Arsenal Gagal Juara Liga Champions, Legenda The Gunners Ngamuk: Kalian Senang Lihat Kami Menderita!

Pemain Arsenal, David Raya menangis saat gagal juara Liga Champions
Pemain Arsenal, David Raya menangis saat gagal juara Liga Champions

 Kekalahan Arsenal di final Liga Champions 2026 ternyata tak hanya meninggalkan luka bagi para pemain dan pendukung The Gunners. Legenda klub, Perry Groves, juga dibuat geram melihat banyak pihak yang justru bergembira atas penderitaan tim kesayangannya.

Arsenal harus mengubur mimpi meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub setelah tumbang dari Paris Saint-Germain (PSG) lewat adu penalti di Puskas Arena, Budapest, Sabtu malam waktu setempat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pasukan Mikel Arteta sebenarnya sempat berada di atas angin. Gol cepat Kai Havertz membuat Arsenal unggul lebih dulu. Namun, PSG berhasil menyamakan kedudukan lewat penalti Ousmane Dembele pada babak kedua.

Skor 1-1 bertahan hingga perpanjangan waktu dan laga pun harus ditentukan melalui adu penalti. Petaka datang ketika Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes gagal menjalankan tugasnya. Tendangan Gabriel bahkan melambung jauh di atas mistar, membuka jalan bagi PSG untuk mempertahankan gelar juara.

Usai pertandingan, sejumlah rival Arsenal tak mampu menyembunyikan rasa senang mereka. Dua presenter talkSPORT, Gabby Agbonlahor dan Jason Cundy, menjadi sosok yang paling vokal mengkritik The Gunners.

Agbonlahor bahkan menyebut kemenangan PSG sebagai kemenangan bagi sepak bola.

"Hari ini sepak bola yang menang. PSG jauh lebih baik, terutama di babak kedua. Arsenal mencoba memainkan sepak bola defensif dan mereka gagal. Dengan cara bermain seperti itu, mereka tidak pantas menjadi juara Liga Champions," katanya.

Sementara itu, mantan pemain Chelsea Jason Cundy menilai Arsenal kembali gagal membuktikan diri di kompetisi Eropa.

"Arsenal adalah salah satu tim dengan catatan terburuk di Eropa. Mereka pantas memenangkan Premier League, tapi tidak pantas memenangkan Liga Champions," ujar Cundy.

Komentar tersebut langsung memancing reaksi keras dari Perry Groves yang hadir dalam siaran yang sama. Mantan pemain Arsenal berusia 61 tahun itu menolak segala bentuk ucapan simpati yang menurutnya tidak tulus.

"Saya tidak butuh belas kasihan kalian. Simpan saja ucapan itu untuk diri sendiri. Kalian sebenarnya senang melihat Arsenal kalah," kata Groves dengan nada tinggi.

Ia mengaku tak memahami mengapa banyak orang justru menikmati kesialan klub lain.

"Saya dibesarkan dengan prinsip untuk berusaha sukses dan mencapai tujuan sendiri. Kalau orang lain sukses, saya ikut senang untuk mereka. Saya tidak mengerti kenapa ada yang begitu menikmati penderitaan orang lain," lanjutnya.

Meski demikian, Groves juga mengakui ada satu pengecualian dalam hidupnya, yakni rival sekota Arsenal, Tottenham Hotspur.

"Kalau Spurs memenangkan final Liga Champions 2019, mungkin saya sudah pindah ke Sydney bersama anak saya," ujarnya sambil bercanda.

Terlepas dari rivalitas tersebut, Groves tetap menilai tim Inggris seharusnya saling mendukung saat tampil di kompetisi Eropa.

"Saya ingin tim Inggris berprestasi. Saya tidak hidup dengan kebencian. Menghabiskan energi untuk membenci klub lain itu dangkal," tegasnya.

Tak hanya membela Arsenal dari kritik, Groves juga pasang badan untuk strategi yang diterapkan Arteta di final. Statistik menunjukkan PSG mendominasi pertandingan dengan penguasaan bola mencapai 75,3 persen.

Menurut Groves, Arsenal tidak punya banyak pilihan selain bermain pragmatis menghadapi kualitas lini depan PSG yang dianggap lebih unggul.

"Ini olahraga level elite. Kalau pertandingan dibuat terbuka seperti basket, PSG pasti menang karena mereka punya penyerang yang lebih baik. Arsenal hanya berusaha mencari cara untuk bertahan dan memenangkan pertandingan," katanya.

Sementara itu, ejekan terhadap Arsenal juga datang dari Chelsea. Tak lama setelah The Gunners kalah, akun resmi The Blues mengunggah promosi tur Stadion Stamford Bridge dengan kalimat bernada sindiran.

"Datang dan kunjungi rumah trofi di London," tulis Chelsea.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun beberapa saat kemudian, Chelsea mencoba meredakan suasana dengan memberikan ucapan selamat kepada Arsenal atas keberhasilan menjuarai Premier League dan perjalanan impresif mereka di Liga Champions musim ini.

Meski gagal mengangkat Si Kuping Besar, Arsenal tetap menutup musim dengan status juara Premier League. Namun kekalahan menyakitkan di Budapest dipastikan akan menjadi motivasi tambahan bagi Arteta dan anak asuhnya untuk kembali mencoba peruntungan di Eropa musim depan.