Petani Pakai Drone hingga Lab Mikroba, Begini Wajah Baru Pertanian Organik
Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis regenerasi petani, sebuah komunitas pertanian organik di Mojokerto, Jawa Timur, justru menunjukkan wajah baru sektor pertanian yang lebih modern dan bernilai ekonomi tinggi.
Komunitas bernama Brenjonk itu tidak hanya mengandalkan cara tradisional, tetapi juga mulai memanfaatkan teknologi seperti drone pertanian hingga laboratorium mikroba untuk menjaga kualitas produksi organik mereka.
Komunitas yang berdiri sejak 2007 tersebut kini beranggotakan 109 orang, dengan mayoritas merupakan ibu rumah tangga dan sebagian lainnya anak muda serta pensiunan yang memiliki minat pada pertanian organik. Pembina Brenjonk, Slamet, mengatakan komunitas ini dibangun bukan sekadar kelompok tani biasa, melainkan gerakan bersama yang fokus pada kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.
“Jadi bukan poktan seperti biasanya, tapi komunitas organik. Jadi perkumpulan orang-orang yang suka berorganik,” kata Slamet, di Mojokerto, Jawa Timur.
Brenjonk sendiri mengembangkan pertanian organik dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya, pascapanen, pemasaran, hingga edukasi. Produk mereka kini sudah masuk pasar premium, salah satunya seperti di Superindo di Jawa Timur.
Pembina komunitas petani organik Brenjonk, Slamet
Slamet mengatakan keberhasilan masuk ke pasar modern menjadi kebanggaan tersendiri bagi petani kecil yang selama ini kesulitan menembus pasar premium.
“Kalau sudah seperti itu maka bisa di pasar premium, itu di rak-rak organik. Mimpi kita itu. Jadi produknya ibu-ibu itu sejajar dengan produknya almarhum Bob Sadino,” ujarnya.
Dalam sebulan, komunitas ini mampu mengirim 2-3 ton produk organik, mulai dari sayuran, buah, hingga beras organik. Saat panen raya, pengiriman beras bahkan bisa mencapai 5-10 ton.
Tak hanya mengandalkan pola konvensional, Brenjonk juga mulai memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi. Salah satunya penggunaan drone pertanian yang dipakai untuk menyemprotkan agensia hayati atau mikroba alami ke lahan pertanian.
“Nah itu kita gunakan untuk aktivitas sosial. Jadi kalau waktunya kita drone, kita drone spray jadi untuk aplikasi agensia hayati,” kata Slamet.
Selain drone, komunitas ini juga memiliki laboratorium kecil untuk memperbanyak mikroba atau agensia hayati yang berfungsi menjaga kesuburan tanah secara alami. Menurut Slamet, pendekatan ini menjadi cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan bahan kimia sintetis yang selama puluhan tahun dinilai merusak ekosistem tanah.
“Kita punya satu unit lab kecil itu untuk perbanyakan mikroba. Namanya agensia hayati. Bahwa di dalam tanah kita itu ada miliaran mikroba yang sebenarnya manfaatnya sangat luar biasa,” ujarnya.
Mikroba tersebut digunakan untuk menjaga stabilitas biologi tanah, membantu penguraian unsur hara, hingga memperkaya ekosistem tanah agar tetap produktif. Brenjonk bahkan mulai mengembangkan sistem pertanian yang memperhatikan perlindungan sumber air sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim.
Di sisi lain, pertanian organik juga mulai menciptakan efek ekonomi baru di kawasan tersebut. Saat pandemi COVID-19 melanda, Brenjonk mengembangkan taman refugia yang dipenuhi bunga kenikir untuk menarik predator alami hama sekaligus menjadi destinasi wisata.
Dari satu warung kecil, kini telah berkembang menjadi 13 usaha kuliner di kawasan pertanian organik tersebut. Dalam sebulan, sekitar 8.500 pengunjung datang ke area itu dan menciptakan perputaran uang ratusan juta rupiah.
“Satu bulan 8.500 orang yang cangkrukan ke sini. Ada sedikit uang berputar untuk mereka,” kata Slamet.
Meski demikian, tantangan sektor pertanian masih besar, terutama terkait iklim ekstrem dan minimnya regenerasi petani muda. Slamet mengakui profesi petani saat ini belum cukup menarik bagi generasi muda. Karena itu, Brenjong mencoba membangun model pertanian modern yang terintegrasi dengan wisata dan kuliner agar sektor ini lebih menjanjikan secara ekonomi.
“Pertanian itu enggak sama sekali seksi untuk mereka (anak muda),” ujarnya.
Selama 18 tahun berjalan, Brenjonk juga telah menerima sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan penanggulangan kemiskinan tingkat Jawa Timur pada 2021 serta Kalpataru pada 2024.
Pengembangan komunitas ini turut mendapat dukungan dari Bank Indonesia sejak 2018, mulai dari penguatan sumber daya manusia, sekolah lapang pertanian organik, pembangunan akses jalan, hingga bantuan satu unit drone pertanian untuk mendukung aktivitas budidaya organik dan edukasi masyarakat.