Wanita yang Sudah Menopause Rentan Kena Serangan Jantung, Kenali 5 Tanda Bahayanya!
Menopause adalah salah satu fase besar bagi perempuan, ini juga merupakan sebuah masa transisi penting. Pada fase ini terjadi banyak fluktuasi hormon karena menstruasi berhenti, yang sering menimbulkan gejala seperti hot flashes (rasa panas tiba-tiba) dan perubahan mood.
Namun, perubahan hormon ini juga membawa risiko yang lebih serius yakni serangan jantung. Konsultan kardiologi intervensi di Manipal Hospital, Old Airport Road, Dr. Anand R Shenoy menjelaskan bahwa penurunan drastis hormon estrogen setelah menopause adalah salah satu penyebab utamanya. Estrogen sendiri adalah hormon penting yang berperan dalam menjaga kesehatan jantung.
“Estrogen membantu menjaga pembuluh darah tetap rileks, meningkatkan aliran darah, dan menurunkan kadar kolesterol jahat. Ketika kadar estrogen turun drastis, tekanan darah meningkat, kolesterol berubah, dan lemak menumpuk di sekitar jantung. Semua ini memicu risiko serangan jantung yang lebih tinggi. Gejala menopause seperti hot flashes dan keringat malam juga dikaitkan dengan penyakit jantung,” kata dia dikutip dari laman Hindustime, Rabu 10 September 2025.
Selain itu, serangan jantung pada perempuan seringkali lebih sulit dikenali. Menurut Dr. Shenoy, perempuan cenderung memiliki persepsi risiko yang lebih rendah. Akibatnya, banyak kasus tidak terdiagnosis atau terlambat didiagnosis, karena gejalanya sering berbeda dari yang umum diketahui dan kadang tumpang tindih dengan kondisi kesehatan lain.
Dr. Shenoy menambahkan, perempuan bisa lebih waspada dengan cara rutin memeriksa tekanan darah setiap minggu, menjalani skrining jantung komprehensif setahun sekali. Selain itu penting mengenali tanda-tanda serangan jantung, hingga melakukan perubahan gaya hidup sehat secara proaktif.
Pemantauan gejala dapat membantu deteksi dini dan pencegahan serangan jantung, terutama di masa rentan seperti menopause.
5 Tanda Peringatan Serangan Jantung pada Perempuan Menopause
- Nyeri atau ketidaknyamanan di dada: bukan selalu nyeri hebat, bisa berupa rasa tidak nyaman disertai nyeri di punggung, leher, rahang, atau lengan.
- Sesak napas: kesulitan bernapas bahkan saat melakukan aktivitas ringan.
- Palpitasi: jantung berdebar tidak teratur atau terasa ada denyut yang hilang.
- Pusing atau merasa melayang: mudah merasa lemah dan tidak seimbang.
- Kelelahan: rasa lelah yang tidak biasa atau kelemahan berlebihan.
5 Tips Pencegahan dan Pengelolaan Risiko
1. Olahraga
- Target berat badan ideal dengan BMI < 25.
- Lakukan olahraga aerobik intensitas sedang minimal 150 menit per minggu (misalnya 30 menit per sesi, 5 hari seminggu).
- Atau olahraga intensitas tinggi 75 menit per minggu.
2. Pola Makan
- Konsumsi makanan seimbang: buah, sayur, biji-bijian, dan protein tanpa lemak.
- Kurangi lemak jenuh, gula, dan garam berlebih.
3. Kelola Stres
- Terapkan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam.
4. Tidur Berkualitas
- Tidur cukup dan berkualitas (7–8 jam per malam).
- Tidur yang baik membantu mengurangi stres dan menjaga kesehatan jantung.
5. Berhenti Merokok
- Berhenti merokok menurunkan risiko penyakit jantung dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Risiko Berlaku untuk Perimenopause dan Pasca-Menopause
Menurut Dr. Shenoy untuk menurunkan risiko penyakit jantung saat menopause, semua perempuan pada masa perimenopause maupun pasca-menopause harus dinilai faktor risikonya dan diedukasi mengenai gaya hidup sehat bagi jantung, agar dapat mencapai kesehatan kardiovaskular yang optimal.
Bagi yang belum tahu, pasca-menopause adalah kondisi ketika perempuan tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Sedangkan perimenopause adalah fase menjelang menopause, ditandai dengan gejala seperti hot flashes dan siklus haid tidak teratur. Fase ini bisa berlangsung beberapa tahun sebelum menstruasi benar-benar berhenti.
Menurut laporan Cleveland Clinic, tahap perimenopause bisa dimulai 10 tahun sebelum menopause terakhir, umumnya di pertengahan usia 40-an, dengan durasi rata-rata 4–8 tahun. Artinya, perempuan mulai akhir usia 30-an sudah sebaiknya menerapkan kebiasaan hidup sehat untuk jantung, sekaligus segera mencari bantuan medis jika muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan.