Warga Lokal Terusik Lonjakan Turis, Jepang Batalkan Festival Sakura Berlatar Gunung Fuji

Gunung Fujiyama, Jepang.
Gunung Fujiyama, Jepang.

Festival bunga sakura yang menyuguhkan panorama ikonik Gunung Fuji resmi dibatalkan setelah warga setempat mengeluhkan lonjakan pariwisata yang kian tak terkendali, dipicu melemahnya nilai tukar yen Jepang.

Pemerintah Kota Fujiyoshida di Prefektur Yamanashi, Jepang tengah, pada Selasa, 3 Februari 2026, mengumumkan pembatalan acara tahunan yang biasanya berlangsung selama beberapa pekan dan menarik sekitar 200.000 pengunjung. Alasan utamanya, menurut otoritas setempat, karena "kehidupan tenang penduduk lokal terancam".

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jepang sendiri mencatat rekor kunjungan wisatawan pada 2025 dengan sekitar 42,7 juta pelancong asing, melampaui capaian 2024 yang hampir menyentuh 37 juta orang. Melemahnya yen membuat Negeri Sakura kian diminati sebagai destinasi wisata impian.

Namun, ledakan jumlah wisatawan juga memicu keluhan di berbagai lokasi populer. Di Kyoto, misalnya, pengunjung dituding mengganggu penari geisha demi berfoto. Situasi serupa terjadi di Fujiyoshida, di mana arus wisatawan asing menyebabkan kemacetan kronis, sampah puntung rokok berserakan, hingga laporan pelanggaran privasi warga—bahkan ada kasus buang air besar di kebun pribadi.

"Di balik pemandangan indah (Gunung Fuji) terdapat kenyataan bahwa kehidupan tenang warga terancam. Kami merasakan krisis yang kuat," ujar Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi, dalam pernyataannya. "Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga kami, kami telah memutuskan untuk mengakhiri festival yang telah berlangsung selama 10 tahun ini."

Meski festival resmi dibatalkan, pemerintah kota mengakui kawasan taman yang menghadap Gunung Fuji—lengkap dengan deretan pohon sakura dan pagoda lima lantai—tetap berpotensi dipadati pengunjung saat musim semi tiba. Gunung Fuji sendiri selama ini dikenal sebagai magnet wisata yang tak pernah sepi.

Untuk mengendalikan arus wisatawan, sejumlah kota di sekitar Fuji sebelumnya telah menerapkan berbagai langkah, mulai dari membangun penghalang pandangan guna menghalangi spot foto populer, mengenakan biaya masuk bagi pendaki, hingga membatasi jumlah pengunjung harian.