Bukan Lagi K-Beauty, Tren Kecantikan Dunia Kini Diam-diam Bergeser ke Polandia

ilustrasi makeup plum girl spring
ilustrasi makeup plum girl spring

 Selama bertahun-tahun, dunia kecantikan global seolah didominasi dua kutub besar: skincare Korea dengan rutinitas berlapis dan estetika minimalis khas Skandinavia. Namun belakangan, perhatian mulai bergeser ke arah yang tak banyak diprediksi sebelumnya — Polandia.

Negara di Eropa Timur itu kini mulai mencuri perhatian industri kecantikan internasional lewat pendekatan yang berbeda. Jika banyak brand mengandalkan kemasan estetik atau tren viral media sosial, kecantikan ala Polandia justru menonjolkan formulasi berbasis sains dan pendekatan farmasi yang serius. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi pengamat industri kecantikan, fenomena ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Polandia memiliki sejarah panjang dalam dunia kosmetik modern. Dua nama legendaris seperti Max Factor dan Helena Rubinstein sama-sama berasal dari Polandia dan dikenal sebagai tokoh yang ikut membentuk industri kecantikan global.

Kini, warisan tersebut seperti menemukan bentuk baru lewat munculnya sejumlah merek kosmetik Polandia yang mengusung pendekatan klinis dan berbasis riset.

Berbeda dengan tren kecantikan yang sering menjual “keajaiban instan”, banyak brand Polandia justru fokus pada efektivitas bahan aktif dan pengembangan formula di laboratorium. Pendekatan ini dianggap lebih sesuai dengan konsumen modern yang kini semakin kritis terhadap kandungan produk skincare maupun makeup.

Salah satu nama yang cukup dikenal adalah Dr Irena Eris, brand yang kerap disebut sebagai simbol skincare berbasis penelitian ilmiah di Polandia. Selain itu ada Farmona yang memadukan pendekatan botani dengan teknologi laboratorium, hingga Resibo yang populer lewat konsep “modern natural skincare”.

Menariknya, fokus industri kecantikan Polandia tidak berhenti di skincare wajah. Perawatan kuku dan kaki juga menjadi perhatian serius. Dalam dunia nail art profesional, Victoria Vynn termasuk salah satu nama yang cukup dikenal di belakang panggung fashion show internasional karena kualitas produknya yang dianggap presisi dan tahan lama.

Sementara di kategori makeup profesional, Inglot menjadi salah satu brand Polandia yang sudah lebih dulu memiliki pengaruh global. Produk seperti Duraline bahkan dikenal luas di kalangan makeup artist karena mampu mengubah tekstur kosmetik menjadi lebih fleksibel dan tahan air.

Tak hanya skincare dan makeup, sektor parfum niche Polandia juga mulai mendapat tempat tersendiri. Bohoboco, misalnya, dikenal lewat aroma-aroma unik yang memadukan karakter manis dan tajam dalam kemasan minimalis.

Perkembangan industri ini semakin terlihat dalam ajang Beauty Forum Warsawa 2026 yang digelar awal Maret 2026 lalu. Acara tersebut kini berkembang menjadi salah satu pusat pertemuan industri kecantikan Eropa dengan ratusan peserta dari berbagai negara.

Menurut Roberto Valente, industri kosmetik Polandia saat ini berkembang sangat cepat dan mulai diperhitungkan secara internasional.

“Dalam beberapa tahun terakhir, Polandia telah mencatat kemajuan signifikan di berbagai sektor, termasuk industri kosmetik. Saat ini, Polandia merupakan produsen kosmetik terbesar kelima di Eropa — keenam jika Inggris dimasukkan — dan kualitas produknya sangat tinggi. Banyak merek dibangun di atas landasan ilmiah yang kokoh dan berfokus pada segmen khusus seperti kosmetik profesional dan spa,” ujar Roberto dalam keterangannya, dikutip Kamis 7 Mei 2026.

Ia juga menilai kekuatan brand Polandia ada pada kombinasi kualitas tinggi dan harga yang relatif lebih terjangkau dibanding banyak brand premium Eropa lainnya.

Di sisi lain, tren ini juga mencerminkan perubahan perilaku konsumen global. Banyak orang kini mulai mencari produk kecantikan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga transparan soal kandungan dan benar-benar bekerja sesuai klaim.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seperti dikatakan Elisa Ferraro, konsumen modern kini jauh lebih selektif.

“Konsumen saat ini sangat menuntut. Kami mengharapkan keefektifan tanpa mengorbankan estetika. Kami menginginkan transparansi penuh terkait bahan-bahan dan klaim produk, sekaligus formula yang disesuaikan dengan jenis dan fungsi kulit tertentu. Dengan kata lain — pendekatan berbasis sains," pungkasnya.