Timor-Leste Masih (Nyaman) Pakai Mata Uang Dollar AS
Timor-Leste, negara termuda di Asia, resmi menjadi anggota ke-11 ASEAN. Hal ini menandai tonggak sejarah bagi bekas koloni Portugis yang meraih kemerdekaan penuh pada 2002 setelah sebelumnya bernama Timor Timur dan menjadi provinsi ke-27 Indonesia.
Dengan populasi 1,4 juta jiwa, PDB Timor-Leste sebesar US$2 miliar (Rp32 triliun), hanya mewakili sebagian kecil dari total PDB ASEAN yang mencapai US$3,8 triliun (Rp63.213 triliun).
Setelah memisahkan diri dari Indonesia pada 1999, Timor-Leste secara resmi mengadopsi dollar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang resmi satu tahun kemudian. Pilihan ini tidak lepas dari dinamika politik dan ekonomi yang melingkupi masa transisi.
Usai Timor-Leste merdeka pada 20 Mei 2002, negara yang berbatasan dengan Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia, ini menjadi negara yang belum punya mata uang sendiri.
Karena itulah, mereka memakai dollar AS yang didasarkan pada karakteristik mata uang ini yang dianggap stabil, kuat, dan diterima secara luas di seluruh dunia.
Dengan mata uang ini, diharapkan pula terciptanya kepercayaan di mata investor dan dunia perdagangan internasional.
Selain itu, kebutuhan untuk menyelamatkan negara dari ketidakstabilan politik dan ekonomi jadi alasan mengapa dollar AS dipilih Timor-Leste.
Keputusan ini lantas disetujui oleh National Consultative Council (NCC), badan transisi yang memiliki kemiripan peran dan tugas dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Indonesia.
Maka, sejak 2000, uang dollar AS dipasok ke Timor-Leste dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Penggunaan dollar AS pada awalnya hanya diproyeksikan selama dua hingga tahun setelah Timor-Leste merdeka dari Indonesia. Hanya saja, hal itu masih berlaku hingga sekarang.
Sebagai informasi, Timor-Leste resmi bergabung menjadi anggota ke-11 Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) di Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka harus menunggu sekitar 14 tahun untuk menjadi anggota ASEAN.
Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao mengatakan bergabungnya Timor Leste dengan ASEAN merupakan awal dari perjalanan panjang negaranya.
"Ini bukan hanya mimpi yang terwujud, tetapi juga penegasan kuat atas perjalanan kita, yang ditandai dengan ketangguhan, tekad, dan harapan. Ini bukan akhir dari perjalanan kita. Ini adalah awal dari babak baru yang menginspirasi," ujarnya, seperti dikutip dari situs DW.