Belasan Tembakan Pecah Saat Upaya Penangkapan Mantan Kepala Polisi Filipina
Lebih dari belasan tembakan terdengar di Gedung Senat Filipina menyusul dengan tindakan polisi dan marinir Filipina untuk menangkap Senator yang juga mantan kepala polisi era Presiden Rodrigo Duterte, Ronald dela Rosa. Pria tersebut diketahui diburu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
“Sekitar 15 tembakan dilepaskan dan kami (wartawan) terpaksa mundur,” kata jurnalis Al Jazeera, Jamela Alindogan dikutip dari laman Al Jazeera, Kamis 15 Mei 2026.
Ia menambahkan bahwa pasukan keamanan kemudian memerintahkan seluruh orang di dalam gedung untuk dievakuasi pada Rabu malam waktu setempat. Hingga kini belum diketahui siapa yang melepaskan tembakan tersebut.
Sebelumnya, Senator Filipina Ronald dela Rosa mengaku sudah memperkirakan dirinya akan ditangkap. Ia bahkan meminta masyarakat datang ke gedung parlemen untuk mencegah dirinya ditahan dan dibawa ke ICC.
“Saya memohon kepada kalian. Saya harap kalian bisa membantu saya. Jangan biarkan ada lagi warga Filipina yang dibawa ke Den Haag,” kata dela Rosa dalam video yang diunggah di Facebook pada Rabu.
Tak lama setelah pesan itu disampaikan, aparat penegak hukum mulai berkumpul di luar gedung Senat.
Mantan kepala kepolisian Filipina itu merupakan pelaksana utama kebijakan perang melawan narkoba era mantan Presiden Rodrigo Duterte. Pada Selasa, dela Rosa meminta Presiden Ferdinand Marcos Jr agar tidak menyerahkannya ke ICC. Ia menegaskan siap menghadapi proses hukum di Filipina.
Lantaran takut ditangkap, dela Rosa memilih bertahan di kantornya di gedung legislatif. Ia mengaku selama ini telah mengabdi dengan setia kepada negaranya.
ICC pada Senin membuka surat perintah penangkapan terhadap dela Rosa yang sebenarnya sudah diterbitkan sejak November lalu. Ia diduga terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan, tuduhan yang sama dengan yang menjerat Duterte. Mantan presiden berusia 81 tahun yang kini menunggu persidangan di Den Haag setelah ditangkap tahun lalu.
“Saya Bekerja dengan Setia”
Dela Rosa, yang lebih dikenal dengan julukan “Bato” atau “batu”, berada di bawah perlindungan Senat sejak aparat masuk ke gedung parlemen pada Senin. Saat itu ia kembali muncul di publik untuk pertama kalinya sejak November. Ia membantah terlibat dalam pembunuhan ilegal.
“Saya berharap sebagai bapak bangsa, Anda akan melindungi seluruh rakyat Filipina. Itulah tugas pemerintah, menjaga rakyatnya. Saya melakukan semuanya untuk negara. Saya tidak memperkaya diri sendiri. Saya bekerja dengan setia. Tuan Presiden, suatu hari Anda mungkin akan menghadapi situasi seperti ini. Anda juga bisa mengalami masalah, dan saat itu Anda akan mengerti apa yang saya rasakan sekarang,” ujar dela Rosa kepada wartawan saat ditanya pesannya untuk Presiden Marcos.
Dela Rosa dikenal sebagai tangan kanan Duterte dan memimpin operasi pemberantasan narkoba besar-besaran. Polisi menyebut lebih dari 6.000 tersangka pengedar narkoba tewas dalam operasi resmi.
Menurut Alindogan, para sekutu Duterte merasa diri mereka kebal dari pertanggungjawaban hukum. Mereka juga menolak mengakui kewenangan hukum internasional dan membantah tuduhan yang diarahkan kepada mereka.
Jurnalis Al Jazeera itu menambahkan, meski insiden kekerasan bukan hal asing di Manila, bentrokan bersenjata di gedung lembaga hukum tetap dianggap tidak biasa karena tempat tersebut seharusnya menjunjung ketertiban dan etika.
Selain operasi resmi polisi, ribuan pengguna narkoba juga tewas ditembak di kawasan permukiman kumuh. Banyak kasus disebut dilakukan kelompok main hakim sendiri atau dipicu konflik antarwilayah.
Polisi Filipina sendiri mengklaim para korban tewas karena melawan saat hendak ditangkap. Mereka juga membantah adanya pembunuhan sistematis maupun upaya menutupi kasus.
“Perang melawan narkoba” menjadi senjata utama Duterte saat memenangkan pemilu 2016. Ketika masih menjabat wali kota, ia dikenal dengan gaya bicara keras dan berulang kali berjanji akan membunuh ribuan pengedar narkoba. Bahkan dalam pidato publik yang disiarkan televisi, Duterte kerap menantang ICC untuk mengejarnya.
Tim kuasa hukum Duterte di ICC menyatakan mantan presiden itu tidak bersalah. Mereka juga menyebut pernyataan keras Duterte selama ini hanya bertujuan menakut-nakuti para pelaku kejahatan.