Mr Crack dan Mr Clean, 2 Penggawa Rupiah saat Krismon 1998

Mata uang Rupiah.
Mata uang Rupiah.

Mata uang Rupiah mengalami perjalanan panjang dan penuh gejolak sejak krisis moneter atau krismon 1998, di mana saat itu Rupiah anjlok dari Rp2.400 ke Rp16.000 per dolar AS.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Krisis yang dipicu pelepasan kurs tetap dan instabilitas politik itu memaksa Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga tajam dan melakukan intervensi pasar, meski efeknya terbatas.

Setelah melewati masa pemulihan pada 2000-an, BI mulai menerapkan kebijakan inflation targeting dan sistem floating exchange rate yang terkendali.

Namun, ada dua pengawal Rupiah saat krismon 1998. Mereka adalah BJ Habibie, yang dijuluki Mr Crack, dan Mar'ie Muhammad, bergelar Mr Clean.

Data VIVA menyebutkan bahwa BJ Habibie dan Mar'ie Muhammad adalah dua tokoh penting Indonesia yang dikenal karena profesionalisme, integritas, dan pengabdian luar biasa kepada negara. Keduanya kerap berinteraksi sebagai menteri di masa pemerintahan Orde Baru (Orba).

BJ Habibie (Presiden ke-3 RI, Bapak Teknologi, dan Mr Crack)

Presiden ke-3 RI BJ Habibie

Ia adalah teknokrat dan ahli dirgantara yang menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) selama puluhan tahun, serta Presiden ke-3 Republik Indonesia.

Pak Habibie, kerap dirinya biasa disapa, dikenal secara internasional sebagai Mr Crack karena menemukan teori kerambatan retak (Crack Progression Theory) di dunia aviasi atau penerbangan.

Pada awal 1997, nilai tukar Rupiah masih stabil di sekitar Rp2.380 per dolar AS. Namun, dampak krisis keuangan Asia mulai mengguncang ekonomi Indonesia. Pada Januari 1998, Rupiah menembus angka Rp9.000, Rp10.000, dan Rp11.000 dalam satu hari.

Puncaknya terjadi setelah lengsernya Presiden Soeharto, lalu diganti olehnya pada 21 Mei 1998. Pada 16 Juni, Rupiah mencapai titik terlemahnya di Rp16.800 per dolar AS.

Presiden ke-3 Republik Indonesia tersebut diakui sejarah memiliki 'tangan dingin' yang berhasil menyelamatkan Indonesia dari lubang jarum krisis moneter kelam 28 tahun silam.

Saat itu, BJ Habibie memilih menyelamatkan ekonomi rakyat dibanding mempertahankan ambisi besar industri dirgantara nasional yakni Proyek N250 Gatot Kaca.

Mr Crack bukanlah seorang ekonom atau lulusan keuangan, melainkan seorang insinyur pembuat pesawat terbang. Namun, keterbatasan latar belakang itu justru menjadi senjata utamanya.

Lewat pendekatan ilmiah yang tak biasa, sang pakar dirgantara ini berhasil menjinakkan badai ekonomi makro tersebut hanya dalam kurun waktu 17 bulan.

Alhasil, 4 paket kebijakan BJ Habibie berhasil meredam dolar AS. Keempatnya adalah independensi mutlak Bank Indonesia (BI), restrukturisasi perbankan, kebijakan suku bunga tinggi (rem likuiditas), dan jaring pengaman sosial untuk rakyat kecil.

Empat paket kebijakan BJ Habibie tersebut tercatat sebagai salah satu pemulihan ekonomi tercepat dalam sejarah krisis dunia.

Pada kuartal I 1998, inflasi Indonesia sempat menggila di angka 78 persen, namun, pada akhir masa jabatannya di 1999, inflasi berhasil ditekan secara drastis hingga menyentuh level 2 persen.

Rupiah yang sempat menyentuh rekor terburuk sepanjang sejarah di level Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998, berhasil dipukul mundur hingga menguat tajam ke level Rp6.500 per dolar AS pada akhir 1999.

Mar'ie Muhammad (Menteri Keuangan 1993-1998, Mr Clean)

Mantan Menteri Keuangan Marie Muhammad

Mantan Menteri Keuangan Marie Muhammad

Ia adalah Menteri Keuangan dalam Kabinet Pembangunan VI (1993–1998) dan tokoh utama di dunia kemanusiaan. Ketika krismon 1997-1998 menghantam Indonesia, Mar’ie Muhammad berada di garis depan.

Pada November 1997, ia mengambil keputusan ekstrem. Menutup 16 bank bermasalah, termasuk bank yang terkait kelompok kuat di lingkaran kekuasaan. Keputusan itu berisiko besar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun ia memilih menjaga integritas negara, bukan menjaga kenyamanan jabatan. Saking lurus dan jujurnya, Mar'ie Muhammad mendapat julukan Mr Clean.

Artinya, karena perjuangannya memberantas korupsi di lingkungan Kemenkeu (Kementerian Keuangan). Di samping itu, ia juga berupaya meningkatkan efisiensi dan berusaha membersihkan institusi dari pegawai negeri sipil (PNS) yang korup.