Dibongkar Nina Saleha, Banyak Aduan Soal Kehilangan Bayi di RSHS Bandung

Heboh Bayi Nyaris Hilang di RSHS Bandung, Ibu Temukan Anaknya di Gendongan Orang Tak Dikenal
Heboh Bayi Nyaris Hilang di RSHS Bandung, Ibu Temukan Anaknya di Gendongan Orang Tak Dikenal

 Kasus yang dialami Nina Saleha mendadak menyita perhatian publik setelah ia mengungkap pengalaman traumatis terkait bayinya di RSUP dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran tentang prosedur keamanan rumah sakit, tetapi juga membuka dugaan adanya kasus serupa yang terjadi di masa lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kisah Nina Saleha mendadak bikin publik merinding. Bukan hanya soal bayinya yang nyaris hilang, tapi juga deretan pesan masuk yang mengungkap dugaan kasus kehilangan bayi serupa di rumah sakit yang sama. Trauma yang belum pulih, kini justru semakin dalam setelah fakta-fakta baru bermunculan.

Perempuan berusia 27 tahun tersebut menjadi sorotan setelah membagikan pengalamannya yang terjadi pada April 2026. Ia mengaku bayinya hampir tertukar atau bahkan dibawa oleh orang lain akibat dugaan kelalaian dalam penanganan identitas pasien bayi. 

Salah satu hal yang disorot adalah gelang identitas bayi yang seharusnya menjadi penanda utama, namun justru disebut sempat digunting dan berpindah tangan.

Akibat kekeliruan tersebut, situasi sempat menjadi menegangkan ketika bayinya hampir dibawa pulang oleh pihak yang bukan keluarganya. Nina pun berusaha mempertahankan bayinya di tengah kebingungan yang terjadi di ruang perawatan.

Kisah ini kemudian diungkap lebih jauh dalam podcast Curhat Bang Densu. Dalam perbincangan tersebut, turut hadir kuasa hukum Nina, Ibu Mira, yang menjelaskan kronologi sekaligus kondisi psikologis kliennya pascakejadian.

"Tapi pasti kan ada pemikiran sendiri ya, pasti ada kecurigaan ya gitu ya?” tanya Denny Sumargo, dikutip Kamis 16 April 2026.

Ibu Mira menjelaskan alasan dirinya turun tangan untuk mendampingi Nina dalam kasus ini.

“Sebelumnya saya perhatikan kasus ini kok viral ya gitu. Terus menarik sekali dia bikin videonya itu spontan, Bang. Spontan dan ini polos gitu. Berarti ini ada sesuatu yang dia enggak bohong, enggak fitnah kan. Yang dia ceritakan itu yang dia alami di situ, gitu. Akhirnya saya ke sana," jelasnya.

Kondisi mental Nina setelah kejadian disebut sangat terguncang. Ia mengalami kesulitan tidur, kehilangan nafsu makan, hingga mengalami tekanan psikologis berat.

“Nah, kondisinya pada hari Sabtu beda dengan waktu dia speak up, Bang. Pada saat itu dia diam betul-betul kayak orang syok ya waktu itu. Terus saya bilang, ‘Kenapa? Kenapa?’ Ada mertuanya, ada suaminya, ada saudara. Saya tanya, ‘Oh, dia enggak bisa tidur, dia enggak bisa makan karena peristiwa itu,’ Bang, gitu," katanya.

Denny Sumargo  kemudian menegaskan dampak mental yang dialami oleh Nina.

“Oh, jadi secara mental ini kamu sempat terganggu ya. Kenapa waktu itu sempat terganggu secara mental?” tanya Densu.

Ibu Mira menambahkan bahwa Nina masih mengalami trauma berkepanjangan. Ia kerap dihantui kilas balik kejadian tersebut, bahkan hingga mengganggu kesehatannya.

“Jadi masih flashback-nya gitu, Bang. Tiap malam dia enggak yakin kok bisa begini. Ini anak enggak yakin, itu kayak mimpi dia bisa ngerebut anaknya sampai-sampai datang sampai rumah gitu. Akhirnya hari Sabtu dia ke dokter dan dinyatakan GERD gitu," jelas Ibu Mira.

Perasaan kehilangan pun terus membayangi Nina, terutama saat membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada bayinya.

“Sedih atuh. Ya kan kalau misalkan enggak ketemu kan anak saya gitu kan. Enggak kebayang gitu anak saya hilang, Pak. Enggak ketemu sampai sekarang.” ungkap Nina.

Situasi semakin berkembang setelah Nina menerima banyak pesan langsung di media sosial. Pesan-pesan tersebut berisi pengakuan dari berbagai pihak yang mengaku pernah mengalami atau mengetahui kasus kehilangan bayi di rumah sakit yang sama.

“Nah, di situ dia mulai berpikir mungkin saya belum puas, saya masih pengin tahu ada apa dengan itu. Ditambah ya setelah dia speak up, DM banyak ke dia dan ke saya juga ada,” jelas Ibu Mira.

“Isinya ya banyak sekali persoalan tentang bayi di rumah sakit itu di masa-masa lalu. Bahkan ada yang tahun 82 pun menyatakan bahwa ada saudaranya yang kehilangan bayi di situ dan tidak tertelusur,” lanjut Ibu Mira.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Merasa dirugikan dan mengalami trauma mendalam, Nina akhirnya mengambil langkah hukum dengan melayangkan somasi kepada pihak rumah sakit pada 13 April 2026. Ia juga meminta agar rekaman kamera pengawas dibuka untuk mengungkap identitas pihak yang diduga hampir membawa bayinya.

Kasus ini kini menjadi perhatian luas masyarakat, sekaligus memicu tuntutan transparansi dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan serta prosedur identifikasi bayi di fasilitas kesehatan.