Insentif Fiskal Disiapkan, Pemerintah Jaga Stabilitas Pariwisata Saat Avtur Mahal
Pemerintah terus berupaya menjaga keberlanjutan sektor pariwisata nasional di tengah tekanan kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur).
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan bahwa berbagai insentif fiskal telah disiapkan, mulai dari hulu hingga hilir, guna menahan dampak lonjakan biaya transportasi udara.
Dalam keterangannya di sela acara Dharma Santi Nyepi Kementerian Pariwisata di Bali, Ni Luh Puspa menyampaikan optimisme bahwa sektor pariwisata Indonesia tetap dapat terjaga meski menghadapi dinamika global.
“Kami punya optimisme bahwa pariwisata ini masih akan tetap terjaga,” ujarnya.
Dari sisi hulu, pemerintah memberikan insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen untuk tiket pesawat kelas ekonomi. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan harga tiket agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto juga telah menginstruksikan agar harga tiket pesawat dapat ditekan pada kisaran 9 hingga 13 persen.
Langkah ini menjadi bantalan penting di tengah penyesuaian fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar yang kini memiliki batas atas hingga 38 persen untuk seluruh jenis pesawat.
Kenaikan fuel surcharge yang signifikan
Kenaikan tersebut cukup signifikan dibandingkan sebelumnya, di mana batas fuel surcharge hanya sebesar 10 persen untuk pesawat jet dan 25 persen untuk pesawat baling-baling (propeller).
Penyesuaian ini tidak terhindarkan akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah.
Ni Luh Puspa menekankan pentingnya keseimbangan antara kepentingan maskapai dan masyarakat.
“Harapannya semua bisa win-win solution, maskapai tidak merugi, masyarakat juga tetap bisa bepergian meski harga tiket mengalami kenaikan yang terkontrol,” katanya.
Upaya di sisi hilir
Sementara itu, dari sisi hilir, Kementerian Pariwisata aktif berkoordinasi dengan pelaku industri untuk menghadirkan berbagai paket wisata menarik.
Strategi yang dilakukan antara lain bundling produk wisata, mulai dari tarif hotel hingga paket atraksi dengan harga khusus guna meningkatkan minat wisatawan.
Pulau Bali kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional setelah berhasil menempati peringkat ketiga dalam daftar 25 Pulau Favorit di Dunia Tahun 2025 versi majalah perjalanan terkemuka, Travel and Leisure.
Tak hanya itu, pemerintah juga mengantisipasi kemungkinan pergeseran moda transportasi dari udara ke darat. Untuk itu, konektivitas infrastruktur jalan terus diperkuat, terutama di jalur-jalur utama seperti lintas Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis minat masyarakat untuk berwisata tetap terjaga, khususnya menjelang periode libur sekolah yang biasanya menjadi momentum peningkatan pergerakan wisatawan.
Sebagai catatan, harga minyak dunia saat ini masih berada pada level tinggi, sempat menyentuh kisaran 100 dollar AS per barel.
Angka ini melampaui asumsi makro dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel, meski pergerakannya kini cenderung fluktuatif.
Melalui kombinasi kebijakan fiskal dan strategi industri, pemerintah berharap sektor pariwisata tetap menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional di tengah tantangan global yang dinamis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang