Saat Eksim Menyebabkan Depresi, Mana yang Harus Diobati Lebih Dulu?
Penyakit kulit seperti eksim bisa membuat pengidapnya menderita stres, bahkan berujung pada depresi.
Sebab, eksim dapat membuat kulit seseorang terasa sangat gatal sampai menggaruk pun tidak dapat ditahan. Padahal, menggaruk sebaiknya dihindari agar tidak memperparah kondisinya.
Perasaan gatal ekstrem itu bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat pengidapnya merasa lelah. Perasaan stres, bahkan depresi, akhirnya muncul.
Ketika eksim dan depresi terjadi pada waktu yang sama, mana yang harus diobati terlebih dulu?
“Tergantung. Kalau memang efek psikologisnya berat, maka yang harus ditangani adalah keduanya secara berbarengan,” jelas dr. Srie Prihianti G, Sp.DVE, Subsp.DA, PhD, FINSDV, FAADV, dalam “CeraVe Skin Chat: World Atopic Eczema Day 2024” di Wyl’s Kitchen Pakubuwono, Jakarta, Jumat (13/9/2024).
Ia menyebutkan, ada buku panduan yang dirilis oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI), dan Kelompok Studi Imunodermatologi dan Dermatosis Akibat Kerja (KSIDAK).
Buku yang ditujukan untuk dokter kulit itu bertajuk “Panduan Diagnosis dan Tata Laksana Dermatitis Atopik pada Anak dan Dewasa di Indonesia”.
Srie mengatakan, buku itu bisa membantu para dokter kulit dalam menangani kasus eksim. Salah satu yang dibahas juga mencakup dampak eksim pada psikologis pengidapnya.
Jika ada pasien yang mengidap eksim dan depresi pada waktu yang sama, dokter kulit perlu menyarankan pasien untuk turut konsultasi ke psikolog.
“Ada peran psikolog yang nantinya menjadi tempat curhat pasien, tempat pasien bercerita tentang bagaimana mereka mengatasi eksim dengan kondisinya,” kata dia.
Kondisi psikologis belum terlalu parah
Apabila kondisi psikologis belum terlalu parah sampai menyebabkan depresi, Srie menyarankan agar orangtua pasien aktif dalam membantu penanganan eksim.
Bahkan, kolaborasi antara kedua belah pihak itu disebut sebagai kunci penanganan eksim.
“Kolaborasi antara dokter dengan pasien, dan antara dokter dengan orangtua pasien, itu harus erat hubungannya,” ujar Srie.
Apabila pasien sudah memahami dan mengikuti anjuran dokter, tetapi orangtua tidak ingin ikut memahami dan terlibat dalam penanganan, penyembuhan bisa cukup sulit.
“Kalau orangtuanya tipe yang ‘enggak mau tahu, pokoknya eksimnya harus sembuh’, itu susah. Karena, kami tidak ada di situ (kediaman pasien) setiap hari. Kalau mereka mau mengerti apa saja yang harus dikerjakan, apa saja yang harus dihindari, hasilnya akan baik nantinya,” papar Srie.
Dengan kata lain, orangtua harus paham bahwa penyembuhan eksim tidak bisa terjadi secara instan dalam detik itu juga. Ada tahapan dan proses yang harus dilalui oleh pasien.