Arsenal Melawan "Kutukan" Nomor 2

JIKA ukurannya trofi yang diraih semasa jadi pemain, Mikel Arteta Amatriain telah memberikan hal yang sama kepada Arsenal: Trofi Piala FA. Dua trofi semasa jadi pemain The Gunners dan satu trofi lagi saat debut melatih Arsenal musim 2019/2020.
Saya masih ingat Arteta melakukannya dengan mendepak Chelsea 2-1 di final. Pelatih The Blues, Frank Lampard harus mengakui keperkasaan skuad asuhan Arteta. Namun, Arteta tidak diangkut ke Emirates Stadium untuk trofi FA. Jelas bukan.
Ia diminta menambah koleksi trofi Liga Premier Inggris dan mendulang trofi Liga Champions Eropa yang dalam 139 tahun sejarah Arsenal baru menjadi mimpi. Dan dalam lima tahun kepelatihan Arteta dua trofi mayor itu belum dapat digenggamnya.
Belakangan status Arsenal sekadar nyaris juara. Ini terutama menghampirinya di musim 2022/2023.
Kala itu pasukan Arteta memimpin klasemen dengan keunggulan lima poin atas Manchester City yang diarsiteki Pep Guardiola--guru Arteta semasa menjadi asisten pelatih. Dengan 50 poin di paruh musim, Arsenal telah digadang-gadang bakal juara.
Menuju bulan Mei, Arsenal 'kehilangan nafas'. Laju kemenangan mereka tersendat selepas seri kontra Liverpool, West Ham dan Southampton.
Di laga superpenting Arsenal malah digasak 1-4 oleh juara bertahan, City. Laga ini menjadi titik balik bagi kedua tim.
Ditambah memiliki dua laga tunda, City akhirnya menyalip dan menjadi kampiun lagi. Dari tertinggal lima poin, tim biru langit menutup musim dengan unggul lima poin dari Arsenal.
Di musim berikutnya, Arsenal juga bersaing dengan hebat versus City. Martin Odegaard dkk sempat berada di puncak klasemen cukup lama, tapi ditikung oleh City pada pekan ke-36. Kala itu Erling Haaland dkk unggul dua poin.
Di pekan ke-38, Arsenal kembali menangis karena laju tim asuhan Guardiola tidak tertahan. City unggul empat poin sehingga meraih trofi EPL selama empat musim beruntun.
Di musim 2023/2024, City kebetulan sedang sangar-sangarnya--meraih treble: juara Liga Premier Inggris, Piala FA serta Liga Champions.
Stempel nyaris juara melekat betul pada Arsenal. Kisah musim lalu, 2024/2025, tak gemerlap. Liverpool digdaya justru ketika ditinggal pergi Juergen Klopp yang memutuskan mundur.
Penggantinya, Arne Slot, secara mengejutkan sukses menggalang supremasi di tanah Inggris. Ini terjadi ketika kinerja City melorot dan performa Arsenal tidak terlalu kinclong.
The Reds sudah jawara Inggris di pekan ke-34 atau sebulan sebelum kompetisi berakhir. Dalam duel kontra Tottenham Hotspur di stadion Anfield, 27 April 2025, Mohamed Salah dkk menang 5-1.
Arsenal tetap berada di kursinya, yakni peringkat dua. Sementara City terpental di urutan tiga dan Chelsea masuk lagi zona Champions dengan mengamankan posisi keempat. Posisi dua tak pernah bisa dirayakan karena itu sama dengan menyaksikan musuh menggaet trofi.
Kalau harus dicatat dengan sedikit manis, kinerja Arsenal di Liga Champions lumayan. Ketika City, Liverpool dan Aston Villa tersingkar di babak play off, 16 besar dan 8 besar, Arsenal menyelamatkan muka Inggris dengan menyegel semifinal.
Ini adalah prestasi lumayan setelah 16 tahun tim dari kota London itu tak sanggup melaju sejauh itu.
Arsenal pun menang dengan gaya, yaitu menyingkirkan juara bertahan Real Madrid dengan agregat 5-1.
Dua gol tendangan bebas yang indah dari Declan Rice di stadion Emirates akan dikenang sebagai kenangan manis dalam sejarah Arsenal. Arsenal menang di kandang dan tandang.
Cuma itu dia. Arsenal terlalu cepat puas diri sebelum trofi Liga Champions benar-benar diraih. Di babak semifinal, Arteta tak berkutik menghadapi taktik Luis Enrique yang memoles Paris Saint-Germain.
PSG menyikut Arsenal dua kali lewat kemenangan tipis 1-0 dan 2-1. Lagi-lagi klub dari Inggris bertekuk lutut dari Les Parisiens. Dan sejarah lalu mencatat PSG menjadi raja Eropa usai menang telak 5-0 atas Inter Milan di laga puncak.
Dengan prestasi satu trofi Piala FA, tiga kali runner up EPL serta satu kali semifinalis Liga Champions, Arteta memang masih jauh dari Arsene Wenger.
Sejauh ini Wenger hampir setara dengan sosok Alex Ferguson di Manchester United. Wenger mengantar Thierry Henry dkk ke final Liga Champions musim 2005/2006.
Bertemu Barcelona di partai puncak, Arsenal sedang di pucuk optimisme dalam bermain sepak bola. Generasi emas yang coba menaklukkan Eropa.
Namun, final itu berujung muram bagi Arsenal. Sempat unggul 1-0 di babak pertama, Barca comeback dengan menceploskan dua gol. Buat Arsenal situasinya benar-benar tidak ideal karena kiper Jens Lehman mendapat kartu merah di menit ke-18.
Henry menerima kekalahan itu dengan berat hati. Seandainya tak ada kartu merah itu. Seandainya wasit "tidak berat sebelah", gerutu legenda Arsenal itu belakangan hari.
Selain Henry dan Lehmann, line up Arsenal diisi oleh Ashley Cole, Sol Campbell, Kolo Toure, Emmanuel Eboue, Gilberto Silva, Freddie Ljungberg, Cesc Fabregas, Alexander Helb dan Robert Pires.
Mereka ini rata-rata anggota "the invincibles" musim 2003/2004. Prestasi yang sulit ditandingi karena Arsenal di musim itu juara Liga Premier Inggris tanpa tersentuh kekalahan.
Ini rekor yang sulit disamai klub lain--bahkan Alex Ferguson dan Pep Guardiola tak sanggup melakukan sihir "sang profesor" Wenger.
2008, pria Perancis itu mengumpulkan 17 trofi untuk Arsenal---terdiri atas tiga trofi EPL, 7 trofi Piala FA dan 7 trofi "hiburan" bernama Community Shield.
Sejak 2004 hingga saat ini, 21 tahunan, Arsenal belum juara EPL lagi. Dan sejak 2006 atau 19 tahunan, Arsenal tidak nongol di partai final Liga Champions.
Arteta sangat jauh dari rekor Wenger. Musim ini adalah pertaruhannya. Menurut saya, situasinya menuju "sekarang atau tidak sama sekali".
Dalam adu lari menggondol trofi EPL, Arsenal harus menghitung tiga klub: Liverpool, City dan Chelsea. Di level Eropa situasinya lebih kompleks karena kekuatan sepak bola makin bertambah dan merata.
Skuad Arsenal berubah. Pilar utama tim dalam tiga musim terakhir masih bersama Arteta. The Gunners menggelontorkan hampir 300 juta Euro untuk menebus Martin Zubimendi, Viktor Gyokeres, Eberechi Eze, Noni Madueke, Christian Norgaard, Cristhian Mosquera, Kepa Arrizabalaga hingga Piero Hincapie.
Zubimendi yang kini sering dipilih Arteta masuk line up dibeli dengan banderol 70 juta Euro. Eze dan Madueke juga menambah alternatif di posisi winger. Begitu pula Gyokeres yang diplot mengisi nomor 9 karena Gabriel Jesus dan Kai Havertz yang cidera.
Pemain masuk bisa sebanyak itu karena tak sedikit yang pergi, termasuk Kieran Tierney, Jorginho hingga Oleksandr Zinchenko.
Arteta gemar bermain dengan skema tradisional 4-3-3. Pria kelahiran San Sebastian, Spanyol itu mengandalkan sayap yang memanfaatkan lebar lapangan.
Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli adalah senjata utama di sisi kanan dan kiri untuk mengoyak pertahanan lawan. Ada pula Leandro Trossard.
Sementara benteng di jantung pertahanan dikawal duet "abadi", yaitu William Saliba dan Gabriel Magalhaes. Sedang kiper disegel David Raya. Kemudi permainan dipercayakan pada sang kapten, Martin Odegaard serta jangkar seharga 100 juta poundsterling, Declan Rice.
Jika modal bersama selama tiga musim dapat mengasah pengalaman, kekuatan serta mentalitas tim, Arteta boleh bermimpi meraih trofi Liga Premier Inggris saat berusia 44 tahun lebih dua bulan pada Mei 2026.
Terlebih dahulu, Arteta yang selalu serius dari pinggir lapangan ini harus mengusir 'kehilangan nafas' di paruh kedua musim (awal tahun atau Januari).
Arteta juga mesti memompa semangat, motivasi dan daya tahan para pemainnya untuk melawan "kutukan" nomor dua.
Dalam tempo secepat-cepatnya, David Raya dkk juga perlu segera melupakan kekalahan 0-1 dari Liverpool untuk menyulam musim yang berpihak kepada mereka. Siapa tahun musim ini adalah waktunya Arsenal.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.