Mikel Arteta Sempat Diminta Dipecat Sebelum Antar Arsenal Juara Premier League 2025/2026

Manajer Arsenal Mikel Arteta
Manajer Arsenal Mikel Arteta

 Penantian panjang pendukung Arsenal akhirnya benar-benar berakhir. Setelah bertahun-tahun dicap sebagai “spesialis runner-up”, klub asal London Utara itu sukses menuntaskan kutukan yang menghantui sejak era kejayaan Arsene Wenger dan tim Invincibles musim 2003-2004.

Gelar Liga Inggris musim ini terasa jauh lebih emosional karena Arsenal sempat melewati masa-masa yang nyaris membuat mereka kembali gagal. Dalam tiga musim terakhir, The Gunners selalu berada di jalur juara tetapi akhirnya terpeleset di tikungan terakhir. Bahkan, mereka sempat mencatatkan rekor pahit sebagai tim yang paling lama berada di puncak klasemen tanpa menjadi juara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kini semua berubah. Di balik keberhasilan itu, satu nama berdiri paling depan: Mikel Arteta. Pelatih asal Spanyol tersebut akhirnya membuktikan bahwa kesabaran manajemen Arsenal bukan keputusan yang sia-sia.

Arteta datang ke Emirates Stadium pada Desember 2019 dengan status pelatih muda minim pengalaman. Banyak yang meragukan kapasitasnya untuk mengangkat Arsenal kembali ke level elite Eropa. Namun perlahan, mantan kapten Arsenal itu membangun fondasi baru yang kini berbuah manis.

Dalam sebuah wawancara bulan lalu, Arteta mengungkapkan bagaimana ia mencoba mengubah budaya di dalam klub sejak hari pertama.

“Saya menghabiskan tiga bulan pertama berbicara dengan semua orang di klub dari berbagai peran berbeda,” ujar Arteta dikutip The Guardian.

Ia kemudian meminta seluruh staf menggambarkan apa arti bekerja di Arsenal lewat sebuah “word cloud”. Namun hasilnya tidak membuatnya puas.

“Kata-kata itu tidak saya sukai sehingga harus diubah. Kami membutuhkan sesuatu yang hidup setiap hari dan bisa diwujudkan dalam tindakan. Lalu saya membeli pohon zaitun,” katanya.

Pohon itu bukan sekadar dekorasi. Bagi Arteta, pohon tersebut menjadi simbol akar sejarah Arsenal sejak klub berdiri pada 1886 sekaligus representasi budaya baru yang ingin ia bangun.

“Dalam lingkungan kami, semuanya membutuhkan perhatian dan detail. Kadang badai datang, situasi membeku, lalu bagaimana kami meresponsnya? Saat matahari bersinar semuanya memang mudah. Tapi ketika situasi sulit datang, bagaimana cara kami merawat semuanya? Itu yang ingin direpresentasikan,” lanjutnya.

Ucapan Arteta sempat dianggap berlebihan dan bahkan terdengar seperti gimmick motivasi semata. Namun hasil di lapangan membungkam kritik tersebut.

Salah satu titik penting revolusi Arsenal terjadi ketika Arteta berani mendepak mantan kapten mereka, Pierre-Emerick Aubameyang. Keputusan itu sempat menuai kontroversi besar, tetapi justru memperlihatkan bahwa Arteta ingin membangun ruang ganti yang disiplin dan sepenuhnya mengikuti visinya.

Dukungan penuh pemilik klub, Stan Kroenke dan Josh Kroenke, juga menjadi faktor penting. Keduanya tetap percaya kepada Arteta meski Arsenal beberapa kali gagal di fase akhir perebutan gelar.

Kepercayaan itu dibayar mahal musim ini. Arsenal bergerak agresif di bursa transfer dengan mendatangkan sejumlah pemain penting. Mereka menghabiskan sekitar 250 juta poundsterling atau setara Rp5,5 triliun untuk memperkuat skuad.

Nama seperti Eberechi Eze direkrut dari Crystal Palace dengan nilai transfer 67,5 juta poundsterling atau sekitar Rp1,49 triliun. Sementara striker tajam Viktor Gyokeres diboyong dengan mahar sekitar 64 juta poundsterling atau Rp1,41 triliun.

Meski rival mereka, Liverpool, menghabiskan dana jauh lebih besar hingga hampir 450 juta poundsterling atau sekitar Rp9,9 triliun, Arsenal justru tampil lebih stabil sepanjang musim.

Pemain Arsenal Kai Havertz rayakan gol

Kekuatan utama Arsenal musim ini ada di lini belakang. Pertahanan solid mereka menjadi pondasi keberhasilan meraih gelar. Setelah kalah tipis dari Liverpool pada Agustus akibat tendangan bebas spektakuler Dominik Szoboszlai, Arsenal hanya kebobolan dua gol dalam tujuh pertandingan Premier League berikutnya.

Mereka bahkan sempat mencatat delapan clean sheet beruntun di semua kompetisi.

Ketangguhan mental Arsenal benar-benar diuji pada Desember ketika mereka kalah dramatis dari Aston Villa. Banyak pengamat menilai kekalahan itu akan menghancurkan momentum mereka.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Arsenal bangkit dengan menyapu bersih lima kemenangan beruntun di periode sibuk akhir tahun. Mereka juga tampil sempurna di Liga Champions dengan memenangi seluruh delapan laga fase grup.

Saat ditanya apa hal yang paling membuatnya bangga musim ini, Arteta menjawab:

“Mungkin kemampuan kami beradaptasi dalam situasi yang sangat sulit dan tetap bisa menang sebanyak ini.”

Selain pertahanan, Arsenal juga menjadi tim yang sangat mematikan lewat bola mati berkat tangan dingin Nicolas Jover. Mereka memecahkan rekor Premier League untuk jumlah gol dari situasi sepak pojok.

Menariknya, lebih dari sepertiga total gol Arsenal musim ini berasal dari set piece. Namun faktor terbesar yang membuat Arsenal akhirnya juara adalah mentalitas mereka. Setelah dua kali kalah dari Manchester City, banyak pihak menganggap Arsenal kembali akan runtuh di momen penting.

Semua berubah setelah Declan Rice meneriakkan kalimat penuh semangat seusai laga di Etihad Stadium.

“Ini belum selesai,” tegasnya.

Kalimat singkat itu ternyata menjadi titik balik musim Arsenal. Setelahnya, mereka menyapu empat kemenangan beruntun tanpa kebobolan satu gol pun. Kini jalanan Islington bersiap dipenuhi lautan merah putih dalam parade juara yang telah lama dirindukan pendukung Arsenal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keberhasilan ini juga diyakini baru permulaan. Arteta dikabarkan segera menandatangani kontrak baru bernilai fantastis sebagai penghargaan atas keberhasilannya mengembalikan Arsenal ke puncak sepak bola Inggris. Pemilik klub bahkan menegaskan proyek besar mereka belum berhenti.

“Tidak akan ada kata berhenti ketika musim selesai. Kami akan terus maju dan tanpa henti mengejar perkembangan,” tulis Stan dan Josh Kroenke dalam catatan resmi klub.