Juara Setelah 22 Tahun, Coach Justin Tetap Kritik Cara Main Arsenal: Cuma Ngandelin Set Piece

Pemain Arsenal Kai Havertz rayakan gol
Pemain Arsenal Kai Havertz rayakan gol

 Penantian panjang selama 22 tahun akhirnya berakhir. Arsenal resmi keluar sebagai juara Premier League 2025/2026 setelah Manchester City gagal menang saat bertandang ke markas Bournemouth.

Hasil imbang 1-1 yang diraih pasukan Pep Guardiola di Vitality Stadium, Rabu dini hari WIB, memastikan The Gunners tak lagi bisa dikejar di puncak klasemen. Gelar ini menjadi trofi Liga Inggris pertama Arsenal sejak era legendaris “The Invincibles” musim 2003/2004.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Euforia pun pecah di kalangan fans Arsenal. Namun di tengah perayaan besar tersebut, pengamat sepakbola Justinus Lhaksana atau akrab disapa  Coach Justin justru memberikan pandangan berbeda.

Coach Justin mengaku tetap bahagia melihat Arsenal akhirnya juara setelah menunggu lebih dari dua dekade. Tetapi, menurutnya, cara Arsenal meraih gelar musim ini masih menyisakan banyak catatan.

“Kalau dibilang juara ya pasti gue happy lah. Tapi gue harap fans Arsenal juga kritis, kita nikmati kemenangan ini, kejuaraan ini, tapi semoga kalian kritis nggak cuma lihat menang-menang doang,” kata Coach Justin dikutip dari akun YouTube Justinus Lhaksana.

Pengamat sepakbola, Coach Justin

Menurut pria yang akrab disapa Coach Justin itu, gelar Arsenal musim ini tidak lepas dari buruknya performa para rival utama, terutama Manchester City.

Ia bahkan menyebut musim 2025/2026 sebagai salah satu musim terburuk City dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu terlihat dari inkonsistensi permainan hingga banyaknya kesalahan elementer yang dilakukan skuad Pep Guardiola.

“Kalau City seburuk itu musim ini, kenapa harus sampai detik-detik terakhir Arsenal jadi juara? Artinya Arsenal nggak sedahsyat itu,” ujarnya.

Coach Justin menilai Arsenal sebenarnya gagal menunjukkan dominasi penuh sepanjang musim. Ia menyoroti sejumlah kemenangan Arsenal yang dianggap tidak terlalu meyakinkan, termasuk ketika menghadapi tim papan bawah.

“Lawan West Ham rank 19 itu butuh VAR untuk menang. Lawan Burnley rank 20 butuh corner kick heading. Jadi nggak sedahsyat itu,” katanya.

Tak hanya itu, mantan pelatih futsal Timnas Indonesia tersebut juga mengkritik gaya bermain Arsenal yang dinilai terlalu bergantung pada situasi bola mati.

Menurutnya, tim sekelas Arsenal seharusnya mampu tampil lebih dominan dalam permainan terbuka setelah menghabiskan dana transfer sangat besar sejak era Mikel Arteta dimulai.

“Berapa gol yang Arsenal cetak dari set piece? Goal is goal, betul. Tapi apakah iya setelah tujuh tahun keluar 1,2 miliar cuma ngandelin set piece, ngandelin corner kick,” ucap Coach Justin.

Komentar paling mengejutkan muncul saat dirinya ditanya soal masa depan Mikel Arteta. Meski baru saja membawa Arsenal juara Liga Inggris, Coach Justin tetap berpendapat bahwa Arteta sudah mencapai batas maksimalnya bersama klub London Utara tersebut.

“Untuk gue Arteta out. Dia udah definitely nggak bisa berubah lebih bagus lagi,” tegasnya.

Meski begitu, ia meyakini Arsenal tidak akan melepas Arteta dalam waktu dekat. Alasannya bukan semata soal prestasi, tetapi karena klub tetap mendapatkan keuntungan finansial besar dari konsistensi tampil di Liga Champions dan bersaing di papan atas.

“Dengan runner-up atau masuk Champions League sampai semifinal, dia make money. Dan buat owner itu duit nomor satu,” katanya.

Di sisi lain, Coach Justin melihat Arsenal justru memiliki peluang besar di Liga Champions musim ini. Ia percaya gaya bermain tim-tim Eropa yang lebih terbuka bisa menguntungkan The Gunners.

Arsenal sendiri dijadwalkan menghadapi Paris Saint-Germain di final Liga Champions UEFA pada 30 Mei mendatang. Menurut Coach Justin, tekanan justru ada di kubu PSG yang sejak lama mengincar trofi Liga Champions demi mengangkat status klub mereka di Eropa.

“Pressure-nya itu di PSG bukan Arsenal. Arsenal main lepas,” ujarnya.

Ia juga berharap gelar Premier League ini bisa menjadi suntikan moral penting bagi Bukayo Saka dan kawan-kawan untuk memburu trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub. Meski tetap kritis terhadap performa Arsenal musim ini, Coach Justin menegaskan bahwa para fans tetap layak menikmati momen bersejarah tersebut.

“Anyway kita nikmati dulu. Setelah 22 tahun ya gue yakin kalian happy kayak gue sekarang,” tutup Coach Justin.

Sebelumnya, Arsenal memastikan gelar Premier League 2025/2026 usai pesaing terdekat mereka, Manchester City, gagal meraih kemenangan saat bertandang ke markas Bournemouth di Stadion Vitality, Rabu dini hari WIB. Dalam pertandingan tersebut, City hanya mampu bermain imbang 1-1.

Bournemouth sempat mengejutkan tim tamu lewat gol Eli Junior Kroupi pada menit ke-38. Manchester City yang tampil menekan sejak awal sebenarnya memiliki sejumlah peluang melalui Jeremy Doku hingga Abdukodir Khusanov, namun gagal berbuah gol.

City baru mampu menyamakan kedudukan pada masa injury time lewat striker andalan mereka, Erling Haaland, tepatnya pada menit 90+5. Hasil imbang itu membuat skuad Pep Guardiola tertahan di posisi kedua klasemen dengan 78 poin dari 37 pertandingan.

Jumlah poin tersebut sudah tidak mungkin lagi mengejar Arsenal yang berada di puncak klasemen dengan 82 poin. Dengan hanya menyisakan satu laga, The Gunners resmi mengunci gelar Liga Inggris musim ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keberhasilan tersebut sekaligus mengakhiri penantian panjang Arsenal selama 22 tahun untuk kembali menjadi penguasa sepakbola Inggris. Terakhir kali Arsenal menjuarai liga terjadi pada musim 2003/2004 dalam era legendaris “The Invincibles”.

Gelar musim ini juga menjadi trofi Liga Inggris ke-14 sepanjang sejarah Arsenal dan yang keempat sejak kompetisi berubah format menjadi Premier League.