Peneliti Internasional Imbau Masyarakat Dunia Kurangi Konsumsi Makanan Ultra-proses, Ada Apa?

Peneliti internasional mengimbau seluruh pihak untuk segera mengurangi konsumsi makanan ultra-proses atau ultra processed food (UPF) di seluruh dunia.
Hal ini dilakukan berdasarkan tinjauan global penelitian yang mengungkap banyaknya bahaya makanan ultra-proses terhadap kesehatan.
Dilansir dari BBC (19/11/2025), cara makan kita dari makanan segar menjadi makanan olahan yang murah dan instan, sangat mengancam tubuh karena meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk obesitas dan depresi.
Dalam tulisan mereka di The Lancet, para peneliti mengatakan pemerintah di seluruh dunia perlu meningkatkan langkah dan memperkenalkan peringatan serta pajak lebih tinggi pada produk UPF, untuk membantu pendanaan akses ke makanan yang lebih bergizi.
Apa itu makanan ultra-proses?
Makanan ultra-proses adalah produk olahan yang umumnya mengandung lebih dari satu bahan yang dikenal dengan produk olahan industri.
Dilansir dari (2/10/2025), makanan ini cenderung mengandung sejumlah zat aditif dan bahan pengawet, pengemulsi, pemanis, pewarna, serta perasa buatan.
Contoh UPF adalah sosis, keripik, pastry, biskuit, sup instan, minuman bersoda, es krim, dan roti-roti yang dijual di supermarket.
Survei yang sudah dilakukan peneliti menunjukkan bahwa makanan hasil industri ini meningkat dalam pola makan di seluruh dunia.
Dan hal tersebut membuat masyarakat jadi kebanyakan gula dan lemak tidak sehat serta kekurangan serat dan protein.
12 kondisi kesehatan yang dipicu UPF
Tinjauan bukti mengenai dampak UPF terhadap kesehatan, yang dilakukan oleh 43 pakar global dan didasarkan pada 104 studi jangka panjang, menunjukkan bahwa makanan ini terkait dengan peningkatan risiko 12 kondisi kesehatan.
Yaitu diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, depresi, dan kematian dini dari sebab apa pun.
Penulis tinjauan, Prof Carlos Monteiro dari Universitas Sao Paulo, Brasil mengatakan, meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses sedang membentuk ulang pola makan di seluruh dunia, menggantikan makanan segar dan yang diproses minimal.
“Perubahan dalam apa yang dimakan orang dipicu oleh korporasi global kuat yang meraih keuntungan besar dengan memprioritaskan produk ultra-proses, didukung pemasaran besar-besaran dan lobi politik untuk menghentikan kebijakan kesehatan publik yang mendukung pola makan sehat,” tambahnya.
Sedangkan rekan penulis, Dr Phillip Baker dari Universitas Sydney mengatakan, untuk mengatasi ancaman ini, perlu adanya respons masyarakat global yang kuat, seperti upaya terkoordinasi untuk menantang industri tembakau.
Meski begitu, tinjauan ini mengakui kurangnya uji coba klinis yang menunjukkan secara tepat bagaimana UPF merusak kesehatan. Tapi, hal itu tak lantas boleh menunda tindakan untuk melindungi masyarakat dunia dari potensi bahaya kesehatan.
Kritik dari beberapa pihak
Beberapa pihak melontarkan kritik soal sistem klasifikasi Nova dalam survey tersebut dengan mengatakan bahwa sistem tersebut terlalu bertumpu pada tingkat pemrosesan makanan, bukan pada nilai gizi suatu makanan tertentu.
Misalnya, roti gandum utuh, sereal sarapan, yoghurt rendah lemak, susu formula bayi, dan fillet ikan beku berlapis tepung semuanya termasuk ultra-proses tetapi tetap memiliki banyak manfaat.
Prof Kevin McConway, profesor emeritus statistik terapan dari Open University, mengatakan bahwa studi seperti itu dapat menemukan korelasi, tetapi tidak bisa memastikan sebab-akibat.
“Menurut saya, kemungkinan besar setidaknya beberapa UPF dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit kronis. Namun ini jelas tidak membuktikan bahwa semua UPF meningkatkan risiko penyakit,” ujarnya.
Masih belum jelas aspek apa dari makanan ultra-proses yang dapat menyebabkan atau berkontribusi pada penyakit.
Prof Jules Griffin dari Universitas Aberdeen mengatakan ada beberapa sisi positif dari pemrosesan makanan, dan penelitian lebih jauh untuk memahami bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan kita sangat diperlukan.
FDF yang mewakili industri mengatakan, UPF dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang, seperti kacang polong beku dan roti gandum utuh.
"Perusahaan-perusahaan telah melakukan serangkaian perubahan selama bertahun-tahun untuk membuat makanan dan minuman yang dibeli masyarakat menjadi lebih sehat, sesuai dengan pedoman pemerintah," ujar Kate Halliwell, kepala ilmuwan FDF.
Ia menambahkan bahwa jumlah gula dan garam dalam produk yang dijual di toko telah turun sepertiga sejak 2015.
Komite Penasihat Ilmiah tentang Nutrisi di Inggris (SACN) mengatakan awal tahun ini bahwa hubungan antara konsumsi UPF yang lebih tinggi dan hasil kesehatan yang buruk termasuk “mengkhawatirkan”.
Namun mereka menambahkan bahwa masih “tidak jelas” apakah makanan ini tidak sehat karena prosesnya atau karena banyak di antaranya tinggi kalori, lemak jenuh, garam, dan gula bebas.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang