Hijrah Digital dan Influencer Agama Disebut Harus Diiringi Kedalaman Ilmu

Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus pakar antropologi agama, Imam Subchi (kanan)
Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus pakar antropologi agama, Imam Subchi (kanan)

Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus pakar antropologi agama, Imam Subchi, mengatakan media sosial kini tidak hanya menjadi sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga ruang baru belajar agama.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Hari ini media sosial sudah menjadi ruang baru belajar agama. Anak muda mengaji lewat YouTube, TikTok, Instagram, podcast, hingga komunitas digital. Ini realitas sosial yang tidak bisa dihindari,” ujar Prof Imam Subchi di Jakarta, Kamis 21 Mei 2026.

Menurutnya, fenomena tersebut terlihat dari berbagai riset yang menunjukkan tingginya aktivitas keagamaan di ruang digital. Survei Indonesia Millennials and Gen Z Report 2026 dari IDN Research mencatat sekitar 65 persen generasi milenial dan Gen Z mengakses konten spiritual atau keagamaan setiap minggu melalui YouTube dan media sosial.

"Survei Indonesia Millennials and Gen Z Report 2026 dari IDN Research mencatat sekitar 65 persen generasi milenial dan Gen Z mengakses konten spiritual atau keagamaan setiap minggu," tutur dia.

Sementara itu, laporan We Are Social 2025 menunjukkan jumlah pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai sekitar 143 juta akun pengguna, bahkan lebih dari 207 juta penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial.

Menurut Imam, kondisi tersebut membuat otoritas agama ikut mengalami perubahan besar. Jika dulu masyarakat belajar agama melalui pesantren, majelis taklim, atau institusi pendidikan formal, kini banyak orang lebih mudah menjadikan influencer media sosial sebagai rujukan utama.

“Sekarang seseorang bisa dianggap ahli agama karena viral, sering muncul di FYP, atau punya jutaan followers. Padahal otoritas agama seharusnya dibangun dari proses belajar yang panjang, kedalaman ilmu, dan tanggung jawab moral,” katanya.

Ia menjelaskan budaya media sosial yang cepat dan serba singkat membuat masyarakat lebih menyukai potongan video pendek dibanding penjelasan agama yang utuh dan mendalam. Akibatnya, persoalan agama yang kompleks kerap dipahami secara instan.

"Jangan sampai agama hanya menjadi konten dan simbol visual semata. Hijrah bukan sekadar perubahan penampilan atau unggahan media sosial, tetapi juga perubahan akhlak, cara berpikir, dan kepedulian sosial,” ujarnya.

Imam menilai media sosial sebenarnya membuka peluang besar bagi dakwah dan penyebaran pengetahuan agama yang lebih luas. Namun di sisi lain, algoritma media sosial juga berisiko mendorong munculnya konten agama yang sensasional, emosional, bahkan memecah belah karena lebih mudah viral.

Dengan demikian, dirinya menekankan pentingnya literasi digital keagamaan agar masyarakat tidak mudah menjadikan popularitas sebagai ukuran utama otoritas agama.

“Tidak semua yang viral memiliki dasar ilmu yang kuat. Masyarakat harus kritis dalam memilih sumber belajar agama dan tidak mudah menerima potongan ceramah tanpa memahami konteksnya,” tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Imam menegaskan, sebagai perguruan tinggi Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memiliki tanggung jawab menghadirkan narasi keagamaan yang moderat, terbuka, dan relevan dengan generasi digital.

“Kampus Islam harus hadir di ruang digital dengan pendekatan yang mencerahkan, mudah dipahami, tetapi tetap memiliki kedalaman ilmu. Ruang digital tidak boleh hanya dipenuhi logika viralitas,” katanya.