Saat Diet Mengendalikan Hidup: Kisah Perempuan yang Lepas dari Obsesi Hitung Kalori
Menghitung kalori sering dianggap sebagai cara efektif untuk menurunkan berat badan. Namun bagi sebagian orang, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi obsesi yang memengaruhi hubungan dengan makanan, kesehatan mental, hingga kualitas hidup sehari-hari.
Hal itulah yang dialami India Paine. Melansir Women's Health (1/6/2026), ia menceritakan bagaimana hidupnya pernah dikuasai angka kalori, makro nutrisi, dan timbangan sebelum akhirnya memutuskan berhenti menghitung semuanya.
Keputusan tersebut, menurut India, justru membantu memperbaiki energi, performa olahraga, kepercayaan diri, dan hubungannya dengan makanan.
Saat makanan tak lagi sekadar makanan
India mengisahkan salah satu momen yang paling membekas terjadi ketika ia sedang makan di sebuah restoran cepat saji.
Saat itu, ia hanya menatap sebungkus mayones sambil berusaha menahan tangis. Bukan karena rasa makanannya, melainkan karena ia terus menghitung apakah tambahan 20 gram mayones akan merusak target defisit kalorinya.
"Haruskah saya memakannya? Mungkin saya harus menimbang berat badan dulu? Kalau saya memakannya, apakah saya gagal?" tulis India.
Saat itu, hampir semua yang ia konsumsi harus dihitung dan dicatat. Susu dalam teh dan kopi ditimbang, makanan di luar rumah direncanakan terlebih dahulu, bahkan saus hanya boleh dikonsumsi jika sesuai dengan target makro nutrisi yang ia tetapkan.
Yang membuat situasi itu semakin sulit, India mengaku ia benar-benar percaya bahwa dirinya sedang menjalani gaya hidup sehat.
Ketika menghitung kalori mulai mengendalikan hidup
Ilustrasi diet. Perjalanan meninggalkan angka di timbangan dan aplikasi pencatat kalori ternyata membawa perubahan yang tidak ia duga sebelumnya.
Menurut ahli gizi terdaftar Lauren Charlton, yang fokus pada nutrisi olahraga dan pemulihan RED-S, menghitung kalori sebenarnya dapat menjadi alat yang bermanfaat dalam kondisi tertentu.
"Itu dapat membantu meningkatkan kesadaran terhadap asupan makanan, memahami kebutuhan energi, atau mendukung tujuan performa yang terstruktur," kata Charlton.
Namun, masalah muncul ketika proses pencatatan tidak lagi bersifat informatif, melainkan berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan kehidupan seseorang.
"Sering kali tandanya berupa aturan makan yang kaku, kecemasan ketika angka tidak tersedia, rasa bersalah setelah makan lebih banyak dari rencana, olahraga kompensasi, menarik diri dari situasi sosial yang melibatkan makanan, atau merasa tidak mampu mempercayai rasa lapar dan kenyang tanpa bantuan aplikasi atau perangkat," jelas Charlton.
India mengaku mengalami banyak tanda tersebut.
Ia kerap membatasi makan sepanjang hari jika akan makan malam di luar. Ia juga memilih menu dengan kalori paling rendah dan menambah sesi olahraga untuk membakar kalori lebih banyak.
Dampaknya tidak hanya pada berat badan
Semakin rendah kalori yang dikonsumsi, India justru merasa semakin sulit berlatih sesuai keinginannya.
Sesi olahraga yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi kewajiban yang melelahkan. Pada akhir hari, ia sering merasa kehabisan tenaga.
Charlton menjelaskan bahwa kekurangan energi dalam jangka panjang dapat memengaruhi performa fisik secara signifikan.
"Anda mungkin mengalami kelelahan berkepanjangan, pemulihan yang buruk, kualitas latihan yang menurun, cedera berulang, gangguan hormon, kualitas tidur yang buruk, lebih sering sakit, masalah pencernaan, atau terus merasa kedinginan," katanya.
Meski demikian, saat itu India masih percaya bahwa makan lebih sedikit dan berolahraga lebih keras adalah jalan untuk mendapatkan tubuh yang lebih ramping.
Memutuskan berhenti menghitung kalori
Titik balik terjadi setelah India menyelesaikan lomba lari ultramaraton 50 kilometer pada 2025.
Ia menyadari bahwa siklus diet, menghitung kalori, dan mengejar angka timbangan membuatnya kelelahan secara fisik maupun mental.
Karena itu, ia menjadikan tahun 2026 sebagai awal untuk berhenti menghitung kalori, makro nutrisi, dan berat badan.
Perjalanan tersebut tidak mudah.
Ia sempat khawatir akan kehilangan kendali terhadap makanan atau mengalami kenaikan berat badan yang besar.
Namun, menurut India, alternatifnya terasa lebih menakutkan: menjalani hidup yang terus dikendalikan oleh angka.
Apa yang berubah setelah berhenti?
India mengaku berat badannya bertambah sekitar 6 kilogram setelah tidak lagi melakukan pencatatan ketat.
Meski tubuhnya tidak seramping sebelumnya, ia merasa jauh lebih kuat dan sehat.
Ia mencatat peningkatan performa olahraga, mulai dari rekor lari 5 kilometer hingga kemampuan deadlift 120 kilogram dan squat 110 kilogram.
Selain itu, energi sehari-hari, kualitas tidur, suasana hati, dan kemampuan menghadapi stres juga membaik.
Charlton mengatakan bahwa ketika seseorang kembali memenuhi kebutuhan energinya setelah lama membatasi makan, salah satu perubahan pertama yang biasanya dirasakan adalah meningkatnya ketersediaan energi.
"Latihan terasa lebih berkelanjutan, pemulihan membaik, tidur sering kali menjadi lebih baik, dan banyak orang merasakan peningkatan suasana hati, konsentrasi, libido, serta ketahanan terhadap stres," ujarnya.
Kini, India tidak lagi menangis karena sebungkus mayones atau terus-menerus memikirkan angka di timbangan.
Ia menyadari bahwa kesehatan bukan hanya tentang penampilan fisik, melainkan juga kemampuan tubuh menjalani aktivitas sehari-hari.
"Berhenti menghitung kalori tidak langsung memperbaiki hubungan saya dengan makanan atau citra tubuh dalam semalam. Tetapi pola pikir baru ini memberi saya sesuatu yang sebelumnya tidak saya miliki, yaitu kebebasan," tulisnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang