Waspada Ancaman Tersembunyi di Balik Makanan Ultra-Proses
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, makanan praktis sering kali menjadi pilihan utama.
Namun, di balik kepraktisan tersebut, ada bahaya yang patut diwaspadai: makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF).
Apa itu makanan ultra-proses?
Sistem klasifikasi Nova digunakan para ahli untuk membedakan tingkat pengolahan makanan.
- Level dasar: makanan alami seperti buah, sayuran segar, atau daging mentah.
- Olahan sederhana: bahan dapur seperti gula, garam, dan minyak.
- Olahan ringan: produk yang diproses agar lebih awet, contohnya keju, ikan kaleng, atau acar.
Sementara itu, UPF melalui proses industri yang jauh lebih kompleks. Zat tambahan seperti pengawet, pemanis buatan, pewarna, hingga penyedap buatan sering dimasukkan ke dalam produk ini. Akibatnya, kandungan gizi aslinya semakin berkurang.
hari dari UPF adalah biskuit kemasan, sereal sarapan manis, makanan beku siap saji, nugget, sosis, hingga kue instan.
Beberapa produk bahkan dikemas dengan label “sehat” seperti granola atau cornflakes, padahal kadar gulanya sangat tinggi.
Ciri-ciri makanan ultra-proses
Membedakan UPF dari makanan olahan biasa memang tidak selalu mudah. Namun, beberapa tanda berikut bisa membantu:
- Tinggi kadar gula, garam, atau lemak jenuh (cek label kemasan).
- Mengandung bahan asing atau istilah kimia yang jarang terdengar, misalnya hydrogenated fat atau sirup jagung fruktosa.
- Umur simpan panjang yang tidak wajar.
- Praktis dikonsumsi, hanya perlu dipanaskan sebentar.
- Sulit dibuat sendiri di rumah karena menggunakan bahan yang tidak umum.
Dampak buruk bagi tubuh
Sejumlah penelitian besar mengungkapkan betapa seriusnya dampak konsumsi UPF berlebihan.
Mengenal ultra-processed food atau makanan ultra olahan yang dilarang BGN untuk jadi menu MBG
Mengonsumsi lebih dari empat porsi per hari terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 10 persen dan memperbesar kemungkinan kematian dini sampai 62 persen.
Beberapa efek lain yang telah teridentifikasi antara lain:
- Kenaikan berat badan: Studi pada 2019 menunjukkan orang yang rutin makan UPF cenderung mengalami peningkatan berat badan dibanding mereka yang makan makanan segar.
- Gangguan kesehatan mental: Riset tahun 2022 menemukan hubungan erat antara konsumsi tinggi UPF dengan meningkatnya gejala depresi dan kecemasan.
- Penurunan fungsi kognitif: Penelitian di Brasil mengungkap bahwa asupan UPF lebih dari 20 persen total kalori harian dapat menurunkan kemampuan berpikir, belajar, dan memecahkan masalah hingga 28 persen.
Meski praktis, makanan ultra-proses membawa risiko kesehatan jangka panjang yang tidak bisa diabaikan.
Langkah sederhana seperti mengurangi konsumsi makanan kemasan, memilih bahan segar, serta memperbanyak makanan yang diproses minimal adalah cara terbaik untuk melindungi tubuh dari ancaman UPF.