kehadirannya justru memicu perdebatan di kalangan ahli keris.
Dr. Kuntadi menjelaskan, bentuk fisik keris yang dipulangkan saat itu dinilai berbeda dengan pakem dhapur Nogo Siluman.
Beberapa ahli menilai bentuknya justru mirip dengan dhapur Nogo Raja.
“Ketika dikatakan bentuk dhapurnya keris Nogo Siluman, ternyata bentuknya mirip dhapur keris Nogo Raja. Jadi muncul perdebatan kala itu,” kata Dr. Kuntadi, saat dihubungi KOMPAS.com, Sabtu (4/10/2025).
Kontroversi ini membuat sebagian kalangan bertanya: apakah keris yang dipulangkan pada 2020 benar-benar pusaka Diponegoro, ataukah ada keris lain yang masih tersimpan di Belanda?
Rencana Pemulangan Keris Nogo Siluman pada 2025
Kini, di era Presiden Prabowo Subianto, pemerintah kembali menegaskan tekad memulangkan koleksi bersejarah dari luar negeri, termasuk keris Nogo Siluman.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut pemulangan benda pusaka ini sebagai bagian dari pemulihan kedaulatan budaya Indonesia.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi visual atas keris yang dimaksud. Dr. Kuntadi pun mengaku belum melihat langsung fisiknya.
“Kalau ditanya apakah berbeda dengan keris yang dipulangkan pada 2020, saya belum bisa memastikan,” ujarnya.
Simbol Perlawanan dan Kedaulatan Budaya
Dikutip dari pemberitaan KOMPAS.com pada 2023 lalu, sejarawan UGM, Dr. Sri Margana, menegaskan bahwa keris ini bukan hanya benda keramat, tetapi benar-benar dipakai dalam pertempuran Perang Jawa.
Kerusakan pada bilahnya menunjukkan jejak perlawanan Diponegoro.
Jika rencana pemulangan terbaru terealisasi, keris ini akan ditempatkan di Museum Nasional, berdampingan dengan koleksi fosil Homo Erectus Dubois yang juga akan tiba pada akhir 2025.
Bagi bangsa Indonesia, kembalinya keris ini bukan hanya soal benda bersejarah, melainkan pengakuan terhadap perjuangan Diponegoro sekaligus pemulihan identitas budaya.
Kisah Keris Nogo Siluman adalah cermin perjalanan panjang bangsa, dari pusaka perang, menjadi koleksi kolonial, hingga kini simbol pemulangan kedaulatan.
Apakah keris yang akan kembali benar-benar berbeda dari yang sudah tiba pada 2020, masih menjadi tanda tanya.
Namun yang pasti, setiap upaya memulangkan pusaka leluhur adalah langkah penting untuk meneguhkan kembali jati diri dan sejarah bangsa.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul dan "Keris Kiai Nogo Siluman, Pusaka Milik Pangeran Diponegoro".