Tak Hanya Wanita Pria Juga Bisa Menopause, Kenali Ciri-cirinya!

Ilustrasi pria
Ilustrasi pria

Menopause ternyata bukan hanya terjadi pada wanita, pria juga bisa mengalaminya yang disebut sebagai Andropause. Seiring dengan usia, kadar testosteron pada pria menurun secara alami, dan hal ini bisa memengaruhi energi, suasana hati, hingga kesejahteraan secara keseluruhan.

Menurut konsultan andrologi mikrosurgikal dan urologi di Asian Institute of Nephrology and Urology, Chennai, Dr. Sanjay Prakash J, proses Andropause ini terjadi secara perlahan dan sering kali dipengaruhi oleh gaya hidup serta penyakit kronis.

“Ketika kita mendengar kata menopause, yang langsung terlintas adalah perubahan fisik dan emosional yang dialami wanita di usia paruh baya. Tapi, ya, pria juga mengalami versi mereka sendiri dari transisi hormonal yang disebut andropause, late-onset hypogonadism, atau penurunan testosteron akibat penuaan. Bedanya, proses ini tidak berlangsung tiba-tiba seperti pada wanita, namun dampaknya terhadap kesehatan, energi, suasana hati, dan kehidupan seksual tetap nyata,” kata dia dikutip dari laman Hindustan Times, Senin 10 November 2025.

Lebih lanjut, ia menambahkan, pada pria, kadar testosteron hormon utama laki-laki, mulai menurun perlahan sejak usia pertengahan 30-an, sekitar 0,4 persen per tahun (berdasarkan penelitian European Ageing Male Study). Penurunan ini menyebabkan energi berkurang, gairah seksual menurun, serta perubahan pada kondisi fisik dan mental.

Tidak seperti menopause pada wanita yang merupakan tonggak biologis, perubahan hormonal pada pria sering kali berhubungan erat dengan gaya hidup dan penyakit kronis. Obesitas, diabetes, stres berkepanjangan, dan penggunaan obat-obatan tertentu dapat semakin menekan kadar testosteron di luar yang seharusnya terjadi karena penuaan alami.

“Jadi, meskipun penuaan menjadi penyebab utama, faktor-faktor lain inilah yang membuat sebagian pria merasakan gejalanya lebih berat,” kata dia.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Menurut Dr. Prakash, andropause bisa muncul dalam berbagai bentuk seperti rasa lelah terus-menerus meski sudah beristirahat, perubahan suasana hati seperti mudah marah, depresi, atau meningkatnya kecemasan. Selain itu, tanda lainnya seperti penurunan gairah seksual dan gangguan performa seperti disfungsi ereksi, hilangnya massa otot, peningkatan lemak tubuh terutama di area perut, hingga gejala seperti hot flashes (rasa panas tiba-tiba) atau keringat berlebih, dan gangguan tidur patut diwaspadai.

“Perubahan ini biasanya terjadi secara bertahap antara usia 40 hingga 60 tahun, dan sering disalahartikan sebagai tanda penuaan biasa atau stres pekerjaan,” kata dia.

Kesadaran Adalah Kunci

Masih banyak kebingungan soal menopause pada pria karena gejalanya sering kali mirip dengan tanda-tanda penuaan umum atau penyakit kronis lainnya.

“Diagnosis biasanya melibatkan evaluasi klinis, tes darah untuk memeriksa kadar testosteron, analisis faktor lain yang berkontribusi, serta menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala tersebut,” jelas Dr. Prakash.

Untuk mengatasinya, dibutuhkan pendekatan menyeluruh. Langkah awal yang paling penting adalah memperbaiki gaya hidup dengan menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengurangi konsumsi alkohol, dan mengelola stres. Selain itu, menangani penyakit penyerta seperti obesitas, sleep apnea, diabetes, dan penyakit kronis lainnya juga dapat membantu mencegah penurunan hormon yang lebih parah.

“Dukungan psikologis melalui konseling atau terapi juga bisa sangat membantu untuk memperbaiki suasana hati dan kualitas hidup. Pada pria yang memang terbukti mengalami defisiensi testosteron dengan gejala signifikan, terapi penggantian testosteron (Testosterone Replacement Therapy atau TRT) bisa dipertimbangkan, namun hanya di bawah pengawasan dokter karena memiliki risiko tertentu,” ujarnya.

Dr. Prakash menjelaskan bahwa TRT tersedia dalam berbagai bentuk mulai dari suntikan, gel, implan, semprotan hidung, hingga obat oral (meski bentuk ini kurang direkomendasikan). Ia menegaskan, TRT tidak boleh diberikan pada pria dengan kanker prostat stadium lanjut atau metastatik, kanker payudara pria, gagal jantung berat yang tidak terkontrol, pria yang masih ingin memiliki anak, kadar sel darah merah tinggi (>54 persen), serta mereka dengan riwayat keluarga penggumpalan darah (venous thromboembolism).

Dia menekankan bahwa pria memang tidak mengalami menopause seperti wanita, tetapi mereka bisa mengalami penurunan hormon secara bertahap seiring bertambahnya usia yang dikenal sebagai andropause atau late-onset hypogonadism.

“Menurut pengalaman saya sebagai dokter, kurangnya kesadaran adalah penghalang terbesar. Sama seperti bagaimana masyarakat mendorong wanita untuk memahami dan mengelola menopause, kita juga perlu mendorong pria agar mau mengenali dan mengatasi andropause tanpa stigma. Pemeriksaan kesehatan rutin, skrining hormon setelah usia 40 tahun, serta konsultasi aktif dengan ahli urologi atau andrologi dapat membantu pria menjalani masa penuaan dengan lebih percaya diri, penuh energi, dan tetap aktif secara seksual. Penuaan itu tak terelakkan, tapi merasa tua bukanlah kewajiban,” kata dia.